Ilustrasi - BMKG menyampaikan, sebanyak 18 wilayah termasuk seluruh Pulau Jawa siaga adanya potensi angin kencang hingga 11 Juni 2026 mendatang. (Foto: Pixabay).
JAKARTA, (ERAKINI) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait potensi cuaca ekstrem yang masih berpeluang terjadi di berbagai wilayah Indonesia pada periode 8–11 Juni 2026. Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman angin kencang, hujan lebat, petir, hingga potensi bencana hidrometeorologi yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.
Berdasarkan prakiraan terbaru BMKG, terdapat 18 wilayah yang berpotensi mengalami angin kencang dalam beberapa hari ke depan. Daerah-daerah tersebut meliputi:
1. Aceh,
2. Kepulauan Bangka Belitung,
3. Lampung,
4. Banten,
5. Jawa Barat,
6. Jawa Tengah,
7. Jawa Timur,
8. Daerah Istimewa Yogyakarta,
9. Kalimantan Barat,
10. Kalimantan Tengah,
11. Kalimantan Selatan,
12. Sulawesi Utara,
13. Sulawesi Selatan,
14. Nusa Tenggara Barat,
15. Maluku,
16. Papua Barat,
17, Papua Barat Daya,
18. Papua Selatan.
Selain ancaman angin kencang, BMKG juga mengingatkan adanya potensi hujan lebat hingga sangat lebat yang dapat disertai kilat atau petir di sejumlah wilayah. Untuk kategori siaga, Papua Pegunungan menjadi daerah yang perlu mendapat perhatian khusus karena berpotensi mengalami hujan dengan intensitas tinggi.
Secara umum, kondisi cuaca di Indonesia masih didominasi hujan ringan hingga lebat. Namun demikian, peningkatan curah hujan dengan intensitas sedang diperkirakan terjadi di sejumlah daerah, antara lain Sumatra Barat, Riau, Kepulauan Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Barat, Gorontalo, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua.
Melihat potensi cuaca signifikan tersebut, BMKG mengimbau masyarakat serta seluruh pemangku kepentingan untuk meningkatkan kesiapsiagaan terhadap kemungkinan terjadinya bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, pohon tumbang, hingga kerusakan infrastruktur akibat cuaca buruk.
Pengguna jalan juga diminta lebih berhati-hati saat berkendara, terutama ketika hujan deras disertai petir dan angin kencang yang dapat mengurangi jarak pandang serta membahayakan perjalanan.
Masyarakat juga perlu mengantisipasi risiko pohon atau ranting tumbang, papan reklame roboh, genangan air, serta sambaran petir. Karena itu, warga disarankan untuk tidak berteduh di bawah pohon besar, baliho, maupun bangunan yang kondisinya kurang kokoh saat hujan disertai angin kencang terjadi.
Sementara itu, bagi masyarakat yang berada di wilayah yang telah memasuki musim kemarau maupun masa peralihan musim, BMKG mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan saat beraktivitas di luar ruangan. Penggunaan pelindung kulit atau tabir surya dianjurkan untuk mengurangi paparan sinar matahari langsung, disertai pemenuhan kebutuhan cairan tubuh guna mencegah dehidrasi dan kelelahan.
BMKG juga menegaskan bahwa masuknya musim kemarau tidak berarti hujan akan sepenuhnya berhenti. Curah hujan masih berpotensi terjadi sewaktu-waktu, terutama ketika kondisi atmosfer masih mengandung kelembapan yang cukup tinggi. Oleh sebab itu, masyarakat diminta tetap waspada terhadap perubahan cuaca yang dapat berlangsung secara cepat dan tidak menentu.
Kondisi atmosfer yang dinamis tersebut perlu menjadi pertimbangan dalam merencanakan berbagai aktivitas, baik perjalanan darat, laut, maupun udara, termasuk kegiatan luar ruang seperti olahraga, wisata, dan acara masyarakat lainnya.
Untuk memperoleh informasi cuaca yang akurat dan terkini, masyarakat diimbau rutin memantau prakiraan cuaca, peringatan dini, serta informasi cuaca ekstrem melalui kanal resmi BMKG. Dengan langkah antisipatif yang tepat, risiko dan dampak akibat cuaca ekstrem dapat diminimalkan sehingga aktivitas masyarakat tetap berjalan dengan aman dan lancar.