Empat siswa tersebut menjalani pendampingan intensif bersama Menteri Sosial Saifullah Yusuf dan pelatih dari Kementerian Sosial di Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Banjarbaru, Minggu (11/1/2026).
Gedung BBPPKS Banjarbaru, yang juga difungsikan sebagai Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 9 Banjarbaru, menjadi lokasi utama peluncuran Sekolah Rakyat rintisan yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.
Pidato berbahasa Inggris akan disampaikan Kiendra, siswa kelas X Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 13 Bekasi. Pidato berbahasa Mandarin dibawakan Nur Aisah, siswi kelas X SRMA 10 Jakarta Selatan.
Sementara itu, pidato berbahasa Jepang disampaikan Risky Aulia, siswi Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 7 Probolinggo, dan pidato berbahasa Arab dibawakan Royya Alma, siswi SRMA 47 Malang, Jawa Timur.
“Anak-anak ini merupakan generasi digital dan bagian dari masyarakat global. Proses pembelajaran di Sekolah Rakyat memanfaatkan teknologi seperti laptop, papan tulis digital, dan learning management system,” ujar Saifullah dalam keterangannya.
Ia menambahkan, peran guru menjadi faktor kunci dalam mengasah kemampuan siswa. Selama beberapa hari terakhir, para siswa berlatih intensif bersama guru bahasa untuk menyusun naskah pidato dan memantapkan artikulasi. “Materi pidato memuat pesan nasionalisme, kemanusiaan, perdamaian dunia, dan solidaritas global,” katanya.
Pidato tersebut akan ditampilkan dengan iringan paduan suara ratusan siswa Sekolah Rakyat yang membawakan lagu Heal The World.
Dihadiri Ratusan Siswa dan Guru
Presiden Prabowo dijadwalkan hadir bersama sejumlah menteri Kabinet Merah Putih dan para kepala daerah.
Sekitar dua ribu peserta dari berbagai unsur ikut berpartisipasi dalam acara peluncuran ini.
Sejumlah siswa Sekolah Rakyat akan memberikan penampilan khusus di hadapan Presiden, seperti paduan suara, teater, pidato, hingga atraksi baris variasi.
Para siswa tersebut datang dari berbagai Sekolah Rakyat di seluruh Indonesia, seperti Jakarta, Bogor, Bekasi, Tangerang Selatan, Aceh Besar, Malang, Probolinggo, Jombang, Pasuruan, Kupang, Makassar, hingga Jayapura.
Salah satu siswa dari SRT 8 Jombang, Earlene Naifah Widyadana (15), mengaku masih tidak menyangka bisa ikut terlibat dalam peluncuran Sekolah Rakyat. Ia rencananya akan menjadi pembawa acara dalam kegiatan tersebut.
“Enggak nyangka sih ya, kaget juga. Karena kan enggak pernah naik pesawat juga. Alhamdulillah bisa sampai sini, katanya juga ada Pak Prabowo ke sini. Syukur Alhamdulillah bisa ketemu Pak Prabowo, senang banget sih di sini,” kata Naifah.
Naifah datang dari keluarga sederhana. Ayahnya bekerja serabutan sebagai tukang servis serta jual beli ponsel. Baginya, Sekolah Rakyat membuka kembali harapan untuk bisa melanjutkan pendidikan.
“Senang banget, alhamdulillah. Soalnya kalau enggak ada program ini saya kayaknya enggak sekolah,” ujar Naifah.
Sementara itu, Guru Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 19 Kupang, Maria Cindayani Rosari Limun, mengutarakan perasaan senangnya karena Sekolah Rakyat akhirnya bisa diluncurkan.
“Tentu banyak masyarakat yang akan tahu dan sadar bahwa Sekolah Rakyat ini benar-benar sangat bermanfaat dan sasarannya tepat pada orang yang betul-betul membutuhkan,” kata Maria.
Maria berharap Sekolah Rakyat, khususnya di Kupang, dapat terus bertambah jumlahnya dan tersedia di berbagai jenjang pendidikan.
“Karena sangat banyak anak di sana yang membutuhkan pendidikan dan bantuan pendidikan. Saya juga sangat berharap di NTT ini tidak hanya sampai SMP, tetapi juga hingga SMA,” tandasnya.
Hingga kini sebanyak 166 titik Sekolah Rakyat rintisan telah beroperasi sejak 2025. Pada saat yang bersamaan, 104 titik Sekolah Rakyat permanen juga mulai dibangun dan ditargetkan mencapai 200 titik pada 2027.