Ilustrasi - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut bahwa cuaca Indonesia tak menentu. Tercatat panas menyengat hingga 36 derajat namun ancaman hujan lebat masih ada untuk sepekan ke depan. (Foto: Pixabay).
JAKARTA, (ERAKINI) - Meski massa udara kering dari Monsun Australia semakin menguat dan memicu suhu di sejumlah daerah, masyarakat tetap diminta waspada terhadap potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang masih berpeluang terjadi di berbagai wilayah Indonesia dalam beberapa hari ke depan.
Imbauan itu disampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sebagaimana dilansir dari laman resminya pada Selasa (2/6/2026). Berdasarkan pemantauan BMKG, penguatan Monsun Australia dalam beberapa hari terakhir membawa udara yang lebih kering ke sebagian wilayah Nusantara.
Kondisi ini mengurangi pembentukan awan, terutama pada pagi hingga siang hari, sehingga sinar matahari dapat mencapai permukaan bumi secara lebih optimal. Akibatnya, suhu udara meningkat signifikan di sejumlah daerah.
Sebelumnya, pada periode 29–31 Mei 2026, suhu maksimum tercatat menembus kisaran 35 hingga 36,4 derajat Celsius di beberapa wilayah, antara lain Sumatra Utara, Riau, Papua Selatan, Banten, dan Sulawesi Tengah. Kondisi ini membuat cuaca terasa lebih terik dibandingkan biasanya.
Namun, meskipun Monsun Australia mengalami penguatan, intensitasnya masih berada di bawah kondisi normal. Situasi tersebut menyebabkan hujan tetap terjadi di sejumlah kawasan Indonesia, terutama di bagian barat dan timur.
Dalam periode yang sama, hujan dengan intensitas ringan hingga sangat lebat masih terpantau mengguyur berbagai daerah. Curah hujan tertinggi tercatat di Maluku mencapai 102,5 milimeter per hari. Disusul Sulawesi Tengah sebesar 70,5 milimeter per hari, DKI Jakarta 70,4 milimeter per hari, Papua Selatan 63 milimeter per hari, Sumatra Utara 59,8 milimeter per hari, serta Papua Pegunungan 40,8 milimeter per hari.
BMKG menjelaskan bahwa tingginya curah hujan tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh lemahnya Monsun Australia, tetapi juga oleh sejumlah fenomena atmosfer yang mendukung pembentukan awan hujan.
Aktivitas Gelombang Rossby Ekuatorial dan Gelombang Kelvin saat ini terpantau aktif di berbagai wilayah, termasuk Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku Utara, Maluku, dan Papua. Selain itu, nilai anomali Outgoing Longwave Radiation (OLR) yang negatif menunjukkan adanya peningkatan tutupan awan konvektif yang berpotensi menghasilkan hujan.
Faktor lain yang turut berkontribusi adalah keberadaan Siklon Tropis Jangmi yang berkembang dari Bibit Siklon Tropis 99W di kawasan Laut Filipina, sebelah utara Papua. Sistem cuaca tersebut memengaruhi pola aliran udara di sekitarnya dan meningkatkan peluang terbentuknya awan hujan di wilayah yang berada dekat jalur pergerakannya.
Analisis terbaru BMKG menunjukkan bahwa kondisi El Niño masih berlangsung di Samudra Pasifik. Hal itu tercermin dari indeks Niño 3.4 yang berada pada angka positif 0,67 dan nilai Southern Oscillation Index (SOI) sebesar minus 14,7.
Secara umum, El Niño biasanya mengurangi potensi curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia. Namun kali ini, pengaruh dinamika atmosfer regional masih cukup kuat sehingga pembentukan awan hujan tetap berpotensi terjadi, terutama di wilayah Indonesia bagian utara dan timur.
Dalam sepekan mendatang, aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) diperkirakan bergerak dari fase 7 menuju fase 8 sehingga dampaknya terhadap wilayah Indonesia relatif kecil. Kendati demikian, sejumlah fenomena atmosfer lain masih berpotensi memicu hujan.
Gelombang Kelvin diprediksi aktif di wilayah Sumatra bagian utara, pesisir selatan Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi bagian utara hingga tengah, Maluku Utara, dan Papua Barat Daya.
Sementara itu, Gelombang Rossby Ekuatorial masih diperkirakan memengaruhi Sumatra bagian utara, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, serta Kalimantan bagian utara.
BMKG juga mengidentifikasi potensi terbentuknya sirkulasi siklonik di Laut Cina Selatan dan Samudra Pasifik utara Papua. Sistem tersebut dapat menciptakan daerah pertemuan dan perlambatan angin yang memicu pertumbuhan awan hujan lebih intens.
Meski sejumlah daerah tengah mengalami cuacapanas akibat dominasi massa udara kering, masyarakat tidak boleh lengah terhadap kemungkinan hujan deras yang dapat terjadi secara tiba-tiba. Kombinasi aktivitas gelombang atmosfer dan potensi pembentukan sirkulasi siklonik masih berpotensi meningkatkan curah hujan di berbagai wilayah Indonesia.
BMKG mengimbau masyarakat untuk terus memantau perkembangan informasi cuaca terbaru dan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem, terutama di daerah yang berisiko mengalami hujan lebat, angin kencang, banjir, maupun genangan dalam beberapa hari mendatang.