Search

Kenapa Masih Hujan Meski Sudah Masuk Musim Kemarau 2026? Simak Penjelasan BMKG di Sini!

JAKARTA, (ERAKINI) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan penjelasan terkait fenomena hujan yang masih kerap terjadi meskipun sebagian wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau pada 2026.

Menurut Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, istilah kemarau sering disalahartikan oleh masyarakat. Menurutnya kemarau tidak identik dengan ketiadaan hujan. Yang terjadi adalah penurunan curah hujan di bawah standar klimatologi “Kemarau tidak berarti tanpa hujan sama sekali, melainkan kondisi ketika curah hujan berada di bawah ambang batas klimatologis,” katanya dikutip dari laman resmi BMKG, Minggu (19/4/2026)

BMKG mencatat bahwa pada April 2026, beberapa wilayah Indonesia sudah mulai memasuki musim kemarau. Namun, prosesnya tidak terjadi serentak, melainkan bertahap di berbagai daerah.

Berdasarkan data BMKG per 10 April 2026, sekitar 7,8 persen wilayah Indonesia atau 55 Zona Musim (ZOM) telah resmi memasuki musim kemarau. Sementara itu, wilayah lainnya masih berada dalam fase transisi.

Dalam prediksi terbaru, BMKG menyebutkan bahwa:
- 114 ZOM (16,3%) mulai kemarau pada April
- 184 ZOM (26,3%) pada Mei
- 163 ZOM (23,3%) pada Juni

Perubahan ini umumnya dimulai dari wilayah Nusa Tenggara dan kemudian merambat ke wilayah lain di Tanah Air.

Menurut BMKG, kondisi hujan di awal musim kemarau merupakan hal yang normal karena Indonesia masih berada dalam masa peralihan musim atau pancaroba. Pada fase ini, atmosfer belum stabil sehingga cuaca masih sangat dinamis.

BMKG menyebutkan bahwa hujan dengan intensitas ringan hingga lebat masih dapat terjadi di berbagai wilayah akibat sejumlah faktor atmosfer yang masih aktif.

Beberapa fenomena yang memengaruhi kondisi tersebut antara lain Gelombang atmosfer seperti Rossby Ekuatorial, Gelombang Kelvin, dan Mixed Rossby-Gravity (MRG), aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) yang melintasi wilayah Indonesia dari Sumatera hingga Papua, perlambatan angin yang memicu pengumpulan massa udara lembap, pemanasan permukaan pada siang hari yang memperkuat pembentukan awan hujan, pengaruh bibit siklon tropis 92S di Samudra Hindia barat daya Lampung dan adanya sirkulasi siklonik yang menciptakan area pertemuan angin. Kombinasi faktor tersebut membuat pembentukan awan hujan tetap terjadi meski kalender musim sudah memasuki periode kemarau.

BMKG menegaskan bahwa kondisi ini bukan anomali, melainkan bagian dari dinamika cuaca di wilayah tropis seperti Indonesia. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tidak langsung mengartikan musim kemarau sebagai periode tanpa hujan, melainkan fase dengan pola hujan yang lebih terbatas dan tidak merata.