Penunjukan Gus Ipul Sebagai Ketua Panitia Muktamar PBNU Dinilai Fatal
Muhammad Slamet
JAKARTA (ERAKINI) – Penetapan Syaifullah Yusuf (Gus Ipul) sebagai Ketua Penyelenggara Muktamar Nahlatul Ulama (NU) mendapat kritikan tajam.
“Penunjukan Gus Ipul ini bukan sekadar kesalahan teknis, melainkan bentuk pengabaian terhadap etika organisasi dan upaya sistematis untuk melanggengkan konflik internal yang tengah membara,” ungkap Ketua Perkumpulan Reksobhumi Indonesia Dr M. Kholidul Adib,MSi, Kamis (2/4).
Adib menyebut sangat ironis ketika sosok yang selama ini dipandang publik sebagai salah satu "biang kerok" dan aktor utama di balik memanasnya suhu politik serta dualisme persepsi dalam tubuh nahdliyin, justru diberi mandat untuk memimpin forum tertinggi organisasi.
“Penunjukan ketua penyelenggara ini ibarat menunjuk "pemicu api" untuk menjadi semacam pemadam kebakaran,” bebernya.
Atas dasar itu, Adib menolak penunjukan Syaifullah Yusuf sebagai ketua penyelenggara Muktamar NU. Sebab ini menjadi konflik kepentingan yang nyata.
“Sebagai pihak yang terlibat langsung dalam ketegangan hubungan antar-elemen di NU belakangan ini, integritas dan netralitas Gus Ipul dalam mengawal Muktamar sangat diragukan,” katanya.
Muktamar, tegas Adib, seharusnya menjadi ruang rekonsiliasi, bukan panggung bagi faksi tertentu untuk mengukuhkan dominasi.
“Alih-alih merangkul semua pihak sesuai semangat Ukhuwah Nahdliyyah, langkah-langkah politik Gus Ipul cenderung menciptakan polarisasi. Memberinya posisi kunci hanya akan memperlebar jurang pemisah di akar rumput,” tegas Adib.
Adib juga mengingatkan ancaman terhadap legitimasi Muktamar. Jika penyelenggaraan dikendalikan oleh sosok kontroversial, hasil dari tersebut akan kehilangan legitimasi moral.


















