Pendakwah kondang Miftah Maulana Habiburrahman atau biasa disapa Gus Miftah resmi mengundurkan diri dari jabatan Utusan Khusus Presiden. Keputusan ini disampaikan Gus Miftah dalam konferensi pers di kediamannya di Yogyakarta pada Jumat (6/12/2024).
Pengunduran diri Gus Miftah dari jabatan Utusan Khusus Presiden tidak lepas dari peristiwa mengolok-olok saat pengajian yang kemudian videonya viral di media sosial beberapa hari terakhir.
Pendakwah muda yang sempat kuliah di UIN Yogyakarta ini kemudian mendapat hujatan tajam dari berbagai kalangan, termasuk dari para politisi. Dalam video yang beredar, Gus Miftah memaki penjual es dengan kata-kata yang kasar.
Terkait ini, Gus Miftah juga sudah meminta maaf kepada penjual es dan masyarakat secara luas di akun media sosialnya pada Rabu (4/12/2024).
"Saya Miftah Maulana Habiburrahman menanggapi yang viral hari ini, yang pertama dengan kerendahan hati, saya meminta maaf atas kekhilafan saya," ucap Gus Miftah dalam sebuah video yang diunggah ulang Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan Hasan Nasbi di TikTok @hasannasbi.
Dilansir dari berbagai sumber, Jumat (6/12/2024), Gus Miftah merupakan pengasuh Pondok Pesantren Ora Aji di Sleman, Yogyakarta. Gus Miftah lahir pada 5 Agustus 1981. Dia dikenal sebagai penceramah dengan pendekatan dakwahnya yang tidak konvensional, terutama kepada kaum marjinal, termasuk pekerja dunia malam.
Gus Miftah merupakan keturunan ke-9 Kiai Muhammad Ageng Besari, pendiri Pesantren Tegalsari di Ponorogo. Ayahnya, M. Murodhi bin M. Boniran, juga berasal dari lingkungan pesantren.
Meskipun pernah menempuh pendidikan di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Gus Miftah tidak menyelesaikan studinya di sana. Ia akhirnya meraih gelar Sarjana Pendidikan pada tahun 2023 dari Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) Semarang.
Semasa kuliah, ia aktif dalam organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama.
Gus Miftah mulai dikenal publik ketika video pengajiannya di sebuah kelab malam di Bali viral di media sosial.
Ia mengungkapkan bahwa ide awal untuk berdakwah kepada pekerja dunia malam muncul saat dirinya melaksanakan salat di sebuah musala di kawasan lokalisasi Sarkem, Yogyakarta. Di sana, ia menyadari bahwa para pekerja dunia malam kesulitan mengakses ilmu agama.
“Banyak dari mereka tidak bisa ikut pengajian di luar karena khawatir menjadi bahan gunjingan, sementara di tempat kerjanya juga tidak ada kajian agama,” ungkap Gus Miftah.
Ia kemudian rutin mengadakan kajian di lokalisasi, kelab malam, dan salon plus-plus, membuka ruang bagi mereka yang ingin mendalami agama tanpa rasa takut atau canggung.
Pendekatan unik Gus Miftah ini mendapatkan dukungan dari tokoh agama Maulana Habib Luthfi bin Yahya dari Pekalongan, yang menyebut langkah Gus Miftah sebagai bentuk dakwah merangkul, bukan menghakimi.
Dengan metode dakwah yang melampaui batasan tradisional, Gus Miftah telah berhasil menyentuh hati banyak kalangan marjinal.