PSI, Antara Politik Basa Basi atau Strategi?
Akhmad Baihaqi Arsyad
JAKARTA, (ERAKINI) - Genap enam bulan jelang coblosan Pilpres, peta dukungan partai politik tampak sangat volatile, bahkan cenderung masih gelap. Sikap masih terombang-ambingnya kekuatan itu antara lain ditunjukkan oleh Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Rabu (2/8/2023), kantor DPP PSI di dekat Pasar Tanah Abang mendapat tamu istimewa, yakni Prabowo Subianto, capres usungan Partai Gerindra.
Kehadiran Prabowo ini menarik. Apa sebab? PSI selama ini termasuk parpol golongan awal (assabiqunal awwalun) yang menggelontorkan pencapresan Ganjar Pranowo, calon seteru Prabowo dalam Pilpres 2024. Dalam berbagai kesempatan, para pengurus PSI juga blak-blakan siap di belakang Ganjar.
Namun, sinyal positif PSI terhadap Ganjar ini tak serta merta bergayung sambut di tangan PDIP. Bahkan, karena dianggap tak juga gentle soal dukungan, beberapa senior PDIP kerap menyentil dan menyindir PSI. Ini seperti diungkapkan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto yang menduga PSI memiliki kepentingan tidak murni di balik dukungan itu.
"Mencalonkan capres dan cawapres bukan untuk melakukan dansa elektoral, bukan juga untuk memperebutkan efek ekor jas. Namun juga dilakukan dengan penuh kesadaran terhadap masa depan," kata Hasto di Jakarta, 6 Oktober 2022, merespons langkah PSI yang mendahului PDIP mencapreskan Ganjar.


















