JAKARTA, (ERAKINI) - Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ulil Abshar Abdalla atau Gus Ulil menjadi sorotan publik usai pernyataannya tentang isu lingkungan viral di media sosial. Pernyataan yang memicu polemik itu muncul di tengah polemik penambangan di Raja Ampat, Papua Barat Daya, yang kini telah dihentikan oleh Presiden Prabowo Subianto.
Dalam unggahan di media sosialnya, Gus Ulil menyampaikan kritik terhadap pendekatan ekstrem dalam isu lingkungan.
“Peduli lingkungan oke, menjadi lingkungan jangan,” tulisnya. Dia menambahkan bahwa harus dibedakan antara kepedulian terhadap lingkungan dengan sikap ‘wahabi lingkungan’ yang menurutnya sarat dengan “wakisme” dan alarmisme global yang berlebihan.
Dilansir dari berbagai sumber pada Senin (16/6/2025), Ulil Abshar Abdalla lahir di Pati, Jawa Tengah pada 11 Januari 1967. Ia dikenal luas sebagai pendiri dan mantan koordinator Jaringan Islam Liberal (JIL). Dalam perjalannya, Gus Ulil sempat menjadi Ketua Lakpesdam PBNU periode 2022-2027. Namun dia diangkat oleh Ketum PBNU KH Yahya Cholil Staquf menjadi Ketua PBNU di sisa jabatan 2022-2027. Ayah Gus Ulil bernama Abdullah Rifa'i, kiai besar dari pesantren Mansajul Ulum, Pati.
Ulil menempuh pendidikan menengah di Madrasah Mathali'ul Falah, Kajen, Pati, sebelum melanjutkan pendidikan tinggi di LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab) Jakarta, dan Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Ia kemudian melanjutkan studi di Universitas Boston dan memperoleh gelar master dalam bidang agama.
Pendidikan doktoralnya diselesaikan di Universitas Harvard, Amerika Serikat. Pendidikan yang ditempuhnya memberikan landasan kuat bagi pemikirannya dalam bidang agama dan filsafat.
Keorganisasian dan Aktivisme
Selain menjadi pendiri Jaringan Islam Liberal, Ulil juga aktif dalam berbagai organisasi. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Lakpesdam (Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia) Nahdlatul Ulama dan staf peneliti di Institut Studi Arus Informasi (ISAI), Jakarta.
Dalam aktivitasnya, ia dikenal dengan pemikiran-pemikiran Islam Liberal yang membuka ruang diskusi tentang pluralisme, kebebasan beragama, dan hak asasi manusia.
Ulil turut berkiprah di dunia politik dengan bergabung dalam Partai Demokrat. Ia menjabat sebagai Ketua Divisi Pusat Pengembangan Strategi dan Kebijakan Pengurus Pusat Partai Demokrat pada masa kepemimpinan Anas Urbaningrum. Namun, Gus Ulil kini tidak lagi aktif di dunia politik dan lebih memilih mengajar dan mengisi pengajian.
Kontroversi
Pemikiran Ulil sering kali memicu kontroversi. Salah satu peristiwa besar yang mencuat adalah ketika pada 2003, sekelompok ulama Islam Indonesia mengeluarkan fatwa kematian terhadapnya setelah ia menulis artikel "Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam" di Kompas pada 2002.
Artikel tersebut dianggap menyimpang oleh sebagian kalangan ulama. Tak hanya itu, pada Maret 2011, Ulil juga menjadi sasaran serangan bom surat yang meledak di Komunitas Utan Kayu, meskipun ia sendiri tidak terluka.
Selain itu, Ulil dikenal dengan sikap kritisnya terhadap keputusan pemerintah terhadap Ahmadiyyah, yang ia tolak. Meskipun demikian, pemikirannya tetap mendapatkan dukungan dari berbagai pihak yang menganggapnya sebagai pembawa gagasan modernisasi dalam Islam.
Ulil Abshar Abdalla terus berperan dalam membangun dialog antaragama dan menjembatani pemikiran Islam dengan perkembangan zaman, meskipun kerap diterpa berbagai kritik.