Ilustrasi - BMKG menyebut, akhir September 2025, banyak wilayah RI mengalami fase peralihan musim yang ditandai dengan cuaca ekstrem berskala lokal, seperti hujan deras disertai petir dan angin kencang berdurasi singkat. (Foto: Pixabay).
JAKARTA, (ERAKINI) - Memasuki dasarian ketiga bulan , banyak wilayah di Indonesia mengalami fase yang ditandai dengan ekstrem berskala lokal, seperti disertai dan berdurasi singkat.
Hal itu disampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebagaimana dilansir dari laman resminya, Jumat (26/9/2025). BMKG menyebut fenomena ini sebagai hasil dari interaksi kompleks dinamika atmosfer di berbagai skala—baik global, regional, maupun lokal.
BMKG menyebut bahwa beberapa faktor utama yang mendorong peningkatan potensi cuaca ekstrem meliputi, Dipole Mode Index (DMI) yang masih bernilai negatif, menandakan peningkatan suplai uap air dan pertumbuhan awan di kawasan barat Indonesia.
Selain itu, kata BMKG, suhu muka laut yang hangat di sejumlah wilayah perairan nasional turut memperkuat proses konvektif, terutama di wilayah daratan sekitar.
Kemudian, aktivitas gelombang atmosfer, seperti Rossby Equatorial dan Kelvin wave, masih terdeteksi aktif di beberapa wilayah Indonesia, mendorong pembentukan awan hujan secara signifikan.
“Nilai Outgoing Longwave Radiation (OLR) yang negatif secara spasial menunjukkan tingginya peluang pertumbuhan awan konvektif. Selain itu, kehadiran bibit siklon tropis dan siklon tropis aktif di sekitar wilayah utara Indonesia memengaruhi arah dan kecepatan angin, sehingga memperkuat ketidakstabilan atmosfer di sekitarnya,” kata BMKG.
Dalam kurun waktu satu minggu ke depan, BMKG memprediksi bahwa potensi pembentukan awan hujan masih tinggi di banyak daerah. Hal ini berkaitan erat dengan kondisi atmosfer yang masih labil dan basah, baik dari pengaruh laut maupun daratan.
- DMI negatif −1,17 menjadi penanda bahwa wilayah Indonesia bagian barat tetap menerima pasokan uap air secara intensif.
- Anomali OLR yang dominan bernilai negatif ditemukan di sebagian wilayah Sumatra, Jawa, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara, hingga wilayah timur Indonesia seperti Papua.
- Gelombang Kelvin dan Rossby masih aktif dan berdampak pada peningkatan curah hujan di wilayah seperti Sumatra, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, dan Papua Selatan.
BMKG juga memantau dua sistem cuaca signifikan: Bibit Siklon Tropis 92W yang terpantau di utara Papua, dengan kecepatan angin maksimum 20 knot dan tekanan minimum 1004 hPa. Meskipun peluang berkembang menjadi siklon tropis dalam 24 jam masih rendah, sistem ini menciptakan zona konvergensi yang dapat memicu hujan intens.
Lalu, Siklon Tropis "RAGASA" di sekitar wilayah Filipina, dengan kecepatan angin maksimum 110 knot dan tekanan minimum 905 hPa, turut memberikan dampak tidak langsung dalam bentuk hujan lebat di kawasan Kalimantan, Maluku Utara, dan Papua.
Pertemuan Angin dan Ketidakstabilan Atmosfer Lokal
BMKG juga mendeteksi garis pertemuan angin (konvergensi) di sejumlah wilayah yang memanjang dari Laut Andaman, Laut Natuna Utara, Laut China Selatan, hingga wilayah-wilayah seperti Sumatera Barat, Kalimantan Timur, dan Papua. Interaksi angin ini turut memperkuat potensi cuaca ekstrem, terutama hujan lebat yang disertai angin kencang.
Wilayah yang berpotensi terdampak oleh aktivitas konvektif tinggi meliputi:
- Sumatera: Jambi, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Bengkulu
- Kalimantan: Kalimantan Utara
- Sulawesi: Sulawesi Selatan, Tenggara, Tengah, Utara
- Bali dan Nusa Tenggara
- Maluku dan Maluku Utara
- Seluruh wilayah Papua, termasuk Papua Pegunungan dan Papua Barat Daya
Dengan mempertimbangkan kondisi atmosfer yang tidak stabil dan kecenderungan meningkatnya intensitas hujan, BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap risiko bencana hidrometeorologi seperti: banjir dan genangan air, longsor di daerah rawan, angin kencang dan pohon tumbang, gangguan transportasi, terutama penerbangan dan pelayaran
BMKG menyarankan sejumlah langkah antisipatif, di antaranya: memastikan sistem drainase dan saluran air dalam kondisi bersih dan tidak tersumbat, menunda aktivitas luar ruang bila terdapat peringatan cuaca ekstrem, dan emantau informasi cuaca resmi melalui kanal BMKG secara berkala (aplikasi, situs web, atau media sosial resmi).
Cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi dalam beberapa hari ke depan di sejumlah wilayah Indonesia akibat pengaruh sistem atmosfer yang kompleks. Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan dan menyiapkan langkah mitigasi guna mengurangi risiko yang mungkin timbul akibat hujan deras, angin kencang, dan potensi bencana lainnya.