Staf Khusus Menteri Agama Bidang Kebijakan Publik, Media/Hubungan Masyarakat, dan Pengembangan SDM, Ismail Cawidu (dua dari kanan), Dirjen Pendis Kemenag Amien Suyitno (dua dari kiri), Direktur Pesantren Basnang Said (kiri), dan Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kemenag Thobib Al Asyhar (kanan), saat konferensi pers terkait Hari Santri 2025, Jumat (19/9). Foto: Erakini
JAKARTA, (ERAKINI) – Satu dasawarsa setelah pertama kali ditetapkan pada 22 Oktober 2015, peringatan Hari Santri kembali digelar tahun ini dengan semangat yang lebih besar dan visi yang lebih mendunia. Untuk pertama kalinya akan diadakan Musabaqah Qiraatul Kutub (MQK) tingkat internasional.
Staf Khusus Menteri Agama Bidang Kebijakan Publik, Media/Hubungan Masyarakat, dan Pengembangan SDM, Ismail Cawidu, mengungkapkan, seluruh rangkaian Hari Santri 2025 disiapkan secara terpadu untuk menggambarkan tiga peran utama santri masa kini, yaitu sebagai duta budaya, agen perubahan sosial, dan motor kemandirian ekonomi.
“Santri tidak hanya mengaji, tetapi membawa cahaya peradaban. Kini saatnya santri Indonesia memberikan kontribusi nyata bagi dunia,” ujar Ismail dalam konferensi pers Road To Hari Santri 2025 di Jakarta, Jumat (19/9).
Ismail menyebut bahwa peringatan Hari Santri 2025 menandai era baru kehadiran santri di kancah global. Maka itu, untuk pertama kalinya akan diselenggarakan MQK Internasional di Pesantren As'adiyah, Sengkang-Wajo, Sulawesi Selatan (Sumsel) pada 1–7 Oktober 2025.
Ajang prestisius ini mempertemukan para santri dari berbagai negara Asia Tenggara untuk menunjukkan keunggulan mereka dalam mengkaji kitab kuning.
Diketahui, kitab kuning sebagai khazanah intelektual santri bukan hanya warisan klasik, tetapi juga inspirasi untuk merespon tantangan modern. Untuk itu, MQK menjadi simbol ijtihad kolektif santri dalam menghubungkan tradisi dan inovasi.
MQK akan menghadirkan delegasi pesantren, ulama, dan akademisi dunia, yang ditopang dengan acara-acara kultural, ekonomi, dan ekoteologi. Dengan demikian, MQK tidak sekadar musabaqah, tetapi juga festival peradaban santri.
Ismail menjelaskan, terdapat empat hal yang diperlombakan dalam MQK Internasional ini. Pertama, perlombaan membaca kitab-kitab kuning. "Kita tahu bahwa sekarang ini banyak sekali kitab-kitab kuning yang beredar di Indonesia. Dan tidak semua orang bisa memahaminya. Karena itu, ketika nanti alumni-alumni pesantren bisa membacanya dengan baik, itu satu kemajuan yang luar biasa," katanya.
Hal kedua yang diperlombakan adalah bagaimana memahami dengan baik bahasa kitab-kitab kuning. Ketiga, bagaimana peserta menerjemahkan bahasa Al-Quran dengan bahasa kitab-kitab kuning. "Terakhir adalah bagaimana mengartikulasikan dari penjelasan, memberikan penjelasan terhadap makna kitab-kitab kuning. Jadi, empat hal ini yang dilombakan," ucapnya.
Ismail menyebutkan MQK Internasional perdana ini akan diikuti oleh peserta dari 10 negara di kawasan ASEAN. "Selama ini Musabaqah Qiraatul Kutub itu hanya diikuti oleh pesantren-pesantren di Indonesia. Nah, untuk kali ini itu diadakan dengan mengundang 10 negara untuk mengikuti perlombaan tersebut," ucapnya.
Menurut dia, tujuan MQK Internasional ini adalah ingin semakin memberikan eksistensi yang kuat terhadap pesantren. Ismail berharap pesantren-pesantren yang mengikuti perlombaan, begitu acara selesai, akan kembali merapatkan berisan meningkatkan kualitasnya.
"Kenapa kita melaksanakan di luar Jawa? Karena selama ini pada umumnya Musabaqah Qiraatul Kutub itu (diadakan) Jawa. Kita ingin kali ini dilaksanakan di luar Jawa. Itu juga untuk pengembangan pesantren di luar Jawa," ucapnya.
Kenapa di Sumsel? Ismail mengatakan Kemenag juga ingin menjadikan Sulawesi Selatan sebagai daerah tujuan wisata religi. Sebab, masyarakat Sulawesi Selatan selama ini dikenal sangat religius, dan memiliki banyak pesantren.
"Oleh karena itu, dengan pelaksanaan (MQK) di sana, itu (pesantren) akan semakin mendunia. Bukan hanya di Jawa, tapi di luar Jawa," tukasnya.
Kemenag juga ingin agar dari MQT ini semakin terjalin hubungan yang erat dan baik antara pesantren satu dengan pesantren lain. Terjadi persaingan yang positif antarpesantren yang pada akhirnya berdampak baik terhadap alumni pesantren.
Sementara Direktur Jenderal Pendidikan Islam (Dirjen Pendis) Kemenag Amien Suyitno mengungkapan, peringatan Hari Santri 2025 mengusung tema besar yakni “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia”.
Tema tersebut merefleksikan lompatan paradigma bahwa santri tidak lagi hanya diposisikan sebagai penjaga tradisi, melainkan aktor aktif dalam membangun masa depan bangsa yang inklusif, sejahtera, dan berperadaban.
Peringatan Hari Santri 2025 bukan hanya perayaan, tetapi gerakan moral, intelektual, sosial, dan ekonomi untuk meneguhkan kembali posisi santri sebagai pilar bangsa yang otentik dan kontributif.