Timnas Iran hanya diizinkan memasuki Amerika Serikat (AS) pada hari pertandingan dan wajib meninggalkan negara tersebut pada hari yang sama setelah laga berakhir. Foto: AA Photo
JAKARTA, (ERAKINI) – Persiapan Timnas Iran menuju Piala Dunia 2026 kembali diwarnai situasi tidak biasa. Skuad Team Melli hanya diizinkan memasuki Amerika Serikat (AS) pada hari pertandingan dan wajib meninggalkan negara tersebut pada hari yang sama setelah laga berakhir.
Kebijakan itu dikonfirmasi Duta Besar Iran untuk Meksiko, Abolfazl Pasandideh, di tengah ketegangan politik yang masih berlangsung antara Teheran dan Washington. "Kami bisa masuk pada pagi hari dan harus meninggalkan Amerika Serikat pada hari yang sama," kata Pasandideh.
Aturan tersebut menambah daftar kendala yang dihadapi Iran menjelang Piala Dunia 2026 yang diselenggarakan bersama oleh Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada.
Menurut sejumlah pejabat senior Iran, seluruh 26 pemain yang masuk skuad telah memperoleh visa untuk memasuki Amerika Serikat. Namun, proses pengurusan visa tidak berjalan mulus. Lebih dari selusin anggota staf pendukung dan pejabat federasi sepak bola Iran dilaporkan ditolak permohonan visanya.
Pembatasan itu muncul di tengah konflik yang masih berlangsung antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Situasi geopolitik tersebut membayangi penyelenggaraan turnamen dan menciptakan salah satu kondisi paling tidak lazim dalam sejarah Piala Dunia.
Piala Dunia 2026 bahkan menjadi edisi pertama sejak turnamen ini digelar pada 1930 yang mempertemukan negara tuan rumah dengan negara yang sedang terlibat perang.
Pindahkan Markas ke Meksiko
Menghadapi persoalan visa dan meningkatnya kekhawatiran terkait situasi politik, Iran akhirnya memindahkan base camp mereka dari Arizona, Amerika Serikat, ke Tijuana, Meksiko.
Timnas Iran telah berangkat menuju Meksiko pada Sabtu (6/6). Menurut laporan televisi pemerintah Iran, skuad Team Melli lepas landas sekitar pukul 18.10 waktu setempat menuju Tijuana, kota di barat laut Meksiko yang akan menjadi markas mereka selama turnamen berlangsung. Perjalanan itu diperkirakan memakan waktu sekitar 20 jam.
Skuad Iran dijadwalkan tiba di Tijuana pada Minggu. Dari sana, mereka akan melakukan perjalanan ke Amerika Serikat untuk menjalani setiap pertandingan fase grup.
Iran yang tergabung di Grup G akan menghadapi Selandia Baru dan Belgia di Los Angeles pada 15 dan 21 Juni, sebelum menantang Mesir di Seattle pada 26 Juni.
Kondisi ini membuat Iran harus menjalani pengaturan perjalanan yang jauh lebih rumit dibanding peserta lain, karena tidak dapat menetap di Amerika Serikat meski seluruh pertandingan fase grup mereka digelar di negara tersebut.
"Tim berangkat malam ini menuju Meksiko untuk mengikuti Piala Dunia setelah menjalani pemusatan latihan di Turki," demikian laporan media pemerintah Iran.
Menjelang keberangkatan ke Piala Dunia, Iran menjalani laga uji coba terakhir melawan Mali di Antalya, Turki, pada Kamis dan menang 2-0. Sebelumnya, pada 29 Mei, mereka juga mengalahkan Gambia dengan skor 3-1.
Iran sebelumnya menghabiskan hampir tiga pekan menjalani kamp pelatihan di Antalya. Selama berada di sana, para pemain dan ofisial mengurus visa untuk memasuki Meksiko, Kanada, dan Amerika Serikat.
Sehari sebelum keberangkatan ke Meksiko, para pemain akhirnya menerima visa Amerika Serikat. Kabar tersebut disampaikan Duta Besar AS untuk Turki, Tom Barrack, melalui media sosial X pada Jumat malam.
Namun, Kedutaan Besar Iran di Turki menyatakan bahwa sejumlah besar staf manajemen, eksekutif, dan anggota delegasi lainnya tidak memperoleh visa. Kondisi itu memicu reaksi keras dari Teheran.
"Anda kini telah meningkatkan perlakuan yang disengaja dan diskriminatif terhadap tim nasional sepak bola Iran ke tingkat tertinggi," tulis Kedutaan Besar Iran di akun X pada Sabtu.
"FIFA harus meminta pertanggungjawaban Amerika Serikat atas pelanggaran terhadap peraturannya dan perlakuan diskriminatif terhadap tim nasional sepak bola Iran."
Televisi pemerintah Iran menyebut para pemain dan staf teknis telah mendapatkan visa, tetapi 15 anggota staf administrasi dan manajemen masih belum mendapatkannya. Masalah tersebut akan terus diupayakan penyelesaiannya selama tim berada di Meksiko.
Federasi Sepak Bola Iran, yang ketuanya Mehdi Taj dilaporkan termasuk di antara mereka yang tidak memperoleh visa, juga mengecam keputusan tersebut dan menyebutnya sebagai "bentuk campur tangan politik dalam olahraga yang paling buruk".
"Dengan memperluas perilaku bermusuhannya terhadap bangsa Iran ke ranah olahraga, pemerintah Amerika Serikat telah menghilangkan kesempatan tim nasional Iran untuk bertanding tanpa diskriminasi," demikian pernyataan federasi tersebut, yang juga berjanji akan membawa persoalan itu ke FIFA.
AS Minta Jangan Salahgunakan Sistem Visa
Menanggapi kritik tersebut, seorang pejabat pemerintah Amerika Serikat mengonfirmasi bahwa visa yang diperlukan bagi Iran untuk tampil di Piala Dunia, termasuk bagi para pemain dan staf pendukung yang dibutuhkan, telah diterbitkan.
Namun, tanpa menanggapi secara langsung mengenai pihak-pihak yang ditolak visanya, pejabat itu menegaskan bahwa Washington tidak akan membiarkan sistem visa disalahgunakan.
"Kami tidak akan membiarkan tim Iran menyalahgunakan sistem ini untuk menyelundupkan teroris ke Amerika Serikat dengan dalih yang tidak benar," katanya, dilansir channelnewsasia.
Pada April lalu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan bahwa persoalan visa bukan terkait para pemain Iran, melainkan sejumlah anggota rombongan yang ingin mereka bawa.
Rubio mengisyaratkan sebagian dari mereka mungkin memiliki hubungan dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), organisasi yang masuk daftar kelompok teroris versi Amerika Serikat. Media Iran di luar negeri melaporkan bahwa Mehdi Taj sendiri merupakan mantan anggota Garda Revolusi.