Tim dokter saat memerika kondisi mata Kurnia Mega di kediamannya. Foto: Instagram @erickthohir
JAKARTA, ( ERAKINI) - Kehidupan mantan kiper Timnas IndonesiaKurnia Meiga tengah menjadi sorotan publik setelah rumah tangganya kandas. Terlebih mantan istri buka-bukaan bahwa mantan kiper Arema Malang itu menderita penyakit Papilledema akibat minum alkohol.
Pria kelahiran 7 Mei 1990 itu disebut menderita penyakit Papilledema akibat suka minum alkohol sejak umur 18 tahun. Fakta ini diungkap mantan istri, Azhiera Adzka, setelah keputusannya bercerai dengan jadi sorotan.
Azhiera sempat dihujat karena dianggap meninggalkan Kurnia Mega saat dalam kondisi sakit. Akhirnya ia mengungkap bahwa penyakit Kurnia Mega itu akibat kebiasaannya minum alkohol sejak masih lajang hingga berumah tangga.
Kurnia Meiga sempat sama sekali tidak bisa melihat akibat penyakit Papilledema tersebut. Kini penglihatan Kurnia Meiga hanya ada di sudut mata sekitar 3-5 persen. Itupun hasil perkembangan pengobatan selama 2 tahun.
Penyebab Kurnia Meiga mengalami kebutaan, menurut penjelasan dokter yang disampaikan ke Azhiera, karena mantan suaminya itu banyak mengkonsumsi alkohol. Lantas apa sebenarnya penyakit Papilledema?
Mengutip laman halodoc, Jumat (15/3/2024), Papilledema merupakan penyakit mata yang ditandai dengan pembengkakan pada saraf optik. Jika gejalanya ringan, biasanya penyakit ini tidak mengindikasikan masalah serius.
Namun, jika gejalanya sudah lebih parah, hal ini bisa menandakan cidera atau masalah kesehatan serius yang harus ditangani sesegera mungkin. Karena itu, Papilledema tidak bisa disepelekan. Sebab penyakit mata ini dapat menyebabkan komplikasi yang fatal dan berpotensi menyebabkan kehilangan penglihatan (kebutaan).
Gejala awal Papilledema yang paling umum adalah perubahan minor pada penglihatan. Awalnya perubahan ini mungkin terasa seperti gangguan penglihatan sepele dan biasanya hanya terjadi beberapa detik.
Akan tetapi, jika tekanan otak terus berlanjut, perubahan penglihatan dapat berlangsung selama beberapa menit atau lebih lama. Dalam beberapa kasus, gejala ini bahkan bisa menjadi permanen.
Berikut beberapa gejala Papilledema:
- Penglihatan kabur.
- Penglihatan ganda.
- Melihat kilatan.
- Kehilangan penglihatan yang berlangsung selama beberapa detik.
- Mual dan muntah.
- Mengalami sakit kepala yang tidak normal.
- Mendengar dering atau suara lain di telinga.
- Gejala neurologis, seperti masalah pada gerakan atau pemikiran.
Papilledema terjadi ketika adanya peningkatan tekanan di sekitar otak yang terjadi karena penumpukan CSF. Ketika tekanan otak meningkat, akibatnya saraf optik membengkak saat memasuki bola mata di cakram optik atau optic disc.
Cairan serebrospinal atau CSF adalah cairan yang mengelilingi otak dan saraf optik. Cairan ini berfungsi untuk menjaga keduanya agar tetap stabil dan melindungi dari kerusakan akibat gerakan tiba-tiba.
Selain karena kondisi medis, Papilledema juga bisa terjadi karena IIH (idiopathic intracranial hypertension). IIH merupakan kondisi langka ketika tubuh memproduksi terlalu banyak CSF atau tidak dapat mengalirkannya dengan baik.
Penyebab pasti dari kondisi ini masih belum jelas. Namun ada kemungkinan dipicu penggunaan obat-obatan tertentu, seperti litium, antibiotik, dan kortikosteroid.