Lionel Messi akhirnya menutup satu bab terpenting dalam perjalanan sepak bolanya. Messi mengumumkan pensiun dari Timnas Argentina setelah lebih dari dua dekade. Foto: Getty via BBC
JAKARTA, (ERAKINI) -Lionel Messi akhirnya menutup satu bab terpenting dalam perjalanan sepak bolanya. Bintang Argentina itu mengumumkan pensiun dari Timnas setelah lebih dari dua dekade mengenakan seragam La Albiceleste.
Keputusan itu disampaikan Messi dengan kalimat yang sarat emosi. Pada usia 39 tahun, ia mengaku masih mencintai Timnas Argentina, tetapi merasa waktunya telah tiba untuk meninggalkan panggung internasional.
“Waktu semakin singkat, bab-bab kehidupan mulai ditutup, dan ini adalah salah satu bab yang sangat menyakitkan bagi saya,” kata Messi dalam pernyataannya, Senin (31/8/2026).
“Saya mencintai, telah mencintai, dan akan selalu mencintai menjadi bagian dari tim nasional.”
Messi menegaskan dirinya telah memberikan seluruh kemampuan yang dimiliki untuk Argentina.
“Saya telah memberikan segalanya. Saya sudah tidak punya apa pun lagi untuk diberikan. Selain itu, ada banyak pemain muda yang sangat hebat yang sedang berkembang dan mereka pantas mendapatkan kesempatan,” ujarnya.
Pensiunnya Messi menjadi akhir dari salah satu era paling monumental dalam sejarah sepak bola Argentina. Ia menjalani debut bersama tim senior Argentina pada 2005, ketika masuk sebagai pemain pengganti pada menit ke-63 dalam laga persahabatan melawan Hungaria.
Debut itu nyaris menjadi awal yang buruk. Kurang dari satu menit setelah masuk lapangan, Messi diganjar kartu merah langsung setelah sikunya mengenai bek Hungaria, Vilmos Vanczak.
Namun, insiden tersebut tidak menghalangi perjalanan panjangnya.
Selama 21 tahun berikutnya, Messi menjelma menjadi pemain paling produktif dan paling banyak tampil dalam sejarah tim nasional Argentina.
Ia mencatat 207 penampilan dan mencetak 125 gol. Dua angka tersebut menempatkannya sebagai pemain dengan jumlah caps terbanyak sekaligus pencetak gol terbanyak sepanjang masa Argentina.
Puncak Pengabdiannya di Piala Dunia Qatar 2022
Sebagai kapten, Messi membawa Argentina menjadi juara dunia setelah mengalahkan Prancis melalui drama adu penalti dalam salah satu final paling berkesan sepanjang sejarah Piala Dunia.
Trofi itu sekaligus menjadi jawaban atas penantian panjang Messi bersama Argentina.
Jalan Messi bersama Argentina tidak selalu dipenuhi kemenangan. Pada 2016, ia sempat mengumumkan pensiun dari sepak bola internasional setelah Argentina kembali kalah dari Chile pada final Copa America.
Kekalahan tersebut terasa semakin berat karena Messi gagal mengeksekusi penalti dalam adu penalti. Saat itu, Argentina baru saja mengalami kekalahan di empat final turnamen besar dalam kurun sembilan tahun.
Messi kemudian membatalkan keputusan pensiunnya. Ia kembali memperkuat Argentina dan perlahan mengubah kisah kegagalan menjadi kisah kejayaan.
Dua gelar Copa America dan satu gelar Piala Dunia kemudian menjadi bagian dari warisan yang ditinggalkannya.
Piala Dunia 2026 Menjadi Titik Balik
Piala Dunia 2026 menjadi turnamen internasional terakhir Messi. Ia tampil produktif dengan mencetak delapan gol dan memberikan empat assist. Namun, perjalanan Argentina berakhir di final setelah dikalahkan Spanyol.
Kekalahan itu, meski hanya dengan skor 0-1, disebut menjadi salah satu faktor yang mempercepat keputusan Messi untuk mengakhiri karier internasionalnya.
Kepergian yang Menyakitkan
Keputusan pensiun itu semakin emosional setelah ayah Messi, Jorge Messi, meninggal dunia pada usia 68 tahun setelah lama menderita sakit.
Messi mengungkapkan bahwa ia sebenarnya telah menulis pesan pensiunnya pada 21 Juli, dua hari setelah kekalahan Argentina dari Spanyol di final Piala Dunia.
“Setelah apa yang terjadi dengan ayah saya, hari ini saya semakin yakin dibandingkan sebelumnya,” tulis Messi melalui Instagram.
Bagi Messi, keputusan tersebut bukan sekadar persoalan usia atau kemampuan fisik. Ada kesadaran bahwa sebuah generasi baru telah datang dan Argentina membutuhkan ruang bagi para pemain muda.
Angka-angka yang Sulit Diulang
Warisan Messi di level internasional juga tergambar melalui deretan statistik yang luar biasa. Ia mencetak 125 gol dalam 207 pertandingan untuk Argentina.
Di Piala Dunia, Messi telah mencetak 21 gol, hanya terpaut satu gol dari Kylian Mbappe yang berada di posisi teratas dengan 22 gol.
Messi juga tercatat sebagai pemain dengan jumlah assist terbanyak dalam sejarah Piala Dunia.
Ia mengoleksi 12 assist sepanjang penampilannya di turnamen tersebut, dengan 10 di antaranya terjadi pada fase gugur. Tidak ada pemain lain yang tercatat memiliki lebih dari delapan assist secara keseluruhan.
Di level internasional, Messi menempati posisi kedua dalam daftar pencetak gol terbanyak sepanjang masa dengan 125 gol, di bawah Cristiano Ronaldo yang telah mencetak 146 gol.
“Sekarang Saya Akan Menjadi Salah Satu dari Kalian”
Dalam pesan perpisahannya, Messi juga menyampaikan terima kasih kepada para pendukung Argentina yang telah mendampinginya selama dua dekade.
“Terima kasih atas seluruh cinta selama 20 tahun terakhir. Saya akan sangat merindukan mendengar suara kalian dari lapangan,” katanya
Kini, Messi mengatakan dirinya akan menyaksikan Argentina dari luar lapangan. “Sekarang saya hanya akan menjadi salah satu dari kalian, selalu bersorak dan mendukung dari pinggir lapangan.”
Ia meninggalkan tim nasional dengan rasa bangga karena telah memberikan momen-momen yang dahulu hanya bisa dibayangkan bersama rekan-rekannya.
“Saya pergi dengan ketenangan pikiran dan kebanggaan karena telah memberikan kalian, bersama rekan-rekan setim saya, momen-momen yang hanya pernah kami impikan. Luar biasa bisa mengalami semua ini bersama kalian. Saya mencintai kalian.”
Bab Terakhir di Level Klub Pensiun dari tim nasional tidak berarti Messi berhenti bermain sepak bola.
Kariernya masih berlanjut bersama Inter Miami di Major League Soccer (MLS). Kontraknya bersama klub Amerika Serikat tersebut berlaku hingga akhir musim 2028.
Spekulasi mengenai kemungkinan Messi mengakhiri karier di klub masa kecilnya, Newell's Old Boys, juga kembali muncul.
Namun, ada sejumlah pertimbangan yang membuat kemungkinan tersebut belum jelas. Salah satunya adalah persoalan membawa keluarganya kembali ke Rosario, kota yang dalam beberapa tahun terakhir menghadapi persoalan keamanan.
Selain itu, level kompetisi sepak bola Argentina juga disebut menjadi pertimbangan bagi Messi.
Kemungkinan kembali ke Newell's Old Boys mungkin tetap terbuka, setidaknya untuk beberapa pertandingan sebagai penutup romantis kariernya.
Namun, Inter Miami berpotensi menjadi klub terakhir dalam perjalanan panjang Messi.
Pada akhirnya, keputusan mengenai kapan benar-benar berhenti bermain tetap berada di tangan Messi.
Jika ia merasa tidak ingin menunggu hingga kontraknya berakhir pada 2028, ia bisa saja mengakhiri karier lebih cepat.
Satu hal yang pasti, Argentina telah kehilangan kapten sekaligus simbol dari sebuah generasi.
Messi datang ke tim nasional sebagai pemain muda dengan debut yang berakhir kartu merah.
Ia pergi sebagai juara dunia, pemilik rekor gol dan penampilan terbanyak Argentina, serta salah satu pemain terbesar yang pernah mengenakan seragam La Albiceleste.
Dua puluh satu tahun lebih perjalanan itu kini sampai pada bab terakhir. Dan bagi sepak bola Argentina, mungkin tidak akan pernah ada lagi perjalanan yang benar-benar sama.