Prancis dan Spanyol akan bertemu pada semifinal pada Rabu (15/7/2026) dini hari pukul 02.00 WIB.Foto: Getty Images vis BBC
JAKARTA, (ERAKINI) – Prancis dan Spanyol akan bertemu pada semifinalPiala Dunia 2026 pada Rabu (15/7) dini hari pukul 02.00 WIB. Laga ini mempertemukan tim peringkat pertama dan ketiga dunia berdasarkan ranking FIFA.
Piala Dunia 2026 kini hanya menyisakan empat tim. Menariknya seluruh semifinalis merupakan negara yang berada di jajaran teratas peringkat FIFA, yakni Prancis (1), Argentina (2), Spanyol (3), dan Inggris (4). Jadi, babak empat besar kali ini jelas menghadirkan duel para raksasa sepak bola dunia, dengan laga menjadi salah satu pertandingan paling dinantikan.
Prancis datang dengan ambisi mencetak sejarah sebagai tim ketiga yang mampu mencapai tiga final Piala Dunia secara beruntun setelah Jerman dan Brasil. Sementara itu, Spanyol berupaya melaju ke final untuk kedua kalinya sepanjang sejarah setelah terakhir menjadi juara pada 2010.
Duel kedua negara diprediksi berlangsung sengit karena mempertemukan dua filosofi berbeda. Prancis mengandalkan kekuatan serangan cepat dengan deretan pemain bintang, seperti Kylian Mbappe, Ousmane Dembele, Michael Olise, dan Desire Doue.
Pertanyaan besar sepanjang turnamen adalah bagaimana cara menghentikan lini serang Prancis yang sangat produktif. Hampir setiap pemain depan Les Bleus memiliki kemampuan menciptakan ancaman.
Namun, Spanyol memiliki senjata untuk menghadapi kekuatan tersebut. La Roja dikenal dengan kemampuan mengontrol permainan melalui penguasaan bola. Hingga semifinal, Spanyol menjadi salah satu tim dengan rata-rata penguasaan bola tertinggi di turnamen.
Gaya bermain sabar dalam membangun serangan membuat Spanyol sulit ditekan. Mereka menjadi satu-satunya tim yang mampu mencatat lebih dari 1.000 operan di area sepertiga akhir lapangan dengan tingkat akurasi mencapai 83,9 persen.
Selain efektif menyerang, penguasaan bola juga menjadi cara Spanyol bertahan. Dengan jarang kehilangan bola, Spanyol mampu membatasi peluang lawan.
Meski demikian, performa kreatif Spanyol belum sepenuhnya maksimal. Mereka masih membutuhkan kontribusi pemain pengganti seperti Mikel Merino untuk melewati Portugal dan Belgia di babak sebelumnya.
Lamine Yamal juga belum tampil dalam kondisi terbaik, sementara Nico Williams masih terganggu cedera. Catatan empat gol Mikel Oyarzabal pun banyak tercipta saat menghadapi lawan yang relatif lebih lemah.
Di sisi lain, Prancis memiliki catatan ofensif yang lebih mengesankan. Les Bleus menjadi tim dengan jumlah gol terbanyak kedua di turnamen, mencatat tembakan tepat sasaran terbanyak, serta memiliki nilai expected goals (xG) tinggi.
Mbappe menjadi pemain utama dalam serangan Prancis dan bersaing dalam daftar pencetak gol terbanyak. Namun, kekuatan mereka tidak hanya bergantung pada sang kapten karena banyak pemain lain mampu menjadi pembeda. Jika Mbappe berhasil dihentikan, Prancis masih memiliki banyak opsi berbahaya di lini depan.
Meski begitu, Spanyol memiliki keunggulan tersendiri melalui keseimbangan antara taktik dan teknik. Di bawah asuhan Luis de la Fuente, permainan mereka berkembang menjadi lebih dinamis dibanding era sebelumnya yang hanya mengandalkan penguasaan bola.
Rodri dan Lamine Yamal menjadi pemain kunci dalam perubahan tersebut. Rodri berperan sebagai pengatur tempo sekaligus penghubung permainan, sedangkan Yamal menjadi ancaman besar dalam situasi satu lawan satu.
Pertarungan lini tengah diperkirakan menjadi faktor penentu. Spanyol memiliki Rodri, Pedri, dan Dani Olmo yang mampu mengontrol permainan, sementara Prancis kemungkinan mengandalkan Manu Kone dan Adrien Rabiot.
Dengan jumlah pemain yang lebih banyak di lini tengah, Spanyol berpeluang memberikan tekanan besar kepada Prancis. Kemampuan mereka melakukan tekanan balik setelah kehilangan bola juga menjadi salah satu senjata utama.
Meski banyak pihak masih menjagokan Prancis untuk melaju ke final, Spanyol bukan lawan yang mudah ditaklukkan. Jika mampu menemukan permainan terbaiknya, La Roja memiliki peluang besar untuk menggagalkan langkah sang favorit.