Hebatnya, Curaçao menyelesaikan babak kualifikasi zona Concacaf tanpa terkalahkan untuk memastikan tiket pertama ke putaran final Piala Dunia dengan status juara Grup B.
Ini menjadi penampilan perdana negara kepulauan Karibia tersebut di putaran final, sekaligus memecahkan rekor sebagai negara terkecil yang pernah tampil di Piala Dunia. Rekor itu sebelumnya dipegang Islandia yang tampil pada Piala Dunia 2018. Namun ukuran Islandia jauh lebih besar dari Curaçao yang hanya berpenduduk sekitar 150.000 jiwa.
Rakyat Curaçao di seantero negeri langsung bersorak dan berpesta begitu peluit akhir laga terakhir kontra Jamaika dibunyikan, Rabu dini hari lalu. Hasil imbang tanpa gol sudah cukup untuk mengamankan tempat mereka di turnamen paling akbar di bumi.
Namun, kondisi berbeda dialami jutaan rakyat Indonesia. Publik Tanah Air sulit memercayai Curaçao tampil di Piala Dunia. Capaian Curaçao semakin menambah sakit hati jutaan penggemar Garuda. Alasannya sederhana, Timnas Indonesia pernah dua kali mengalahkan Curaçao di laga uji coba. Bahkan komentator sepak bola Indonesia, Hadi Gunawan alias Bung Ahay, ikut menyoroti keberhasilan Curaçao menembus Piala Dunia 2026.
Dalam unggahannya di X, Bung Ahay mengaitkan bahwa Timnas Indonesia pernah dua kali mengalahkan Curaçao pada 2022. “Curaçao lolos ke Piala Dunia 2026, tapi di 2022 Timnas Indonesia asuhan Shin Tae-yong (STY) bisa dua kali kalahkan Curaçao,” tulis Bung Ahay, dikutip Jumat (21/11/2025).
Timnas Indonesia memang pernah dua kali meraih kemenangan atas Curaçao dalam laga uji coba pada 24 dan 27 September 2022. Saat itu, skuad Garuda asuhan STY menang 3-2 dan 2-1. Curaçao juga pernah diasuh Patrick Kluivert, pelatih yang didepak PSSI karena gagal membawa Timnas Indonesia ke Piala Dunia 2025.
Kluivert menjabat sebagai pelatih utama Curaçao pada Maret 2015 hingga Mei 2016. Ia sempat kembali lagi ke Curaçao pada 2021 sebagai pelatih interim (caretaker manager) menggantikan pelatih kepala Guus Hiddink yang sedang pemulihan Covid-19.
Selama menjadi pelatih kepala, Kluivert mendampingi Curaçao di 8 pertandingan dengan hasil 3 menang, 2 imbang, dan 3 kalah. Sementara sebagai pelatih interim, ia melakoni 6 pertandingan dengan hasil 1 menang, 2 imbang, dan 3 kalah.
Pada Kualifikasi Piala Dunia 2018, Curaçao di bawah asuhan Kluivert terhenti di putaran ketiga. Kemudian pada Kualifikasi Piala Dunia 2022, Kluivert yang menjadi pelatih interim kembali gagal dan berhenti di putaran kedua.
Setelah lepas dari Kluivert, Curaçao sempat diarsiteki dua pelatih Belanda yakni Art Langeler (2022) dan Remko Bicentini (2022–2023). Keduanya tidak bertahan lama karena pada 2024, Dick Advocaat dipilih untuk mengawal Curaçao menuju Piala Dunia 2026. Langkah Curaçao mencari pelatih yang tepat akhirnya berbuah hasil.
Kunci Keberhasilan Curaçao
Dilansir FIFA, selama satu dekade terakhir sepak bola di Curaçao memang berkembang pesat, dan puncaknya adalah keberhasilan lolos ke Piala Dunia 2026 untuk pertama kalinya. The Blue Wave kini bersiap menuju panggung terbesar di Amerika Utara tahun depan.
Di bawah asuhan pelatih berpengalaman Dick Advocaat, Curaçao menuntaskan laga kualifikasi gemilang tanpa sekali pun menelan kekalahan dalam 10 pertandingan. Mereka melaju dengan kemenangan atas Barbados, Aruba, Saint Lucia, dan Haiti pada putaran kedua, dengan total 15 gol.
Penampilan impresif berlanjut di putaran ketiga, di mana Curaçao berada satu grup dengan raksasa Karibia Jamaika, Trinidad dan Tobago, serta Bermuda. Kemenangan kandang 2-0 atas Jamaika menjadi salah satu sorotan. Begitu juga kemenangan telak 7-0 di Bermuda pada pembukaan jendela pertandingan November.
Dengan pemain seperti Tahith Chong, Kenji Gorre, serta duet bersaudara Leandro dan Juninho Bacuna, Curaçao akan datang ke Piala Dunia 2026 dengan penuh kepercayaan diri bahwa gelombang baru Blue Wave dari Karibia selatan ini baru saja dimulai.
Curaçao terletak 37 mil dari pantai Venezuela dan baru menjadi negara dalam Kerajaan Belanda pada 2010, setelah pembubaran Antillen Belanda. Sepuluh tahun lalu, mereka berada di peringkat ke-150 dunia versi FIFA. Kini mereka berada di posisi ke-82.
Format Piala Dunia 2026 yang diperluas menjadi 48 tim, ditambah fakta bahwa tuan rumah Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat lolos otomatis, memberi peluang jauh lebih besar bagi Curaçao.
Advocaat Incar Piala Dunia di Usia 78 Tahun
Pria yang telah membawa Curaçao ke Piala Dunia ini adalah salah satu pelatih paling berpengalaman di dunia. Sejak Januari 2024, pelatih asal Belanda itu menangani timnas kedelapannya, setelah tiga periode bersama Timnas Belanda, serta menangani Uni Emirat Arab, Korea Selatan, Belgia, Rusia, Serbia, dan Irak.
Ia membawa Belanda mencapai perempat final Piala Dunia 1994 dan melatih Korea Selatan di fase grup Piala Dunia 2006. Daftar klub yang pernah ia latih mencakup PSV Eindhoven, Rangers, Zenit St Petersburg, Sunderland, dan Feyenoord.
Advocaat menerima jabatan pelatih Curaçao setelah sengketa pembayaran antara pemain dan federasi sepak bola negara itu diselesaikan. Sejak awal ia langsung menargetkan lolos ke Piala Dunia 2026.
Kini, Advocaat resmi menjadi pelatih tertua sepanjang sejarah Piala Dunia, memecahkan rekor Otto Rehhagel yang melatih Yunani pada usia 71 tahun pada 2010.
Bakat Belanda seperti Timnas Indonesia
Dari sisi pemain, Curaçao dan Indonesia memiliki banyak persamaan. Dilansir BBC, mayoritas pemain dalam skuad Curaçao lahir di Belanda namun memiliki garis keturunan sehingga memenuhi syarat membela Curaçao, mirip strategi PSSI untuk Timnas Indonesia.
Skuad Curaçao antara lain diperkuat bek Livingston Joshua Brenet, gelandang Rotherham Ar’jany Martha, penyerang Middlesbrough Sontje Hansen, serta gelandang Sheffield United Tahith Chong yang lahir di Curaçao dan pernah tampil di Liga Inggris bersama Manchester United.
Bagi Juninho Bacuna, bermain untuk Curaçao juga menjadi kesempatan tampil bersama kakaknya, Leandro Bacuna sang kapten, setelah sebelumnya membela Belanda U-21. “Saya mulai bermain untuk Curaçao pada 2019 dan itu keputusan besar,” kata Juninho.
“Saya memilih cepat untuk bermain bagi Curaçao, salah satu alasannya adalah saya bisa bermain bersama kakak saya dan keluarga bisa melihat kami bermain bersama,” lanjutnya.
Ia menambahkan bahwa perkembangan pesat sepak bola Curaçao akan menarik lebih banyak pemain keturunan Belanda untuk bergabung dengan The Blue Family.
“Kami melihat semakin banyak pemain muda yang masih berpeluang membela Belanda, tetapi mereka memilih bermain untuk Curaçao dan membuat tim ini semakin kuat,” kata Bacuna.
Kini sejarah telah tercipta. Curaçao membuat kejutan di Piala Dunia 2026, prestasi yang belum bisa diwujudkan Indonesia. Garuda mungkin saja bisa mengikuti jejak Curaçao pada Piala Dunia edisi berikutnya. Semoga!