Masalah kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kian mengkhawatirkan. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan sebanyak 283.270 orang di tujuh provinsi terserang Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) selama periode 18 Agustus hingga 13 Oktober 2026. Tujuh provinsi tersebut yaitu Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Riau, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Jambi. Dari total jumlah itu, sebanyak 219.559 penderita berusia di atas lima tahun, sementara 63.711 lainnya merupakan anak-anak berusia di bawah lima tahun. Lonjakan kasus ini menjadi peringatan serius mengenai dampak pencemaran udara terhadap kesehatan masyarakat, terutama kelompok usia rentan.
Dampak buruk kabut asap juga dirasakan langsung oleh anak-anak dan balita yang membutuhkan penanganan medis. Rumah Aman Asap yang diinisiasi JPIC Kalimantan bersama Yayasan Atei Kawal Namuei dan dikelola #KoalisiRAKAT mencatat, sejak Agustus 2026, puluhan anak harus mendapatkan bantuan oksigen serta terapi nebulizer untuk membantu mengatasi gangguan pernapasan. Kondisi ini turut mengganggu aktivitas pendidikan karena sejumlah anak terpaksa mengikuti pembelajaran jarak jauh, menggunakan masker, dan membatasi kegiatan di luar ruangan demi mengurangi paparan asap.
Situasi tersebut menuntut langkah penanganan yang lebih cepat dan serius dari pemerintah untuk melindungi masyarakat, khususnya bayi dan anak-anak. Krisis udara bersih tidak cukup diatasi dengan imbauan menggunakan masker, tetapi juga memerlukan upaya nyata untuk mengendalikan kebakaran, menekan sumber pencemaran, serta menjamin akses layanan kesehatan bagi warga terdampak. Suara dan kepedulian publik dibutuhkan agar penderitaan para korban tidak berlarut-larut dan penanganan karhutla menjadi prioritas demi menyelamatkan kesehatan serta masa depan generasi muda.