Citra Satelit NASA Tampilkan Langit Indonedia Merah Pekat
Tim RedaksiJumat, 16 Oktober 2026 | 16:34 WIB

Citra satelit NASA pada pertengahan Oktober 2026 memperlihatkan peningkatan konsentrasi karbon monoksida (CO) di atmosfer yang ditandai dengan dominasi warna merah pada peta wilayah Indonesia. Berdasarkan pemantauan NASA Worldview pada 4–14 Oktober dan NASA Eyes on the Earth pada 12–14 Oktober 2026, sebaran polutan tersebut menjadi perhatian, terutama di kawasan Sumatra dan Kalimantan yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Visualisasi itu menunjukkan konsentrasi CO mencapai batas tertinggi pada skala warna merah, yakni 160 bagian per miliar berdasarkan volume (parts per billion by volume atau ppbv).
Namun, dominasi warna merah pada peta tersebut tidak serta-merta menandakan seluruh wilayah Indonesia mengalami kebakaran atau diselimuti kabut asap dengan tingkat kepekatan seragam. Visualisasi NASA menggambarkan konsentrasi karbon monoksida di atmosfer, bukan ketebalan asap yang dapat diamati langsung di permukaan tanah. CO merupakan salah satu gas pencemar yang dihasilkan dari proses pembakaran, termasuk kebakaran vegetasi dan lahan gambut. Oleh karena itu, peningkatan konsentrasinya menjadi indikator yang perlu diperhatikan dalam memantau kondisi atmosfer dan potensi pencemaran udara.
Sumatra dan Kalimantan menjadi kawasan yang perlu diwaspadai karena memiliki bentang hutan serta lahan gambut yang rentan terbakar ketika kondisi lingkungan mengering. Kebakaran di lahan gambut juga lebih sulit dipadamkan lantaran api dapat menjalar di bawah permukaan tanah dan bertahan dalam waktu lama. Kondisi tersebut menegaskan pentingnya pemantauan berbasis satelit, penanganan titik api secara cepat, serta penguatan upaya pencegahan dan pemadaman karhutla agar kebakaran tidak meluas dan dampak pencemaran udara terhadap masyarakat dapat ditekan.














