Search

Miris! Imbas Kelaparan, 1.300 Lebih Pengungsi Tewas di Wilayah Tigray Ethiopia

ADDIS ABABA, (ERAKINI) - Lebih dari 1.300 orang meninggal karena kelaparan di kamp-kamp pengungsi di wilayah Tigray, Ethiopia yang rawan konflik, selama tiga tahun terakhir, kata seorang pejabat setempat kepada AFP pada hari Senin (23/3/2026).

Perang saudara antara pemerintah federal dan pasukan dari wilayah Tigray utara pada tahun 2020-2022 menewaskan sedikitnya 600.000 orang menurut perkiraan Uni Afrika. Sekitar satu juta orang masih mengungsi di kamp-kamp. “Selama tiga tahun terakhir, 1.309 orang meninggal karena kelaparan dan kekurangan obat-obatan di kamp-kamp (pengungsi internal) di sekitar Tigray,” kata Gebreselassie Tareke, seorang direktur di Kantor Urusan Sosial Tigray, kepada AFP.

“Situasinya semakin memburuk, kami tidak menerima cukup bantuan dari pemerintah federal dan LSM internasional mengurangi bantuan mereka,” kata Gebreselassie.

Addis Ababa menghentikan pendanaan ke Tigray beberapa bulan lalu karena ketegangan politik meningkat. “Banyak orang yang berisiko,” kata Gebreselassie, seraya mencatat bahwa salah satu kamp yang paling terdampak menampung 150.000 orang.

Pasukan Ethiopia dan pasukan Tigray kembali bentrok pada November dan Januari lalu. Otoritas federal menuduh Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF), yang telah lama menjadi partai dominan di wilayah tersebut, membangun hubungan dengan Eritrea pada saat sebagian orang khawatir perang akan segera terjadi antara negara-negara tetangga tersebut.

Eritrea menuduh Ethiopia yang terkurung daratan merencanakan untuk merebut kota pelabuhan Assab. Pasukan telah berkumpul di sepanjang perbatasan selama berminggu-minggu.

Bulan lalu, Volker Turk, Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, menyerukan kepada pihak-pihak terkait untuk mengambil langkah-langkah de-eskalasi yang mendesak “sebelum terlambat.”