LONDON, (ERAKINI) - Qatar, Yordania, dan Mesir secara tegas mengecam aksi Israel yang dinilai berulang kali melanggar kesepakatan gencatan senjata di Jalur Gaza. Ketiga negara memperingatkan bahwa eskalasi serangan tersebut berpotensi memperburuk situasi keamanan dan menggagalkan berbagai upaya regional maupun internasional untuk memulihkan stabilitas.
Melansir Arab News, Israel pada Sabtu (31/1/2026) melancarkan serangkaian serangan udara intens ke Gaza, yang disebut sebagai salah satu yang paling masif sejak gencatan senjata disepakati pada Oktober lalu. Otoritas kesehatan Palestina melaporkan lebih dari 30 orang tewas, termasuk tiga anak perempuan dari satu keluarga, akibat serangan yang menyasar rumah warga, tenda pengungsian, hingga kantor kepolisian.
Kementerian Luar Negeri Qatar menilai pelanggaran tersebut telah menyebabkan jatuhnya korban jiwa dan luka-luka, sekaligus mengancam jalur diplomasi yang bertujuan meredakan ketegangan. Doha menegaskan bahwa aksi militer tersebut merusak upaya menciptakan kondisi yang lebih aman bagi warga Palestina di Gaza, sebagaimana dilaporkan Kantor Berita Qatar.
Qatar mendesak Israel untuk sepenuhnya mematuhi kesepakatan gencatan senjata, serta menyerukan semua pihak agar menahan diri demi keberhasilan fase kedua rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan pelaksanaan Resolusi Dewan Keamanan PBB 2803. Selain itu, Doha menekankan pentingnya membangun kondisi yang mendukung pemulihan serta rekonstruksi awal di Gaza.
Nada serupa disampaikan Yordania. Kementerian Luar Negeri dan Urusan Ekspatriat Yordania menyebut insiden terbaru sebagai pelanggaran nyata terhadap gencatan senjata dan eskalasi yang berbahaya. Juru bicara kementerian, Fouad Majali, menuntut kepatuhan penuh terhadap seluruh ketentuan kesepakatan, termasuk penyaluran bantuan kemanusiaan ke Gaza secara cepat, memadai, dan tanpa hambatan, serta kelanjutan fase kedua perjanjian tersebut.
Majali juga menyerukan komunitas internasional untuk menjalankan tanggung jawab hukum dan moralnya guna memastikan Israel mematuhi kesepakatan. Ia memperingatkan bahwa tindakan provokatif dapat menggagalkan upaya de-eskalasi. Dalam pernyataannya, Yordania kembali menegaskan dukungan terhadap solusi dua negara, dengan berdirinya negara Palestina merdeka di perbatasan 4 Juni 1967 dan Yerusalem Timur sebagai ibu kota, sejalan dengan Inisiatif Perdamaian Arab.
Sementara itu, Mesir turut melontarkan kecaman keras atas apa yang disebutnya sebagai pelanggaran berulang Israel yang telah menewaskan sedikitnya 25 warga Palestina. Kairo memperingatkan bahwa situasi tersebut ibarat “kotak korek api” yang siap memicu ledakan konflik lebih luas dan mengancam upaya stabilisasi Gaza, baik dari sisi keamanan maupun kemanusiaan.
Dalam pernyataan resminya, Kementerian Luar Negeri Mesir mengimbau seluruh pihak untuk menunjukkan pengekangan maksimal, menjaga komitmen gencatan senjata, serta menghindari langkah-langkah yang dapat merusak proses politik. Mesir juga menekankan pentingnya mempertahankan momentum menuju pemulihan dan rekonstruksi awal, seraya menegaskan bahwa pelanggaran yang terus berlanjut secara langsung membahayakan prospek stabilitas jangka panjang di kawasan tersebut.