Search

Arus Balik Lebaran 2026: 1,4 Juta Kendaraan Pemudik Belum Kembali ke Jakarta

SEMARANG, (ERAKINI) – Sebanyak 42 persen pemudik diprediksi belum kembali ke Jakarta dan sekitarnya pada arus balik Lebaran 2026. Untuk itu, meski Operasi Ketupat 2026 telah ditutup, Korlantas Polri tetap memantau pergerakan volume kendaraan.

“Kalau kami lihat dari proyeksinya, masih 42 persen yang belum masuk ke Jakarta. Ini masih kami kelola. Tentunya Operasi Ketupat 2026 sudah selesai, tetapi kegiatan rutin kepolisian ditingkatkan,” ujar Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri Irjen Pol Agus Suryonugroho di Semarang, Jawa Tengah, Kamis (26/3/2026).

Agus membeberkan, hingga Rabu (25/3/2026) sudah sekitar 58 persen kendaraan pemudik yang kembali ke Jakarta dan sekitarnya. “Jadi sudah 1.958.000 kendaraan, dan sisa sekitar 1,4 juta,” ungkapnya.

Menurut Agus, dari sisa kendaraan yang belum kembali ke Jakarta tersebut, hanya sekitar 250.000 unit yang masih perlu dikelola di jalur Trans Jawa. Angka tersebut dinilai relatif terkendali.

Ia menyebut kondisi lalu lintas mulai melandai dibandingkan hari-hari sebelumnya. Hal ini menjadi dasar kepolisian untuk menyesuaikan rekayasa lalu lintas, termasuk penghentian sebagian skema one way.

“Kita akan melihat prediksi, flow, dan traffic counting volume kendaraan yang menuju ke Jakarta,” katanya.

Polri telah resmi menutup pelaksanaan Operasi Ketupat 2026 pada Rabu (25/3/2026) malam. Kendati demikian, Korlantas Polri tetap melanjutkan pengamanan melalui kegiatan rutin yang ditingkatkan (KRYD) guna mengantisipasi potensi gelombang kedua puncak arus balik.

Petugas masih disiagakan di lapangan untuk mengamankan pergerakan pemudik lokal di wilayah aglomerasi. “Saat ini masih ada kegiatan di kampung halaman yang dimungkinkan pada 29 Maret akan terjadi puncak arus balik kedua. Kami sudah siap,” ucapnya.

Hingga kini, arus lalu lintas di sejumlah wilayah aglomerasi seperti Bandung, Bali, dan Malang Raya, juga masih terpantau padat akibat aktivitas silaturahmi masyarakat.

“Jalan arteri hingga saat ini masih cukup padat di wilayah aglomerasi seperti Bandung, Bali, dan Malang Raya, karena masih banyak masyarakat melakukan silaturahmi lokal,” tuturnya.

Agus menyebut puncak arus balik Lebaran terjadi pada Selasa (24/3/2026) dengan volume kendaraan mencapai 256.388 unit. Angka ini tertinggi sepanjang sejarah arus balik Lebaran. “Ini terbanyak sepanjang sejarah. Tahun lalu 223.163, jadi ada peningkatan 14,8 persen,” jelasnya.

Meski terjadi peningkatan, arus lalu lintas dinilai tetap terkendali berkat penerapan sejumlah rekayasa, salah satunya sistem satu arah (one way) nasional.

Angka kecelakaan juga mengalami penurunan. Pihaknya mencatat fatalitas korban meninggal dunia turun sekitar 28–30 persen dibandingkan periode sebelumnya.

Begitu juga dari sisi situasi harkamtibmas (pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat), tidak terdapat kejadian menonjol.

Kapan Puncak Arus Balik?
Sementara itu, Dirgakkum Korlantas Polri Brigjen Pol Faizal mengungkapkan pihaknya masih terus memantau pergerakan volume kendaraan untuk memastikan kapan waktu puncak arus balik menuju Jakarta. Penentuan dilakukan dengan membandingkan data harian melalui sistem traffic counting.

“Kita prediksinya mungkin Selasa (24/3/2026). Tapi kita menggunakan basis data, apakah Rabu (25/3), Jumat (27/3), atau Sabtu (28/3), tentunya harus ada pembandingnya,” kata Faizal.

Menurut dia, penggunaan data akurat menjadi acuan utama dalam menentukan langkah rekayasa lalu lintas ke depan. Meski puncak arus balik masih dalam pemantauan, seluruh jajaran kepolisian dipastikan siap siaga.

“Namun pada prinsipnya, kapan pun terjadi lonjakan, kami sudah siap dengan kolaborasi sesuai perintah Kapolri dan Kakorlantas,” tegasnya.

Ia menambahkan, fokus utama petugas di lapangan adalah memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat, dengan mengutamakan keselamatan pengguna jalan.

“Kita harus memberikan yang terbaik kepada masyarakat. Yang penting adalah selamat, selamat, dan selamat,” tukasnya.