Search

Jelang Idulfitri, Pemerintah Pastikan Stok Energi Nasional Tetap Aman

JAKARTA, (ERAKINI) - Pemerintah memastikan cadangan energi nasional tetap dalam kondisi aman menjelang Hari Raya Idulfitri. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengatakan, pemerintah terus memantau ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) serta energi lainnya guna memastikan kebutuhan masyarakat selama periode Lebaran dapat terpenuhi.

“Jadi kami laporkan Bapak, untuk menyangkut dengan BBM, baik crude, LPG, maupun minyak jadi, untuk menjelang hari raya dan ke depan, insyaallah bisa kita atasi dengan komunikasi yang baik,” ujar Bahlil seperti dilansir dari situs Sekretariat Presiden, Senin (16/3/2026).

Ia menjelaskan, ketersediaan BBM nasional saat ini masih berada di atas batas minimal cadangan yang ditetapkan pemerintah. Cadangan tersebut mencakup berbagai jenis BBM seperti RON 90, RON 92, RON 98, serta solar dan avtur yang dinilai cukup aman untuk memenuhi kebutuhan dalam beberapa waktu ke depan.

Meski demikian, pemerintah tetap berkomitmen memperkuat kedaulatan energi nasional. Salah satu langkah yang ditempuh yakni dengan meningkatkan pencampuran biodiesel serta mempercepat pengembangan kilang minyak dalam negeri.

Menurut Bahlil, penyelesaian proyek pengembangan kilang melalui program Refinery Development Master Plan (RDMP) akan memberikan dampak signifikan dalam mengurangi ketergantungan impor BBM.

“Jadi RDMP kita selesaikan, ini cukup membantu kita, Pak. Mengurangi impor bensin kita 5,5 juta ton, sama BBM solar 3,5 juta,” kata dia.

Lebih lanjut, Bahlil menuturkan bahwa pembangunan refinery dan kilang domestik menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kapasitas produksi dalam negeri sekaligus menekan impor energi.

Ia menjelaskan, impor minyak mentah masih dilakukan untuk menutup selisih antara kebutuhan nasional dengan kemampuan produksi dalam negeri.

“Yang pada akhirnya kemudian nanti kalau lifting kita nggak mencapai 1,6 juta, selisih antara kebutuhan crude dan kemampuan kita lifting, itulah yang kita impor,” ujarnya.

Sementara itu, terkait ketersediaan LPG, Bahlil mengatakan pemerintah juga menyiapkan sejumlah skenario guna memastikan pasokan tetap terjaga. Salah satunya melalui diversifikasi negara pemasok LPG.

Saat ini, sekitar 70 persen impor LPG Indonesia berasal dari Amerika Serikat, sementara 20 persen lainnya dari kawasan Timur Tengah, dan sisanya dari beberapa negara lain seperti Australia.

“Dengan kondisi sekarang, yang di Middle East kita pecah lagi, untuk kita ambil kontrak jangka panjang dengan Amerika dan beberapa negara lain,” kata Bahlil.