Search

Bersiap Masuk Musim Kemarau, BMKG: Cuaca Cerah Mendominasi, tapi Hujan Masih Intai Sejumlah Wilayah

JAKARTA, (ERAKINI) - Peralihan musim mulai terasa di berbagai daerah. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa dalam periode 20–23 April 2026, hujan dengan intensitas ringan hingga sedang masih terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Bahkan, beberapa daerah mengalami curah hujan cukup tinggi.

Melansir laman resmi BMKG, Sabtu (25/4/2026), wilayah dengan hujan lebat hingga sangat lebat tercatat antara lain di Nusa Tenggara Timur, Aceh, Kalimantan Tengah, Kepulauan Riau, Jawa Timur, Jawa Barat, serta Sumatera Barat. Kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai fenomena atmosfer seperti Gelombang Rossby Ekuatorial, Gelombang Kelvin, Mixed Rossby-Gravity, serta Madden-Julian Oscillation.

Selain itu, terbentuknya sirkulasi siklonik di perairan barat Sumatra hingga wilayah Jawa turut memicu pertemuan dan perlambatan angin (konvergensi dan konfluensi), yang memperbesar peluang terbentuknya awan hujan. Faktor lain seperti suhu permukaan yang hangat di siang hari dan kelembapan udara yang masih tinggi juga memperkuat potensi hujan konvektif.

Prakiraan Sepekan ke Depan

Dalam satu minggu ke depan, kondisi iklim global seperti El Niño–Southern Oscillation dan Indian Ocean Dipole berada dalam fase netral, sehingga tidak memberikan dampak signifikan terhadap cuaca di Indonesia.

Namun, angin monsun dari Australia diperkirakan mulai menguat, membawa massa udara yang lebih kering. Dominasi angin timur di berbagai wilayah menjadi tanda bahwa Indonesia perlahan memasuki musim kemarau.

Meski demikian, hujan masih berpotensi terjadi. Aktivitas Madden-Julian Oscillation diperkirakan memengaruhi wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Papua Selatan. Sementara itu, gelombang Kelvin dan Rossby diprediksi aktif di banyak wilayah seperti Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.

BMKG juga memperingatkan adanya potensi pembentukan sirkulasi siklonik di perairan barat Aceh yang dapat memicu zona konvergensi memanjang dari Sumatra Utara hingga Aceh. Selain itu, kondisi atmosfer yang labil secara lokal berpotensi memicu hujan di beberapa daerah seperti Riau, Banten, Kalimantan Barat, Papua Barat, dan wilayah lainnya.