Ilustrasi - BMKG menyampaikan bahwa pada Dasarian II Juli 2026, Purworejo Jawa Tengah mencatat rekor hari tanpa hujan terpanjang, yaitu 80 hari. (Foto: Pixabay).
JAKARTA, (ERAKINI) – Musim kemarau kian mencengkeram Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa sebagian besar wilayah Tanah Air kini telah memasuki fase kemarau, ditandai dengan semakin panjangnya periode Hari Tanpa Hujan (HTH) di berbagai daerah. Bahkan, satu wilayah di Jawa Tengah mencatat rekor sebagai lokasi dengan durasi tanpa hujan terlama di Indonesia, sebagaimana analisis perkembangan musim kemarau pada Dasarian II .
Berdasarkan analisis BMKG hingga Dasarian II Juli 2026, sebanyak 509 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 72,8 persen wilayah Indonesia telah resmi memasuki musim kemarau. Angka tersebut menunjukkan bahwa kondisi kering terus meluas dan diperkirakan masih akan mendominasi dalam beberapa waktu ke depan.
Fenomena tersebut semakin terlihat dari meningkatnya jumlah titik pengamatan yang mengalami Hari Tanpa Hujan dalam kategori panjang hingga ekstrem panjang.
BMKG mencatat sebanyak 1.366 titik pengamatan mengalami HTH kategori panjang, yakni selama 21–30 hari. Selanjutnya, 943 titik pengamatan masuk kategori sangat panjang dengan durasi 31–60 hari. Sementara itu, 70 titik pengamatan di wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara telah mengalami HTH kategori ekstrem panjang, yakni lebih dari 60 hari.
Rekor terpanjang terjadi di Pos Hujan RPH Katerban, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, yang mencatat 80 hari berturut-turut tanpa hujan, menjadi durasi HTH terlama yang terpantau hingga pertengahan Juli 2026.
Meski musim kemarau telah menjangkau sebagian besar Indonesia, BMKG menegaskan bahwa peluang hujan dengan intensitas tinggi belum sepenuhnya hilang. Dinamika atmosfer regional masih menciptakan kondisi yang mendukung pertumbuhan awan hujan di sejumlah wilayah.
Dalam dua hari terakhir, hujan dengan intensitas lebat masih tercatat di beberapa daerah, antara lain Sumatera Selatan dengan curah hujan mencapai 79 milimeter per hari, Aceh sebesar 75 milimeter per hari, Sumatera Barat 69 milimeter per hari, Sulawesi Utara 56 milimeter per hari, serta Kepulauan Riau 55 milimeter per hari.
Menurut BMKG, kondisi tersebut dipengaruhi oleh sejumlah fenomena atmosfer yang masih aktif. Gelombang Kelvin terpantau melintasi wilayah utara Pulau Sumatra hingga Sulawesi bagian tengah, sementara aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) bergerak di kawasan Sumatra bagian tengah hingga selatan.
Selain itu, keberadaan Bibit Siklon Tropis 92W di Laut Filipina, sebelah utara Maluku Utara, turut memberikan dampak tidak langsung berupa peningkatan potensi hujan, khususnya di wilayah Sulawesi Utara. Kombinasi berbagai sistem atmosfer tersebut meningkatkan pasokan uap air sehingga pembentukan awan hujan masih cukup intens, terutama di kawasan Indonesia bagian barat dan utara.
Melihat kondisi cuaca yang masih dinamis, BMKG mengingatkan masyarakat agar tidak lengah meskipun musim kemarau terus meluas. Masyarakat diimbau pemerintah daerah, serta seluruh pemangku kepentingan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang masih dapat terjadi sewaktu-waktu. BMKG juga meminta seluruh pihak terus mengikuti informasi dan peringatan cuaca terbaru sebagai dasar dalam melakukan langkah mitigasi.