Pengasuh Ponpes At-Thohiriyyah Semarang KH Yusuf Masykuri saat menyampaikan mauidhah hasanah pada Reuni Persaudaraan Santri Alumni At-Thohiriyyah Semarang (PESAT) di Kelurahan Mangunharjo, Tembalang, Kota Semarang, Rabu (25/12/2024). (Foto: Erakini)
SEMARANG, (ERAKINI) - Pengasuh Pondok Pesantren At-Thohiriyyah Kota SemarangKH Yusuf Masykuri menilai reuni adalah kegiatan yang positif karena mampu menciptakan rasa keguyuban tinggi bahkan bisa berdampak pada ketenangan hati. Lewat , pikiran juga bisa tenang karena di antara anggota bisa saling bertemu sekaligus mendoakan.
"Reuni itu bisa menjadi obat karena silaturahmi membuat kita menjadi rukun, tidak merasa paling tinggi tapi semua merasa setara. Reuni juga mampu menjadikan kita lebih ikhlas atas segala yang diterima dari Allah. Jadi pikiran negatif yang macam-macam bisa terbuang," ujar KH Yusuf Masykuri saat menyampaikan mauidhah hasanah pada Reuni Persaudaraan Santri Alumni At-Thohiriyyah Semarang (PESAT) di Kelurahan Mangunharjo, Tembalang, Kota Semarang, Rabu (25/12/2024).
KH Yusuf Masykuri menekankan, dalam melakoni kehidupan akan lebih baik jika seseorang memiliki prinsip agar diberi kecukupan, bukan kegelimangan harta. Sebab, dengan harta melimpah, seringkali orang justru diperbudak oleh perhiasan dunia tersebut. Untuk itu, KH Yusuf mengajak para santri untuk memegang teguh keimanan di tengah tantangan hidup yang semakin kompleks saat ini.
"Karena bagi orang yang beriman, memandang harta itu bukan segalanya. Bahkan harta harus kita perbudak untuk mencapai kebaikan-kebaikan. Jadilah orang yang kaya hati. Rasulullah juga tidak pernah menimbun harta berlebihan bahkan kepada Allah hanya meminta kecukupan, bukan kekayaan yang melimpah," terang alumnus Universitas Islam Madinah tersebut.
Di depan para santri yang sekitar 25 tahun lalu mondok di Ponpes At-Thohiriyyah, Pedurungan, Kota Semarang itu, KH Yusuf mengajak para alumni untuk membiasakan hidup ikhlas dan tidak sombong. Dengan mengumpamakan buah semangka, sikap rendah hati akan selalu dihargai orang di manapun dan kapanpun. Ini juga sesuai dengan janji Allah yang akan mengangkat derajat orang yang tidak sombong dan berilmu luas.
"Tirulah guru-guru, kiai-kiai dan orang-orang yang ikhlas seperti KH Thohir. Mereka adalah orang bersungguh-sungguh dalam urusan dunia sekaligus bersungguh-sungguh untuk hal akhirat. Mari jalani hidup ini hanya untuk mendapat ridha dari Allah, bukan yang lain," ungkapnya.
Ketua Umum PESAT Abdul Hakim juga menilai reuni santri memiliki makna yang sangat strategis bagi pribadi santri maupun masyarakat. Reuni berarti sebuah ikhtiar untuk mengokohkan kembali nilai-nilai kebersamaan yang pernah terjalin agar kian solid di tengah berbagai keterbatasan yang ada. Upaya ini memang tidak mudah karena masing-masing santri telah berkeluarga, memiliki profesi berbeda dan aktivitas lain yang tak lagi sama. Untuk pondasi utama yang harus ditata adalah adanya kesadaran untuk memahami perbedaan tersebut sehingga menjadi kuat, bukannya ancaman.
"Reuni adalah ajang untuk mengikat persaudaraan menjadi lebih kuat dan erat. Jangan sampai malah sebaliknya, ada reuni persaudaraan pecah, kesatuan terbelah dan bahkan muncul fitnah. Nauzubillah," ujar Hakim.
Makna lain dari reuni adalah menjadi ajang untuk memotivasi. Aspek motivasi ini banyak baik dari sisi spiritual, emosional, finansial dan sosial. Maka reuni ini juga seperti ruang refleksi agar bisa menata kehidupan masa depan yang lebih taktis dan strategis.
"Untuk itu mari jadikan reunian ini jadi sarana menggali inspirasi positif, bukan pemicu iri apalagi dengki. Reuni adalah kunci untuk membuka pintu-pintu kebaikan baru dan lembaran baru," terang Hakim yang juga jurnalis media massa nasional ini.
Makna terakhir reuni, ungkap Hakim, adalah ajang dakwah. Ini beralasan sebab dari saling bersilaturahmi, maka akan memunculkan rasa syukur, penebalan iman dan keinginan untuk berbuat banyak kebaikan di masa mendatang. Dari perspektif ilmu dakwah, kebaikan akan bisa tercapai washilah atau medianya juga dikemas dengan baik. Media inilah yang bisa dimaknai reuni untuk menyampaikan pesan (mesaage/maudhu) kepada yang lain agar ada perubahan menjadi lebih baik, tertata, beradab dan lain sebagainya.
"Luas dan dalamnya makna reuni ini harus dipahami benar dan dijadikan momentum untuk melakukan lompatan kehidupan yang lebih progresif. Perubahan itu sunnatullah, tapi kesadaran diri untuk mau berubah itu sangat penting seperti perintah Allah di Surat Ar-Ra'd ayat 11," jelasnya.