Walikota Klaim Kasus Stunting di Surabaya Terus Menurun
Abdul Rahman Ahdori
Surabaya, (Erakini)--Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan, selama tiga tahun terakhir, prevalensi stunting di Kota Surabaya mengalami penurunan signifikan, yakni pada 2020 terdapat 12.788 kasus stunting, pada 2021 turun menjadi 6.722 kasus, sedangkan hingga akhir Desember 2022 turun menjadi 923 kasus, dan pada pertengahan Juni 2023 turun menjadi 712 kasus.
Oleh karena itu, dia memastikan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) setempat untuk penanganan stunting di daerah itu sudah sesuai dengan kebutuhan.
"Bahkan tidak ada anggaran perjalanan dinas penanganan stunting yang melebihi target di Kota Surabaya," kata dia dalam keterangan tertulis, Sabtu (17/6/2023).
Dia menjelaskan APBD Surabaya sudah dialokasikan per rekening sesuai keperluan sehingga bisa dicairkan ketika hanya akan diperlukan.
"Kan tidak mungkin, anggarannya untuk dibelikan kudapan, tapi perjalanan dinasnya dinaikkan pesawat. Nah, ini saya juga bingung, tapi saya pastikan di Surabaya tidak yang seperti itu (perjalanan dinasnya, red.), karena anggarannya sudah per rekening," katanya.
Ia menyampaikan APBD 2023 senilai Rp11,2 triliun itu, 50,2 persen untuk penanganan anak di Surabaya. Alokasi dana untuk anak itu terdiri atas berbagai item, antara lain penanganan stunting, gizi buruk, pencegahan kematian ibu dan anak.
"Ini saya lihat secara globalnya ya, karena stunting itu tidak bisa dilihat dari satu sisi. Karena stunting itu bisa dimulai dari pranikah, terus gizi buruk, kematian ibu dan anak. Karena menangani itu tidak hanya memberi asupan gizi untuk saja, tapi yang akan menikah juga kita beri zat besi, setelah menikah diberi apa lagi," ucapnya.


















