Guru Besar UIN Jakarta: Digital Scholarchy Jadi Kunci Penguatan Kompetensi Digital Dosen PTKI
Abdul Rahman Ahdori
JAKARTA, (ERAKINI) - Guru Besar Pemikiran Pendidikan Islam Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Suwendi, menegaskan pentingnya konsep Digital Scholarchy dalam memperkuat kompetensi digital dosen Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI).
Menurut Prof Suwendi, kompetensi digital dosen tidak cukup hanya diukur dari kemampuan menggunakan aplikasi dan teknologi. Dosen juga harus mampu mengintegrasikan teknologi secara kritis, reflektif, pedagogis, dan bertanggung jawab dalam praktik akademik.
Hal itu disampaikan Prof Suwendi saat mempresentasikan hasil penelitiannya dalam The 72nd TEFLIN International Conference yang digelar bersamaan dengan The 10th ICEMS (International Conference on Education in Muslim Societies) dan The 2nd TESOL Research Colloquium di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Konferensi tersebut mengangkat tema “Transforming Language Education: Innovation, Inclusion, and Connection for a Sustainable Future”. Kegiatan dibuka oleh Menteri Agama RI Prof Nasaruddin Umar dan dihadiri Rektor beserta para Wakil Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Dekan FITK, komunitas pengajar Bahasa Inggris se-Indonesia, serta ratusan panelis dan pemangku kepentingan pendidikan.
Dalam penelitian berjudul Technology Acceptance Model: Perceptions, Usefulness, and Digital Skills of Lecturers in Islamic Higher Education Institutions, Prof Suwendi mengkaji dinamika penerimaan teknologi digital di lingkungan PTKI.
Penelitian tersebut secara khusus melihat hubungan antara persepsi dosen, kemanfaatan teknologi, dan keterampilan digital dalam proses akademik. Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods melalui survei daring dan wawancara mendalam terhadap dosen PTKI dari berbagai latar belakang keilmuan dan perguruan tinggi.
Prof Suwendi menjelaskan, hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi terhadap kemudahan dan kemanfaatan teknologi memiliki korelasi signifikan dengan penerimaan teknologi.
Namun, keterampilan digital faktual dosen tidak selalu berjalan seiring dengan keinginan untuk mengadopsi teknologi. Faktor afektif dan normatif juga turut memengaruhi proses tersebut.
“Kesadaran dosen terhadap pentingnya teknologi sudah semakin tinggi. Namun, kesadaran tersebut belum selalu berujung pada pemanfaatan teknologi secara optimal dalam Tridharma Perguruan Tinggi,” ujar Prof Suwendi.
Menurut dia, salah satu persoalan yang ditemukan dalam penelitian tersebut adalah keberagaman kemampuan digital di kalangan dosen.
Sebagian dosen telah mengenal dan menggunakan perangkat kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI). Namun, pemanfaatannya belum sepenuhnya diarahkan untuk memperkuat proses pembelajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa digitalisasi PTKI tidak hanya berkaitan dengan penerimaan terhadap teknologi, tetapi juga menyangkut kualitas kompetensi akademik dalam menggunakan teknologi.
Pentingnya Digital Scholarchy
Suwendi mengatakan, pada titik inilah konsep Digital Scholarchy menjadi penting. Konsep tersebut menempatkan kemampuan digital dosen dalam kerangka tradisi keilmuan.
Dengan demikian, teknologi tidak digunakan semata-mata karena tersedia atau mudah digunakan, tetapi karena mampu memperkuat proses berpikir, pembelajaran, produksi pengetahuan, dan praktik akademik secara bertanggung jawab.
“Digital Scholarchy memberi perspektif bahwa dosen tidak cukup menjadi pengguna teknologi. Dosen perlu menjadi akademisi yang mampu menilai, mengkritisi, mengintegrasikan, dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab sesuai dengan kebutuhan pedagogis dan nilai-nilai keilmuan,” jelasnya.
Temuan penelitian juga menunjukkan bahwa penerimaan teknologi di PTKI dipengaruhi oleh konstruksi nilai-nilai keilmuan Islam dan dukungan kolegial digital.
Karena itu, pengembangan profesional dosen dinilai perlu diarahkan tidak hanya pada penguasaan perangkat teknologi, tetapi juga pada penguatan kemampuan berpikir kritis, etika penggunaan AI, integritas akademik, serta kemampuan menghubungkan teknologi, pedagogi, dan substansi keilmuan.
Prof Suwendi merekomendasikan agar pelatihan digital bagi dosen PTKI dikembangkan secara lebih terstruktur dan berbasis kebutuhan.
Pelatihan, kata dia, perlu bergeser dari sekadar tool-based training menuju penguatan Digital Scholarchy. Hal itu dapat dilakukan melalui pengembangan komunitas praktik antardosen, berbagi praktik baik, serta pemberian ruang dan insentif bagi inovasi pembelajaran berbasis teknologi.
Dengan pendekatan tersebut, transformasi digital PTKI diharapkan tidak berhenti pada penguasaan perangkat teknologi, tetapi berkembang menjadi ekosistem akademik yang responsible, adaptive, and scholarly.
Penelitian Suwendi mengintegrasikan tiga kerangka, yakni Technology Acceptance Model (TAM) 3, Digital Competence Framework for Educators (DigCompEdu), dan Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK).
Kontribusi penelitian tersebut terletak pada integrasi lintas kerangka serta upaya membaca penerimaan teknologi dalam konteks nilai-nilai keilmuan Islam dan dukungan kolegial di lingkungan PTKI.
Prof Suwendi menyebut penelitian tersebut masih memiliki keterbatasan, terutama pada cakupan geografis dan jumlah responden. Penelitian itu juga belum memasukkan variabel AI literacy.
Untuk penelitian selanjutnya, ia mendorong penggunaan pendekatan longitudinal dan digital ethnography, dengan melibatkan perspektif mahasiswa. Selain itu, perlu dikembangkan pedoman etika penggunaan AI yang lebih kontekstual bagi pendidikan tinggi keagamaan.
















