Foto udara yang memperlihatkan banjir yang melanda permukiman warga di sisi Sungai Wulan di Desa Ketanjung, Karanganyar, Kabupaten Demok, Jawa Tengah, Senin (18/3/2024). Foto: Antara/Aji Setyawan
YOGYAKARTA, (ERAKINI) - Pakar Geologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Salahuddin Husein mengatakan Selat Muria tidak mungkin muncul lagi imbas banjir yang berulang di sejumlah wilayah Jawa Tengah.
"Secara geologis tidak usah khawatir dan sekitarnya akan jadi laut lagi, karena yang berulang ini membawa sedimen yang membentuk dataran rendah," ujar Salahuddin dalam keterangan resminya, Senin (25/3/2024).
Salahuddin menjelaskan, dari aspek geologi, wilayah Demak, Juwana, dan Pati, memang mulanya merupakan Selat Muria yang berubah menjadi dataran rendah pada sekitar abad 10 hingga 15. Terbentuknya dataran tersebut karena adanya sedimen yang terbawa saat banjir berulang.
Tetapi, kata dia, Selat Muria tidak akan muncul lagi, lantaran proses geologi berupa erosi lajur perbukitan Kendeng dan lajur perbukitan Rembang yang melewati jejaring Sungai Tuntang, Sungai Serang, dan Sungai Juwana, masih terus berlangsung hingga saat ini, serta membawa sedimen yang cukup tinggi.
Kondisi tersebut menyebabkan pendangkalan di Selat Muria. "Wajar kalau banjir terjadi berulang. Ini bukan hal aneh, karena dataran rendah tersebut terbentuk karena luapan banjir," jelasnya.
Salahuddin membeberkan, proses sedimentasi sungai pada umumnya berlangsung saat banjir yang mengakibatkan endapan sedimen mengumpul menjadi dataran limpasan banjir.
Wilayah Demak, Pati, dan Juwana, merupakan dataran rendah hasil dari sedimentasi banjir dari Sungai Tuntang, Sungai Serang, dan Sungai Juwana. Dengan kata lain, Selat Muria menghilang dan menjadi dataran rendah seperti saat ini karena banjir di ketiga sungai tersebut.
Lebih lanjut, ia menuturkan adanya faktor perubahan lingkungan, terutama dampak dari pertumbuhan permukiman yang begitu pesat di wilayah dataran rendah bekas Selat Muria itu, juga berdampak secara geologis.
Dampak geologis yang ditimbulkan dari pemadatan lahan untuk pendirian bangunan serta penggunaan air tanah membuat tanah menjadi kompak, padat, dan agak turun.
Hal tersebut, kata dia, yang menyebabkan daerah Demak, Pati, dan Juwana rentan banjir. Terlebih di tengah meningkatnya bencana hidrometeorologis yang terjadi selama musim hujan saat ini.
Hujan dengan intensitas tinggi dan terus menerus meningkatkan debit air di wilayah hulu sungai sehingga memicu banjir ekstrem dan akan surut selama berhari-hari.
Untuk mengantisipasi bencana serupa di Demak dan sekitarnya, menurut Salahuddin, pemerintah perlu mengkaji ulang kapasitas tanggul sungai saat muncul potensi banjir ekstrem sehingga sungai-sungai di kawasan tersebut mampu membawa lebih banyak debit air hujan tanpa harus menyebabkan banjir.
Selain itu, Salahuddin menilai perlu adanya upaya pengawasan dan perawatan tanggul secara berkala, sehingga dapat mencegah tanggul longsor di sejumlah titik yang bisa menyebabkan pendangkalan sungai.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebelumnya juga menyatakan peristiwa banjir besar yang merendam Demak hingga Kudus tak ada kaitan dengan isyarat kemunculan kembali Selat Muria.
Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi Eko Soebowo mengungkapkan bahwa banjir yang terjadi, murni pengaruh alam akibat kondisi cuaca ekstrem. "Cuaca memang ekstrem dan daerah aliran sungai di wilayah sana tidak mampu menampung volume air hujan yang tinggi karena terjadi sedimentasi," tandasnya.
Eko mengungkapkan kegiatan pembabatan hutan dan perubahan tata guna lahan menjadi pemicu sedimentasi yang terjadi di sisi Selatan. Bahkan, pengambilan air tanah berlebihan membuat kawasan pesisir Pantai Utara Jawa mengalami penurunan muka tanah yang signifikan 5-10 cm per tahun.