Suasana diskusi Refleksi Akhir Tahun bertema “Mendialogkan NU Masa Depan” di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara pada Minggu (28/12/2025). (Foto: Ist)
KENDARI, (ERAKINI) - Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sulawesi Tenggara menggelar Refleksi Akhir Tahun bertema “Mendialogkan NU Masa Depan” di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara pada Minggu (28/12/2025). Kegiatan ini menjadi ruang konsolidasi sekaligus perenungan arah perjuangan NU di tengah dinamika sosial, keagamaan, dan kebangsaan yang terus berkembang.
Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Tenggara H Manshur. Hadir dalam kegiatan tersebut jajaran Mustasyar, Syuriyah, dan Tanfidziyah PWNU Sultra, serta perwakilan badan otonom (Banom) NU dari berbagai daerah di Sulawesi Tenggara.
Refleksi ini dikemas dalam format dialog terbuka dengan menghadirkan sejumlah tokoh sebagai pemantik diskusi. Mereka antara lain Ketua Tanfidziyah PWNU Sultra KH Muslim, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Prof Muhammad Ishom, Kasatgaswil Densus 88 Kompespol Masjaya, serta Prof Nasaruddin Suyuthi. Para narasumber membahas berbagai isu keumatan dan kebangsaan serta tantangan NU di masa mendatang.
Dalam paparannya, Prof Muhammad Ishom secara khusus mengajak warga dan kader NU di Sulawesi Tenggara untuk menginternalisasikan nilai-nilai Mabādi’ Khairu Ummah dalam kehidupan pribadi, organisasi, dan sosial. Menurutnya, tantangan zaman menuntut NU tidak hanya kuat secara struktural, tetapi juga kokoh dalam moral dan integritas.
“Integritas adalah keselarasan antara iman, ilmu, ucapan, dan perbuatan. Merujuk pandangan Imam al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumiddin, jelas bahwa rusaknya seorang alim dapat berdampak pada rusaknya tatanan masyarakat. Karena itu, integritas ulama dan kader NU harus menjadi fondasi utama dalam menjaga kemaslahatan umat,” ujar Prof Ishom.
Lebih lanjut, Prof Ishom mengurai nilai dasar Mabādi’ Khairu Ummah yang dirumuskan oleh KH Achmad Siddiq. Nilai tersebut meliputi ash-shidq (kejujuran), al-amānah wal wafā’ bil ‘ahd (amanah dan menepati janji), al-‘adālah (keadilan), at-ta‘āwun (tolong-menolong), serta al-istiqāmah (konsistensi dalam kebaikan). Menurutnya, nilai-nilai tersebut harus menjadi karakter yang melekat pada setiap kader NU.
“Pada aspek kejujuran, ash-shidq merupakan dasar dakwah dan aktivitas sosial NU. Hal ini juga sudah jelaskan dalam Al-Qur’an serta literatur klasik yang menempatkan kejujuran sebagai fondasi kebajikan,” katanya.
Sementara itu, terkait amanah dan menepati janji, Prof Ishom mengingatkan bahwa jabatan di NU bukanlah kemuliaan, melainkan amanah. Pesan para ulama, kata dia, menegaskan bahwa pengkhianatan terhadap amanah dapat menjatuhkan martabat seseorang.
Nilai keadilan juga ditekankan sebagai prinsip utama NU dalam menjaga sikap moderat (tawassuth), seimbang (tawazun), dan toleran (tasamuh). Dengan menjunjung tinggi keadilan, NU diharapkan tetap menjadi penopang harmoni sosial dan persatuan bangsa.
Alumnus Pesantren Krapyak ini menyoroti pentingnya at-ta‘āwun atau tolong-menolong sebagai tradisi yang melekat dalam kultur jamaah dan gotong royong NU. Nilai ini dinilai relevan untuk memperkuat solidaritas sosial umat.
Menutup paparannya, Prof Ishom menekankan pentingnya istiqamah dalam menjaga nilai-nilai kebaikan. Ia menyinggung sejarah panjang NU, mulai dari Resolusi Jihad 1945 hingga Khittah 1926, yang menunjukkan integritas para ulama dalam menjaga agama dan negara.
“Di tengah tantangan berupa politik tanpa etika, korupsi, hoaks, dan lunturnya adab, saya mengajak seluruh kader NU kembali pada Mabādi’ Khairu Ummah demi menjaga NU, agama, dan masa depan umat,” pungkas Prof Ishom.