tradisi Ketuk Pintu yang dilaksanakan pada Sabtu 3 Februari 2024 di Kelenteng Tay Kak Sie, Gang Lombok, Kawasan Pecinan Semarang. Foto: Disbudpar Kota Semarang/Dok
SEMARANG, (ERAKINI) - Indahnya moderasi beragama benar-benar dirasakan masyarakat Jawa Tengah, termasuk warga Tionghoa dalam menyambut 2024. Mederasi beragama dipraktikkan saat acara Ketuk Pintu Pasar Imlek Semawis 2575.
Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata (Kopi Semawis) kembali menyelenggarakan Pasar Imlek Semawis 2575 di Kawasan Pecinan Semarang mulai Kamis (8/2/20224) Minggu (11/2/2024).
Ketua Kopi Semawis Harjanto Halim mengatakan, Pasar Imlek Semawis 2575 Tahun 2024 ini diadakan sangat sederhana. Ditandai dengan tradisi penting yaitu Tuk Panjang pada hari ini di arena Waroeng Semawis, Gang warung.
"Waroeng Semawis buka sampai hari Minggu, 11 Februari 2024. Banyak jajanan kuliner yang bisa Anda nikmati bersama keluarga," kata Harjanto dalam keterangannya.
Meski digelar sederhana, Harjanto memastikan Pasar Imlek Semawis 2024 menghadirkan banyak hal menarik. Mulai dari keanekaragaman kuliner yang memiliki cita rasa khas, hingga suguhan hiburan musik tradisional China.
Pada Imlek 2024 ini pihaknya memilih tema "Menggambar Naga, Menghias Mata". Tema yang diusung berasal dari pepatah Tionghoa yang berarti, melanjutkan hasil kerja pemimpin saat ini, disempurnakan, diperbaiki, dan menjadikan lebih baik lagi.
"Maknanya kalau Naga enggak ada matanya itu enggak bisa sempurna. Nah, ini artinya disempurnakan, dijadikan lebih baik dan apa yang sudah baik diteruskan. Sehingga, kami berharap pemimpin berikutnya siapa pun dia ya teruskan yang sudah baik dijalankan lah, disempurnakan dan menjadi lebih baik itu harapannya,’’ ungkapnya.
Sebelum Pasar Imlek Semawis 2575 dibuka, terlebih dahulu dilakukan tradisi Ketuk Pintu yang dilaksanakan pada Sabtu 3 Februari 2024 di Kelenteng Tay Kak Sie, Gang Lombok, Kawasan Pecinan Semarang. Tradisi Ketuk Pintu itu menjadi acara perdana menandai digelarnya Pasar Imlek Semawis 2575 Tahun 2024.
Acara ini merupakan tradisi nguri-uri budaya Tionghoa kuno, dengan tujuan untuk meminta izin atau restu dari warga Pecinan untuk mengadakan kegiatan besar di sana. Acara dalam menyambut Tahun Baru Imlek itu pun syarat akulturasi budaya. Diawali dengan doa bersama secara Islam, dan tumpengan ala masyarakat Jawa.
Menariknya, meski dalam rangka menyambut Tahun Baru China, rangkaian tradisi Ketuk Pintu menggunakan cara Jawa, dan didoakan oleh pemuka agama Islam.
"Meski kita orang Tionghoa tinggal di Pecinan, tapi ini di Indonesia. Doa restu tidak hanya di Dewa-Dewa Klenteng, ada selamatan juga secara Jawa dan Islam dilakukan. Ini sebagai bentuk hormat kepada penjaga Tanah Jawa," ungkap Harjanto.
Untuk menunjukkan kebersamaan dalam kebhinekaan, acara kemudian dilanjutkan dengan sembahyangan bagi penganut Tridharma. Setelah itu, dengan diiringi Barongsai rombongan tamu berkeliling di klenteng-klenteng untuk membagikan tebu dan terong susu.
Terong susu yang berwarna kuning dan berbentuk seperti susu sapi diharapkan dapat membuat rejeki bisa selalu tersisa dan tidak kekurangan.
"Kita keliling klenteng bagi tebu dan terong susu. Maknanya tebu antep ing kalbu. Dan juga beranak pinak rasanya manis tumbuh subur berkembang. Jadi tahun ini diharapkan juga sama dan manis, tahun pertumbuhan untuk kita," imbuhnya.
Acara dalam tradisi Ketuk Pintu Pasar Imlek Semawis 2575 Tahun 2024 itu menunjukkan semakin membaiknya praktik moderasi beragama di Jawa Tengah. Moderasi beragama adalah cara pandang, sikap, dan prilaku beragama yang sudah dianut dan dipraktikkan oleh sebagian besar penduduk Indonesia sejak dulu hingga sekarang.
Dalam konteks aqidah dan hubungan antarumat beragama, moderasi beragama adalah meyakini kebenaran agama sendiri, dan menghargai serta menghormati penganut agama lain yang meyakini agama mereka, tanpa harus membenarkannya.
Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) telah menjadikan konsep moderasi beragama sebagai salah satu program nasional dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).
Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas saat penutupan Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) ke-23 di UIN Walisongo Semarang, Sabtu (3/2/2024) kembali menggarisbawahi pentingnya moderasi beragama sebagai modal berkontribusi nyata. Untuk itu, penguatan moderasi beragama terus dilakukan Kemenag dalam beberapa tahun terakhir.
"Kita harap, penguatan moderasi beragama bisa menjadi kontribusi Indonesia dalam menjawab persoalan kontemporer dan menjaga perdamaian dunia,” kata Gus Men, sapaan akrabnya Menag.
Menurut Gus Men, moderasi beragama merupakan salah satu solusi terbaik saat ini dalam mengantisipasi potensi konflik di negara yang memiliki keragaman dan kompleksitas seperti Indonesia.