Para juara Kompetisi Debat Piala Wali Kota 2025 yang digelar HMPSIH SCU, Kota Semarang. Foto: Dok. HMPSIH SCU
SEMARANG, (ERAKINI) – Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum (HMPSIH) Fakultas Hukum dan Komunikasi (FHK) Soegijapranata Catholic University (SCU) menggelar Kompetisi Debat Piala Wali Kota Semarang 2025. Kompetisi diikuti 12 SMA di Kota Semarang dengan tema besar “Dialektika dan Rasionalitas: Pilar Merawat Demokrasi Indonesia.”
Saat partai final, mempertemukan SMAN 4 Semarang dan SMA Kolese Loyola. Membahas legalisasi judi online. SMAN 4 sebagai tim kontra, sementara SMA Kolase Loyola sebagai tim pro.
Pada gelaran yang dihelat pada 28 – 30 Juli 2025 di Gedung Albertus, Kampus 1 SCU Bendan, Gajahmungkur, Kota Semarang, SMA Kolase Loyola berhasil menyabet gelar juara.
Ketua Acara, Stefanus Savano, mengemukakan kegiatan ini bukan soal menang dan kalah, melainkan jadi sarana saling menginspirasi dan mendorong lahirnya inovasi demi Indonesia yang lebih baik.
“Debat ini bukan sekadar ajang kompetisi melainkan ruang dialektika yang diberikan bagi generasi muda untuk mengasah akal sehat dan pola pikir kritis demi merawat demokrasi Indonesia,” kata dia pada keterangan tertulisnya yang diterima wartawan, dikutip Sabtu (2/8/2025).
Kompetisi ini, sambung dia, merupakan acara tahunan yang merupakan bentuk kerjasama selama bertahun-tahun antara FHK SCU dengan Wali Kota Semarang.
Dia menerangkan, pada sesi pertama (28/7/2025) adalah fase penyisihan diikuti 3 grup masing-masing 4 sekolah. Pada fase ini, setiap sekolah memiliki kesempatan 2 kali bertanding dalam dua babak. Sistem yang digunakan adalah sistem poin. Tim yang memiliki poin tertinggi yang bisa melaju ke babak selanjutnya.
Saat pembukaan, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Semarang Bambang Pramusinto datang mewakili Wali Kota Semarang dan Dekan FHK SCU Marcella Elwina Simanjuntak.
Marcella mengemukakan pentingnya etika, logika dan moral saat menyampaikan pendapat. Debat bukan sekadar soal siapa yang menang atau kalah, melainkan ruang untuk membangun logika bersama.
“Bukan asal bicara, tapi bagaimana kita menyampaikan kritik atau masukan dengan cara yang benar dan beretika. Menang atau kalah hanyalah bagian dari proses, tapi yang terpenting adalah bagaimana ide-ide itu disampaikan,” kata dia.
Sementara Bambang Pramusinto mengatakan kompetisi seperti ini sebagai ajang pembelajaran, melatih kedewasaan berpikir, ketangguhan emosional serta kemampuan menyampaikan gagasan secara rasional dan persuasif.
“Debat bukanlah medan perang, tetapi seperti olahraga perlu strategi, dedikasi, dan semangat untuk terus berkembang. Tanpa dedikasi, strategi tidak akan terimplementasi secara efektif. Tanpa strategi, dedikasi tidak akan mencapai hasil yang optimal.” jelasnya.
Savano menambahkan kompetisi ini juga jadi ruang dialektika yang dapat melahirkan generasi muda yang berani menyalakan idealismenya.
“Seperti kata Tan Malaka, bahwa idealisme merupakan kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda. Dari terbentur, terbentur, terbentur, kemudian terbentuk,” tutupnya.
Para juara mendapatkan piala dan uang jutaan rupiah. SMA Kolese Loyola jadi juara 1 dan timnya yakni Michelle Calisha Jaya jadi best sepaker. Jurinya 3 orang; terdiri 2 dosen setempat dan 1 jurnalis yakni Eka Setiawan yang baru saja menyelesaikan International Visitors Leadership Program (IVLP) 2025 di Amerika Serikat.
Peserta yang mengikuti kompetisi itu; SMA Kolese Loyola, SMA Kristen Tritunggal, SMA Karangturi, SMA Theresiana 01, SMA Krista Mitra, SMAN 1, SMAN 2, SMAN 4, SMAN 5, SMAN 8, SMAN 10 dan SMAN 15 Semarang.