Sigit Pamungkas bersiap menjadi orang nomor satu di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Sigit terpilih menjadi Bupati Sragen periode 2024-2029. Foto: Dok KSP
Berdasarkan Rapat Pleno Rekapitulasi Suara Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sragen yang berlangsung Selasa (3/12/2024), pasangan Sigit Pamungkas -Suroto dinyatakan sebagai pemenang Pilkada Sragen 2024. Sigit-Suroto unggul atas lawannya Untung Wibowo Sukowati-Suwardi (Bowo-Suwardi) dengan perolehan suara 330.830 atau 57 persen. Sedangkan Bowo-Suwardi hanya meraup 252.643 suara.
Sesuai jadwal, pasangan Sigit-Suroto akan dilantik menjadi Bupati dan Wakil Bupati Sragen pada Maret 2025. Hal ini akan menandai perubahan besar di Bumi Sukowati, dimana anak petani miskin menduduki kursi bupati. Sigit mampu meruntuhkan dominasi politik keluarga di Sragen yang sudah bertahan dua dekade. Selama 20 tahun terakhir, Sragen selalu dipimpin oleh keluarga Untung Wiyono.
Bagi masyarakat Sragen, Sigit Pamungkas sebenarnya bukan sosok yang asing. Ia lahir dan dibesarkan di daerah berjuluk Kabupaten Fosil. Hanya, Namanya tidak begitu menonjol mengingat latar belakang keluarganya dari ekonomi bawah.
Dirangkum dari berbagai sumber, Jumat (3/1/2025), Sigit Pamungkas lahir di Sragen pada 4 April 1976. Sigit merupakan anak petani kecil di Desa Mojorejo, Sragen. Anak bungsu dari tujuh bersaudara lahir dan tumbuh dalam serba keterbatasan. Kemiskinan orang tuanya memaksa dua saudaranya menjadi transmigran. Bahkan, satu saudaranya menjadi pembantu rumah tangga, dan tiga lainnya tidak pernah mencicipi bangku sekolah.
Saking hidup serba pas-pasan, Sigit masa kecil tinggal di kompleks pemakaman. Setiap hari ia hanya dapat memandangi batu nisan dan simbol kematian. Tapi, dari kesunyian itu tekadnya untuk bangkit semakin menyala. Keterbatasan itu tidak mematahkan semangat Sigit untuk maju. Bermodal tekad baja, ia sukses menjadi dosen hingga menjadi politikus nasional.
Sigit menghabiskan pendidikan SD hingga SMA di Sragen. Ia mengenyam pendidikan di SDN Mojorejo 1 Karangmalang, lalu melanjutkan ke SMPN 2 Kedawung. Setelah itu Sigit menempuh pendidikan di SMA Negeri 1 Sragen.
Lulus SMA, Sigit melanjutkan pendidikan ke Universitas Gadjah Mada (UGM), salah satu kampus terbaik di Indonesia. Sigit menyelesaikan pendidikan S1 di Jurusan Ilmu Pemerintahan FISIPOL UGM tahun 2001 dengan predikat Cum Laude. Saat masih mahasiswa Sigit aktif berorganisasi sebagai aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
Setelah lulus S1, Sigit melanjutkan pendidikan S2 di Program Pascasarjana Ilmu Politik UGM tahun 2009. Sigit sebenarnya sempat mendapat tawaran beasiswa ke Inggris, namun ia lebih memilih bertahan di UGM, karena alasan biaya.
Kariernya pun dimulai pada tahun 2002. Sigit diterima sebagai dosen di FISIP Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) hingga 2003. Setelah itu menjadi Asisten Dosen dan Peneliti FISIPOL UGM tahun 2003-2005. Pada tahun 2005 Sigit pun diterima menjadi dosen PNS di Jurusan Politik dan Pemerintahan FISIPOL UGM. Pada tahun 2009 Sigit diangkat menjadi dosen Program Pascasarjana Ilmu Politik FISIPOL UGM.
Di kampus almamaternya, Sigit dikenal sebagai seorang dosen yang produktif melahirkan buku tentang pemilu, kepartaian dan perilaku pemilih. Selain itu, berbagai tulisannya juga banyak dimuat di berbagai media nasional dan lokal pada periode 2012-2017.
Karier akademiknya mulai menanjak ketika ditunjuk menjadi asisten dosen dan penelit FISIPOL UGM hingga menjadi dosen tetap. Perhatiannya yang mendalam terhadap berbagai isu politik, termasuk kepartaian, pemilihan umum, politik nasional, otonomi daerah, dan birokrasi, membuat Sigit sering menulis makalah ilmiah yang dipublikasikan dalam jurnal akademik serta media lokal dan nasional.
Pada 2011 Sigit memulai langkah baru dalam kariernya. Sigit terpilih menjadi Ketua Badan Kehormatan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Tak butuh lama, ia kemudian naik ke level nasional.
Pada tahun 2012, ia dilantik sebagai anggota KPU pusat oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Ia saat itu menjadi anggota KPU termuda. Selama menjabat Komisioner KPU periode 2012-2017, Sigit memberikan kontribusi penting dalam proses pemilihan umum, memperjuangkan transparansi dan integritas dalam sistem pemilu di Indonesia.
Selain menjadi anggota KPU, Sigit juga terlibat dalam berbagai organisasi dan lembaga yang berfokus pada politik dan pemerintahan. Ia pernah menjabat Presidium Majelis Nasional Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Indonesia (KAHMI) periode 2017-2022.
Ia juga pernah menjabat Direktur Eksekutif Institute For Democracy and Welfarism (2007-2012). Minat Kajian dan keahliannya meliputi Tata Kelola Pemilu, Partai Politik dan Parlemen.
Tak hanya itu, Sigit aktif sebagai Internasional Observer pada pemilu di Ekuador (2013), Washington (2014), Sri Lanka (2015), dan Korea Selatan (2016). Selain itu ia melakukan bimbingan penyelenggaraan pemilu luar negeri 2014 di New York, Rusia, Kuba, Maroko, Kanada dan Brasil, Hongkong-Macau.
Ia juga pernah menulis buku “Perihal Pemilu” yang diterbitkan oleh Laboratorium Jurusan Politik dan Pemerintahan pada tahun 2009. Setelah berkiprah cukup lama di dunia kepemiluan, Sigit kemudian masuk ring Istana.
Sejak tahun 2020, ia menjabat sebagai Tenaga Ahli Utama di Kantor Staf Presiden (KSP). Dalam perannya ini, ia memberikan kontribusi signifikan terhadap pembuatan kebijakan pemerintah, khususnya dalam bidang politik dan elektoral.
Selain itu, di LAB 45, Sigit berperan sebagai Senior Fellow untuk kajian politik elektoral, di mana ia menganalisis dan memberikan wawasan mendalam mengenai dinamika politik Indonesia.
Pada tahun 2024, Sigit melakukan langkah besar yang belum pernah dilakukan orang lain di Sragen. Ia memutuskan maju sebagai calon bupati untuk melawan dinasti politik keluarga Untung Wiyono, yang sudah menguasai Sragen 20 tahun.
Sigit dinilai mampu membawa perubahan positif bagi Sragen. Visi dan misinya mencakup peningkatan kualitas pendidikan, perbaikan infrastruktur, serta penguatan ekonomi lokal, yang semuanya berakar pada prinsip-prinsip keadilan dan kesejahteraan sosial.
Siapa sangka, Sigit ternyata mampu memenangkan pertarungan Pilkada Sragen 2024. Kini, kehadiran Sigit membawa harapan baru bagi masyarakat Sragen dengan latar belakang akademis yang kuat, pengalaman profesional yang luas, dan komitmen terhadap pengembangan kebijakan publik yang efektif.