Tim Basarnas masih terus mencari korban yang diduga tertimbun dalam reruntuhan ambruknya musala Ponpes Al-Khoziny, Sidorja, pada Senin (29/9) sore. Foto: Dok Basarnas
SIDOARJO, (ERAKINI) – Keajaiban dan secercah harapan masih ada di balik tragedi ambruknya musala Ponpes Al-Khoziny, Sidorja, Jawa Timur, pada Senin (29/9) sore. Setelah hampir 3 hari terjebak di reruntuhan, seorang santri hari ini berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat.
Namun, di sisi lain, kabar duka tak terelakkan, karena satu korban lain ditemukan meninggal dunia. Tim Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) hari ini berhasil mengevakuasi dua korban dari reruntuhan bangunan.
“Berkat doa masyarakat semua, kami kembali berhasil mengevakuasi dua korban pada siang hari ini,” ujar Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, di Sidoarjo, Rabu (1/10/2025), dikutip dari Antara.
Syafii menjelaskan, kedua korban ditemukan dari sektor A1 dan A2. Saat dievakuasi, korban dari sektor A1 dinyatakan telah meninggal dunia. Sedangkan satu korban lain dari sektor A2 dalam keadaan sadar. “Mudah-mudahan korban yang kami serahkan ke tim medis dapat segera pulih kembali,” kata Syafii.
Menurutnya, kedua korban ini sebelumnya masuk dalam kategori “status kesadaran merah” yang telah ditetapkan tim penyelamat.
Syafii mengkonfirmasi bahwa hingga kini total korban yang berhasil dievakuasi oleh tim SAR dari bawah reruntuhan sebanyak 13 orang, dimana korban tewas menjadi empat orang. Sebelumnya Basarnas menyebutkan total 102 orang telah berhasil dievakuasi. Dengan rincian 91 santri melakukan evakuasi mandiri dan 11 orang dievakuasi oleh tim SAR. Dari jumlah itu 101 orang selamat dan 1 santri meninggal dunia.
Untuk jumlah pasti korban yang masih berada di bawah reruntuhan, pihaknya belum dapat memastikan. Adapun dari jumlah 15 titik korban yang berhasil ditemukan hingga hari ini bukan merupakan jumlah pasti total korban yang masih berada di bawah reruntuhan.
Kepala Subdirektorat Pengarahan dan Pengendalian Operasi (RPDO) Basarnas, Emi Freezer, menjelaskan dari jumlah tersebut delapan korban berada pada tingkat kesadaran hitam (meninggal dunia), sedangkan tujuh korban lainnya masuk kategori merah (masih hidup).
“Dari tujuh titik korban berstatus merah, enam di antaranya berada di kolom samping zona A2 yang sulit diakses langsung, hanya melalui celah kecil di kolom utama. Sementara satu korban lainnya berada di dekat kolom utama atau zona A1. Korban ini responsif namun tidak bisa menggerakkan badannya karena terhimpit bordes,” jelas Freezer.
Saat ini komunikasi dengan para korban berstatus merah dilakukan lewat suara. Untuk interaksi visual, tim SAR menggunakan kamera khusus yang bisa menembus celah-celah sempit di bawah reruntuhan.
Meski begitu, jumlah pasti korban yang masih terjebak belum bisa dipastikan. Temuan 15 titik korban tersebut belum merepresentasikan jumlah keseluruhan.
Bisa Bertahan Lebih dari 72 Jam Basarnas saat ini memprioritaskan suplai vital berupa oksigen, makanan, minuman, hingga infus, terhadap korban berstatus merah yang masih terjebak reruntuhan.
Syafii mengungkapkan bahwa para korban yang masih terjebak dengan status kesadaran merah memungkinkan untuk bertahan lebih dari batas waktu krusial 72 jam pasca-kejadian yang mendapatkan suplai vital.
"Saat tim dapat mencapai korban, melalui celah-celah di bawah reruntuhan yang tersedia, selama mendapatkan suplai makan, minum, serta infus, maka memungkinkan korban dapat bertahan lebih lama," kata Syafii.
Personel yang diterjunkan dalam proses evakuasi berjumlah 379 orang yang berasal dari 65 instansi berbeda. Ia menegaskan, setiap nyawa korban sangat berharga dan menjadi prioritas penyelamatan.
“Apalagi korban kali ini adalah anak-anak yang berpotensi membawa bangsa menjadi lebih baik di masa depan. Karena itu kami akan terus memaksimalkan upaya penyelamatan,” tegasnya.