Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Riau dilakukan untuk merespons risiko tinggi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di puncak musim kemarau 2025. (Foto: Media Center Riau)
PEKANBARU, (ERAKINI) – Provinsi Riau kini telah memasuki puncak musim kemarau. Hal ini berdampak pada sangat rendahnya curah hujan sehingga meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Demikian disampaikan oleh Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati. “Saat ini terdapat 135 titik panas di Provinsi Riau dengan sebaran tertinggi di wilayah Kabupaten Pelalawan dan Kabupaten Rokan Hilir. Berdasarkan pantauan hotspot tersebut, diperkirakan tingkat kemudahan terbakar wilayah Riau sangat tinggi pada 23-24 Juli, kemudian menurun pada 25-27 Juli dan kembali meningkat pada 29-31 Juli 2025,” kata Dwikorita dikutip dari laman resmi BMKG, Jumat (25/7/2025).
Berdasarkan prakiraan iklim terkini, lanjut dia, wilayah Riau khususnya pada dasarian ketiga bulan Juli diprediksi mengalami curah hujan rendah, yakni di bawah 20 mm. Kondisi ini berpotensi besar memicu peningkatan karhutla hingga awal Agustus mendatang.
Kondisi atmosfer saat ini, kata dia, cukup menantang. Tidak hanya pada kelembapan udara di tingkat yang sangat rendah, tetapi juga angin permukaan yang cenderung kencang sehingga dapat mempercepat penyebaran api. Ditambah lagi dengan jenis lahan gambut yang rawan mengalami kebakaran.
Menyikapi kondisi ini, Gubernur Riau Abdul wahid pun menyatakan status tanggap darurat karhutla. Oleh karena itu, BMKG bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) demi mengendalikan titik-titik api yang kian meningkat.
“BMKG secara rutin memperbarui prakiraan cuaca dan mendukung penyusunan strategi OMC agar penyemaian awan dilakukan di wilayah yang memiliki potensi pertumbuhan awan secara optimal. Dukungan data serta analisis meteorologi dan klimatologi merupakan kunci keberhasilan operasi ini,” lanjutnya.
Sementara itu, Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto mengatakan, upaya modifikasi cuaca sudah dilaksanakan sejak 21 Juli 2025 dengan total bahan semai 15.600 kg pada 17 sorti penyemaian awan. OMC difokuskan untuk menampung sebanyak mungkin air hujan pada lahan gambut dan menjaga kelembapannya, mengingat potensi kebakaran masih berlangsung pada bulan Agustus.
“Strategi pada modifikasi cuaca ini adalah menampung air hujan agar melembapkan lahan, terutama tanah gambut yang sangat rawan kebakaran. Kami menargetkan peningkatan tinggi muka air tanah gambut setidaknya mencapai di atas -40 cm agar potensi terbakar dapat ditekan. Rata-rata tinggi muka air saat ini berada di bawah 1 meter, dan ini sangat kritis,” tandasnya.
Hasil awal OMC, kata dia, menunjukkan dampak positif, seperti hujan dengan intensitas sedang yang turun di Kota Dumai pada 21 Juli 2025 pukul 16.06 WIB. “Penyemaian awan masih secara masif dilakukan hingga seminggu ke depan di titik-titik prioritas berdasarkan data prediksi harian BMKG dan hasil koordinasi dengan BNPB,” katanya.
Kembali ke Kepala BMKG, validasi terhadap sebaran titik panas sangat penting dilakukan dengan mengacu pada berbagai sumber data yang kredibel dan terverifikasi demi menjamin tingkat akurasi yang tinggi. Demikian itu strategis penanganan karhutla yang disusun menjadi lebih tepat sasaran, objektif, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Dr. Ir. Hanif Faisol Nurofiq serta Kepala BNPB Suharyanto menyatakan dukungan penuh terhadap optimalisasi operasi OMC. Hingga saat ini, BNPB telah menyiagakan hingga 2 pesawat penyemaian awan dan 5 unit helikopter water bombing serta ratusan pasukan darat dari Polres dan Kodim di wilayah paling rawan seperti Rokan Hulu (Rohul) dan Rokan Hilir (Rohil).
“Saat ini satu unit helikopter sudah kami kerahkan, dan kami telah menyiapkan dua unit tambahan yang akan diturunkan bila situasi semakin memburuk. Kami siap mengerahkan seluruh sumber daya yang dibutuhkan demi mengendalikan kebakaran dan melindungi Masyarakat,” ujar Suharyanto.