Dekan Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Banten Dr Masykur (kedua dari kanan) foto bersama Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, dalam peringatan The 47th Anniversary of the Victory of the Islamic Revolution of Iran di Hotel Indonesia Kempinski Jakarta, Selasa (10/2/2026). (Foto: UIN Banten)
JAKARTA, (ERKINI) - Dekan Fakultas Ushuluddin dan Adab (FUDA) Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Dr Masykur, menghadiri undangan Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, dalam peringatan The 47th Anniversary of the Victory of the Islamic Revolution of Iran di Hotel Indonesia Kempinski Jakarta, Selasa (10/2/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Dr Masykur memastikan pihaknya akan melanjutkan dan memperkuat kerja sama antara FUDA UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten dengan Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta serta Kedutaan Besar Iran di Indonesia.
Menurut dia, kolaborasi itu salah satunya diwujudkan melalui pengembangan Iran Corner di Perpustakaan FUDA sebagai sarana literasi dan penguatan kajian keislaman serta kebudayaan Iran.
“Kami berkomitmen untuk terus memperkuat kolaborasi akademik dan kebudayaan, termasuk pengembangan Iran Corner di Perpustakaan FUDA sebagai pusat referensi bagi mahasiswa dan dosen,” ujar Masykur dalam keterangannya, Jumat (13/2/2026).
Dr Masykur berharap kerja sama antara FUDAUIN Banten dan Kedutaan Besar Iran dapat semakin menumbuhkan literasi mahasiswa mengenai dunia Islam, sekaligus memperluas wawasan akademik lintas negara.
Dalam acara tersebut turut hadir Wakil Presiden RI periode 2004-2009 dan 2014-2019 Jusuf Kalla, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi, serta Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf atau Gus Irfan, lalu sejumlah pejabat negara dan duta besar negara sahabat juga turut hadir.
Dalam sambutannya, Boroujerdi memuji kebijakan politik luar negeri Indonesia yang nonblok di tengah dinamika geopolitik global yang kian kompleks. Dia menilai Indonesia tetap berpegang pada prinsip kemandirian, keseimbangan, dan dialog dalam menyikapi berbagai konflik serta rivalitas internasional.
Sikap tersebut, kata dia, sejalan dengan pendekatan yang dijalankan Iran dan sejumlah negara independen lainnya. Boroujerdi juga menyoroti lemahnya peran sejumlah lembaga internasional dalam merespons konflik global.
“Penerapan standar ganda serta minimnya efektivitas mekanisme multilateral telah menciptakan situasi yang menyerupai ‘hukum rimba’ dalam tatanan dunia,” tuturnya.
Sementara itu, Menteria PPPA, Arifah Fauzi menyampaikan bahwa kerja sama Indonesia dan Iran mencakup upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat, termasuk perempuan, anak, dan keluarga.
Ketua umum PP Muslimat NU ini menekankan pentingnya perlindungan terhadap kelompok rentan serta pemberdayaan perempuan di tengah dinamika global yang diwarnai ketidakpastian geopolitik, tantangan kemanusiaan, serta tekanan sosial dan ekonomi.
“Kami mendorong agar kerja sama Indonesia-Iran juga fokus pada isu-isu perlindungan terhadap kelompok rentan seperti perempuan dan anak,” kata Arifah.