Kelompok kesenian Paguyuban Seni Barongan Putro Setyo Budoyo latihan menggunakan gemelan hasil dukungan teknologi tepat guna di Desa Gempolsewu, Kendal. (Foto: Undip).
KENDAL, (ERAKINI) – Seni tradisional dan wisata pantai memiliki potensi besar untuk menggerakkan ekonomi masyarakat desa. Namun, potensi tersebut perlu didukung fasilitas yang memadai, pengelolaan yang baik, serta promosi yang mampu menjangkau lebih banyak pengunjung. Dukungan nyata untuk itulah yang dilakukan tim akademisi Universitas Diponegoro (Undip) bersama Universitas Wahid Hasyim () melalui program pemberdayaan masyarakat di Desa Gempolsewu, Kecamatan Rowosari, Kabupaten Kendal.
Mengusung konsep Hilirisasi Budaya Berbasis Experience Tourism, program ini menggabungkan seni tradisional Barongan dengan pengembangan kawasan wisata Pantai Moro Istimewa (Moris). Tujuannya, menjadikan budaya dan alam bukan sekadar tontonan atau tempat rekreasi, tetapi juga sumber penghidupan masyarakat yang berkelanjutan.
Program tersebut terlaksana melalui skema Pemberdayaan Berbasis Wilayah Ruang Lingkup Pemberdayaan Desa Binaan Tahun Anggaran 2026. Pendanaan diberikan secara penuh oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia.
Dukungan tersebut menjadi landasan bagi tim akademisi untuk mendampingi masyarakat dalam mengembangkan potensi seni budaya dan wisata pesisir. Pendampingan dilakukan secara terpadu, mulai dari penyediaan teknologi tepat guna, pembenahan fasilitas wisata, penguatan kelembagaan, hingga pengembangan promosi digital.
Adapun tim penhabdian masyarakat dipimpin Triyono dari Undip, dengan anggota Dr Fuad Muhammad, Yanuar Yoga Prasetyawan dari Undip, serta Dr Mastur dari Unwahas. Melalui pendekatan Participatory Action Research (PAR), tim melibatkan masyarakat dalam mengenali persoalan, merancang solusi, hingga menjalankan kegiatan. Dengan cara ini, program tidak hanya berfokus pada pemberian bantuan, tetapi juga membangun kemampuan masyarakat agar dapat mengelola potensi desanya secara mandiri dan berkelanjutan.
Dua mitra utama yang terlibat dalam program ini adalah Paguyuban Seni Barongan Putro Setyo Budoyo dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Tawang Laut sebagai pengelola Pantai Moris.
Mengurangi Biaya, Meningkatkan Pendapatan Seniman Barongan
Bagi kelompok seni tradisional, menjaga kesenian tetap hidup bukan perkara mudah. Selain membutuhkan keterampilan dan regenerasi seniman, kelompok seni juga harus menghadapi persoalan biaya operasional.
Kondisi tersebut dialami Paguyuban Seni Barongan Putro Setyo Budoyo. Berada di kawasan pesisir, kelompok ini menghadapi masalah kerusakan instrumen gamelan akibat paparan udara laut yang mempercepat korosi atau karat. "Selama pengamatan kami di lapangan, persoalan lainnya adalah keterbatasan kepemilikan alat musik dan kostum pertunjukan. Selama ini, kebutuhan tersebut mengharuskan kelompok menyewa perlengkapan dari pihak lain," ungkap Triyono.
Biaya sewa bahkan menyerap sekitar 40–50 persen dari total pendapatan pertunjukan. Besarnya pengeluaran tersebut membuat hasil kerja para seniman belum dapat dinikmati secara optimal.
Untuk mengatasi persoalan itu, tim pengabdian masyarakat memberikan dukungan teknologi tepat guna berupa seperangkat instrumen gamelan yang dirancang lebih tahan terhadap kondisi lingkungan pesisir.
Instrumen tersebut menggunakan bilah per untuk bagian balungan, kuningan pada bagian pencon, serta pelat besi yang dilapisi bahan pelindung antikarat. Pemilihan material ini ditujukan untuk mengurangi risiko kerusakan akibat korosi sekaligus mendukung penggunaan alat dalam jangka panjang.
Selain menyediakan instrumen, program ini juga menghadirkan fasilitas penyimpanan gamelan yang lebih aman. Kelompok seni turut mendapatkan inovasi properti pertunjukan berupa kepala Barongan dengan mata lampu LED agar penampilannya lebih menarik.
Pembenahan juga dilakukan pada format pertunjukan. Jika sebelumnya pertunjukan dapat berlangsung dalam rangkaian ritual yang panjang, kini kesenian tersebut dikemas menjadi paket wisata berdurasi sekitar 60–90 menit. "Format ini diharapkan memudahkan penyelenggara acara maupun pengelola destinasi wisata untuk menghadirkan Barongan sebagai atraksi budaya," tambah Triyono di Kendal, Kamis (15/10/2026).
Dengan dukungan perlengkapan sendiri dan durasi pertunjukan yang lebih terukur, kelompok seni memiliki peluang untuk memperluas pasar, mulai dari acara masyarakat hingga kegiatan wisata. Lebih dari itu, upaya ini menjadi bagian dari pelestarian budaya. Kesenian tradisional tidak hanya dipertahankan sebagai warisan leluhur, tetapi juga dikembangkan agar tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan pariwisata.
Pantai Moris Dikembangkan dengan Atraksi dan Fasilitas Pendukung, Pengembangan juga menyasar Pantai Moris yang dikelola Pokdarwis Tawang Laut. Selama ini, kawasan pantai mengandalkan keindahan alam sebagai daya tarik utama. Namun, keterbatasan fasilitas pendukung membuat pengelola belum leluasa menyelenggarakan kegiatan yang dapat menarik lebih banyak pengunjung.
Salah satu kendalanya adalah belum tersedianya perangkat tata suara untuk kegiatan luar ruangan. Akibatnya, penyelenggaraan acara publik harus bergantung pada jasa penyewaan peralatan yang membutuhkan biaya tambahan. Melalui program pemberdayaan ini, pengelola mendapatkan dukungan perangkat sound system outdoor untuk menunjang kegiatan di kawasan pantai.
Tim juga mengembangkan spot foto tematik bertuliskan “I LOVE MORIS” yang dilengkapi lampu sensor cahaya. Kehadiran fasilitas tersebut diharapkan menambah daya tarik kawasan sekaligus memberikan pengalaman berbeda bagi pengunjung. Selain fasilitas foto, program ini merancang sejumlah infrastruktur pendukung, antara lain dek untuk menikmati matahari terbenam, jalur pedestrian, dan dermaga untuk kegiatan menyusuri muara.
Berbagai fasilitas tersebut diarahkan untuk memperkaya aktivitas wisata. Pengunjung tidak hanya datang untuk melihat pantai, tetapi juga memiliki pilihan kegiatan yang dapat dinikmati bersama keluarga maupun kelompok.
Meski demikian, pengembangan wisata pesisir tidak cukup hanya dengan membangun fasilitas dan menghadirkan atraksi. Kelestarian lingkungan tetap menjadi bagian penting dari pengelolaan destinasi. Karena itu, program ini turut mengadakan kegiatan bersih pantai melalui gerakan gotong royong bertajuk “Gugur Gunung” serta penanaman pohon cemara laut.
Kegiatan tersebut mengajak masyarakat untuk terlibat langsung menjaga kebersihan dan lingkungan pesisir. Dengan keterlibatan warga, pengembangan pariwisata diharapkan berjalan seiring dengan upaya menjaga ekosistem pantai.
Sebagai langkah awal untuk menghidupkan ruang publik, kawasan ini juga diuji coba melalui penyelenggaraan acara perintis bertajuk Pasar Budaya. Kegiatan tersebut menjadi ruang pertemuan antara budaya, aktivitas ekonomi masyarakat, dan pariwisata. Konsep ini membuka peluang bagi pelaku usaha lokal untuk memperkenalkan produk mereka kepada pengunjung sekaligus memberi ruang bagi kesenian tradisional untuk tampil di kawasan wisata.
Budaya dan Wisata Disatukan dalam Pengalaman Pengunjung
Konsep experience tourism atau wisata berbasis pengalaman menjadi salah satu pendekatan utama dalam program ini. Dalam konsep tersebut, pengunjung tidak hanya datang untuk melihat objek wisata, tetapi juga memperoleh pengalaman yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat setempat.
Seni Barongan, misalnya, dapat menjadi bagian dari agenda wisata Pantai Moris. Sebaliknya, kawasan pantai dapat menjadi panggung baru bagi kelompok seni untuk tampil dan memperluas jangkauan penonton. Jika dikelola secara konsisten, hubungan tersebut berpotensi menciptakan manfaat ekonomi yang saling mendukung. Kegiatan wisata dapat membuka peluang bagi seniman, pedagang, pelaku kuliner, dan usaha kecil lainnya.
Namun, keberhasilannya tetap bergantung pada pengelolaan yang berkelanjutan. Atraksi perlu dijadwalkan, kualitas pertunjukan dijaga, fasilitas dirawat, dan promosi dilakukan secara rutin. Masyarakat juga perlu memastikan bahwa manfaat ekonomi tidak hanya dinikmati segelintir pihak. Karena itu, penguatan kapasitas organisasi menjadi bagian penting dari program pemberdayaan di Desa Gempolsewu.
Penguatan Organisasi dan Promosi Digital
Selain bantuan peralatan dan pengembangan fasilitas, tim akademisi juga mendorong penguatan kelembagaan kedua mitra. Dukungan tersebut mencakup penyusunan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART), pembuatan dokumen Grand Design Organisasi, serta fasilitasi pendaftaran hak kekayaan intelektual (HKI) untuk seni Barongan.
Bagi kelompok seni, perlindungan kekayaan intelektual penting untuk memperkuat identitas kesenian sekaligus memberikan landasan bagi pengembangan karya dan pemanfaatannya secara lebih terarah.
Sementara itu, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal didukung dalam pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB). Program ini juga mencakup penguatan legalitas kelembagaan melalui penerbitan surat keputusan (SK) resmi dari Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Kendal. Langkah tersebut diharapkan membantu kelompok masyarakat memiliki dasar organisasi yang lebih jelas, sehingga kegiatan dapat dikelola secara tertib dan berkelanjutan.
Di tengah kebiasaan masyarakat mencari informasi melalui internet, promosi digital juga menjadi perhatian. Tim meluncurkan dua portal web dengan domain mandiri, yakni putrosetyobudoyo.com untuk Paguyuban Seni Barongan Putro Setyo Budoyo dan pantaimoris.site untuk promosi Pantai Moris.
Kehadiran situs tersebut membuka saluran informasi yang dapat digunakan untuk memperkenalkan profil kelompok seni, potensi wisata, serta kegiatan yang diselenggarakan di Desa Gempolsewu.
Promosi digital diharapkan membantu masyarakat mengenalkan potensi desa kepada calon pengunjung yang lebih luas. Namun, keberadaan situs perlu diikuti pembaruan informasi, dokumentasi kegiatan, dan pengelolaan konten secara rutin agar benar-benar bermanfaat.
Potensi Desa sebagai Kekuatan Ekonomi
Pengembangan seni Barongan dan Pantai Moris memperlihatkan bahwa potensi desa dapat dikembangkan melalui pendekatan yang saling terhubung. Kebudayaan menyediakan atraksi, alam menjadi ruang pengalaman wisata, sedangkan kelembagaan dan teknologi membantu masyarakat mengelola serta mempromosikannya.
Tantangan berikutnya adalah memastikan berbagai dukungan tersebut terus dimanfaatkan setelah program pendampingan berakhir. Perawatan peralatan, pembagian tugas pengelola, penyusunan agenda kegiatan, serta pencatatan pendapatan dan pengeluaran perlu menjadi bagian dari pengelolaan sehari-hari. "Dampak program sangat bermanfaat seperti berkurangnya biaya sewa perlengkapan, meningkatnya jumlah pertunjukan, bertambahnya kunjungan wisatawan, serta tumbuhnya pendapatan pelaku usaha lokal, " ungkap Carmadi, Kepala Desa Gempolsewu.
Dengan pengelolaan yang konsisten, seni Barongan Putro Setyo Budoyo dan Pantai Moris berpeluang menjadi dua kekuatan yang saling melengkapi dalam pengembangan wisata Desa Gempolsewu. Pada akhirnya, hilirisasi budaya bukan sekadar mengubah kesenian menjadi produk wisata. Lebih dari itu, pendekatan ini berupaya memastikan bahwa budaya tetap hidup, lingkungan tetap terjaga, dan masyarakat setempat memperoleh manfaat nyata dari potensi yang mereka miliki.