Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Jawa Tengah Alfa Narendra. Foto : Ist
SEMARANG, (ERAKINI) - Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Jawa Tengah Alfa Narendra menilai kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax dan Pertamax Green hingga hampir 33 persen sangat memberatkan masyarakat, khususnya pelaku transportasi daring.
"Kenaikan drastis ini memaksa peningkatan biaya operasional yang di luar prediksi para pengemudi taksi dan ojek online," kata Alfa, Jumat (12/6/2026).
Pengamat transportasi dari Universitas Negeri Semarang (Unnes) tersebut melihat kebijakan kenaikan BBM tentunya sangat berdampak pada beban hidup masyarakat pada umumnya, baik dari kelas atas hingga lapisan menengah sudah terbiasa dengan BBM jenis Pertamax ini.
Diantaranya pekerja taksi daring dan angkutan sewa khusus, agar tetap beroperasional untuk menarik penumpang maupun pengguna kendaraan pribadi.
"Yang sangat terpukul dari kenaikan BBM nonsubsidi Pertamax dan Pertamax Green adalah pengguna kendaraan untuk kegiatan taksi online dan ojek online yang spesifikasi mesinnya umumnya dirancang "minum" pertamax, agar kerja mesin menjadi optimal, lebih awet dan emisi kendaraan juga lebih bersih," kata dia.
Namun begitu, kata dia, mereka terpaksa harus menambah biaya operasional lagi dengan kenaikan harganya di luar prediksi sebesar hampir menjadi 33 persen.
"Meski 33 persen ini nyaris sama dengan kenaikan harga minyak mentah," terang dia.
Alfa melanjutkan, langkah pemerintah sampai menaikkan harga BBM jenis nonsubsidi terjadi dalam pekan ini adalah Pertamax dan Pertamax Green dan sebelumnya jenis BBM nonsubsidi lainnya lebih cenderung kebijakan berbau politis. Menurut dia, tekanan terhadap pemerintah makin kuat jika kenaikkan terjadi untuk BBM jenis bersubsidi yang jumlah pemakainya paling banyak.
"Pemerintah sebisa mungkin akan terus menahan harga BBM subsidi, jenis Pertalite ini namun di sisi lain Pertamax yang dinaikkan meski dengan margin cukup besar. Ini saya rasa untuk menahan munculnya gejolak di masyarakat yang lebih besar lagi," imbuhnya.
Narendra pun memprediksi, dengan kebijakan kenaikan BBM Pertamax ini membuat masyarakat terpaksa untuk berpindah ke Pertalite. Sebelumnya pengguna Pertamax atau pertamax Green, meskipun ada konsekuensinya dalam jangka waktu tertentu bisa mempengaruhi kinerja mesin kendaraan mereka.
"Yang penting mereka membayar hari ini yang paling terjangkau, tapi dampaknya ditanggung nanti dengan mengeluarkan biaya lebih untuk servis dan perawatan yang bebannya baru muncul masih dalam waktu lama. Mereka mau tidak mau berpindah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dulu, biar bisa beroperasional dan dapurnya tetap mengebul," kata Alfa.
Dia mengungkapkan, bagi anggota Organda belum berdampak signifikan karena kendaraan operasional menggunakan BBM jenis subsidi Biosolar.
"Yang penting sih tidak langka, dan mudah mendapatkannya di SPBU untuk bisa tetap beroperasional ,"pungkasnya, sebagai Sekretaris Organda Jawa Tengah itu.