Video viral penganiayaan oleh anak bos roti (Foto: Ist)
JAKARTA, (ERAKINI) - Kasus penganiayaan karyawan toko roti di Jakarta Timur terus menjadi sorotan. Kasus penganiayaan yang dilakukan anak bos toko roti di Jakarta Timur ini sempat mandek 2 bulan yang akhirnya viral di media sosial.
Polisi akhirnya menindaklanjuti kasus tersebut dengan melakukan penyidikan dan pendalaman terhadap video yang viral. Pada Sabtu (15/12/2024), polisi akhirnya berhasil meringkus pelaku yang sedang berada di Sukabumi, Jawa Barat.
Menurut pengakuan korban beberapa waktu yang lalu, pada suatu malam itu 2 bulan silam, korban sedang bekerja bersama seorang rekan dalam jadwal shift malam. Situasi yang awalnya tenang berubah menjadi mencekam ketika pelaku, yang datang dari luar, memasuki toko dan duduk di sofa.
Beberapa menit kemudian, seorang pengemudi ojek online tiba membawa makanan yang dipesan oleh pelaku.
“Pelaku kemudian meminta saya untuk mengantarkan makanan tersebut ke kamar pribadinya. Namun, saya menolak karena tugas mengantar makanan bukan bagian dari tanggung jawabnya sebagai kasir,” katanya kepada wartawan belum lama ini.
Selain itu, korban juga telah membuat perjanjian sebelumnya dengan adik pelaku, setelah kejadian serupa yang pernah terjadi di masa lalu.
"Saya tolak karna saya sudah bikin perjanjian oleh adiknya si pelaku bahwa saya ga mau anter makanan si pelaku," ucapnya.
Jauh sebelum itu, pelaku pernah melempar meja ke arah korban sambil melontarkan hinaan seperti "babu" dan "orang miskin," serta merendahkan keluarga korban.
"Saya dikatain babu dan orang miskin dia merendahkan saya dan keluarga saya, dia juga sempat ngomong 'orang miskin kaya lu ga bakal bisa masukin gue ke penjara, gue kebal hukum'," ujar korban menirukan suara pelaku.
Korban menegaskan bahwa penolakan ini juga didasarkan pada trauma dan rasa takut atas perlakuan kasar yang dialaminya sebelumnya.
"Saya sudah pernah bilang kepada adiknya kalau saya tidak mau lagi melayani permintaan pelaku seperti itu, karena itu bukan bagian dari pekerjaan saya," ujar korban.
Setelah penolakan tersebut, pelaku langsung menelepon ibunya, yang merupakan pemilik toko.
Dalam percakapan yang terdengar oleh korban, sang ibu meminta pelaku untuk mengambil makanannya sendiri. Namun, pelaku tetap bersikeras agar makanan tersebut diantarkan oleh korban. Ketika korban kembali menolak, pelaku naik pitam dan mulai melakukan tindakan kekerasan.
Pelaku melemparkan berbagai barang ke arah korban, termasuk patung batu, kursi, meja, dan mesin EDC BCA. Semua barang yang dilempar mengenai tubuh korban, menyebabkan luka memar di beberapa bagian tubuhnya.
"Akhirnya setelah saya tolak berkali-kali ia arah dan melempar saya pakai patung batu, kursi, meja, mesin EDC BCA dilakukan berkali-kali," ujarnya.
Setelah rentetan kekerasan tersebut, ayah pelaku sempat menarik korban keluar dan memintanya untuk pulang. Namun, korban yang ingin mengambil tas dan ponselnya kembali mengalami serangan lanjutan.
Pelaku melemparkan kursi berkali-kali ke arah korban hingga akhirnya korban terpojok di ruangan yang dipenuhi oven dan mesin pembuat roti. Puncak dari serangan brutal ini terjadi ketika pelaku melemparkan loyang ke arah kepala korban, yang mengakibatkan luka sobek parah hingga berdarah.
"Setelah kepala saya berdarah, dia langsung kabur, baru saya bisa lari keluar toko," kata korban.
Korban melarikan diri dari lokasi kejadian dalam kondisi tubuh penuh luka dan memar. Ia mengalami luka sobek di kepala bagian kiri, yang kemudian membutuhkan penanganan medis.
"Saya ingin menegaskan bahwa melayani pelaku, mengantar makanan, atau mengambilkan air bukanlah bagian dari tugas saya. Posisi saya di toko ini adalah sebagai kasir," ujar korban