Densus 88 Ungkap Gejala Anak-Anak Mulai Terpapar Paham Radikal Teror
Eka Setiawan
SEMARANG, (ERAKINI) – Detasemen Khusus (Densus) 88/Antiteror mengungkap gejala anak-anak mulai terpapar paham radikal teror. Densus menyebut, setidaknya 11 tahun terakhir, kelompok radikal teror macam ISIS terus aktif menyebarkan propaganda dengan tujuan merekrut anggotanya.
Ada perubahan tren yang terjadi: dari menyasar orang dewasa beralih ke anak-anak. Media sosial digunakan kelompok itu sebagai sarana efektif perekrutan. Menyusup ke ruang-ruang privat anak-anak yang aktif bermedsos, tanpa punya benteng literasi kuat dan lemah pengawasan orangtua.
“Kalau dulu menyasar dewasa, kita lebih mudah menderadnya (deradikalisasi), sekarang tren berubah menyasar anak-anak, ini penanganannya kompleks,” kata Kepala Unit Idensos Satgaswil Jateng Densus 88/AT Kompol Ghofar ketika berdialog dengan Ketua Tim Penggerak PKK Jateng Ning Nawal Arafah Yasin di Kota Semarang, Senin (8/9/2025).
Densus mengungkap, setidaknya ada 4 tahapan proses doktrinasi via medsos. Mulai dari penyebaran propaganda, pemetaan, pendekatan dan perekrutan hingga pembinaan dan pengendalian.
Media elektronik yang digunakan mulai dari komputer desktop, e book, ponsel, laptop hingga tablet yang terkoneksi medsos dan internet aktif.
Perwira Densus 88/AT lainnya AKP Yusuf menambahkan, perkembangan teknologi yang tidak bisa terelakkan telah mentransformasi pola komunikasi jaringan kelompok radikal teror.
“Yang dulunya analog, menjadi komunikasi melalui media sosial yang lebih luas dan mudah dalam penyebaran paham mereka. Termasuk kaderiasasi kepada anak-anak yang dianggap rentan dan mudah untuk didoktrin paham-paham tersebut,” lanjutnya.
Dia mengungkap adanya gejala-gejala anak mulai terpapar radikalisme di media sosial. Tahapan pertama; anak mulai membicarakan ketidakadilan yang tidak pada tempatnya. Kedua, mulai timbul semangat dan membicarakan membalas ketidakadilan dengan tindakan tak semestinya.
Ketiga, anak mulai membenci kepada yang tidak sepaham dengannya. Keempat, anak mulai mengeksklusifkan diri dan cenderung ingin menyendiri.
“Tahapan kelima atau terakhir adalah anak mulai berkata kasar, melakukan kekerasan dan terburuknya melakukan aksi teror,” jelas Yusuf.


















