Ketua TP PKK Jateng Ning Nawal Arafah Yasin (empat dari kiri) usai beraudiensi dengan Tim Densus 88 dan Kreasi Prasasti Perdamaian di kediamannya, Kota Semarang, Senin (8/9/2025). Foto: Dok. Pemprov Jateng.
SEMARANG, (ERAKINI) – Tim SatgasWilayah Jawa TengahDetasemen Khusus (Densus) 88/Antiteror menyambangi kediaman Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Jawa Tengah Nawal Arafah Yasin alias Ning Nawal di Kota Semarang, Senin (8/9/2025).
Tim Densus tak sendirian, namun mengajak serta perwakilan dari ruangobrol.id (Kreasi Prasasti Perdamaian). Mereka ingin mengajak kolaborasi dengan PKK di Jateng menyikapi kondisi akhir-akhir ini di mana banyak anak-anak yang tergelincir masuk ke kelompok radikal teror karena media sosial.
Ning Nawal dipandang sebagai sosok yang tepat, sebab selain jadi Ketua TP PKK Jateng, istri dari Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen itu juga dipercaya sebagai Bunda Forum Anak Jawa Tengah.
Kepala Unit Identifikasi dan Sosialisasi (Idensos) Satgaswil Jateng Densus 88/AT Kompol Ghofar mengemukakan kelompok radikal teror di Indonesia, tak terkecuali di Jateng menyebarkan propagandanya lewat media sosial dengan sasaran anak-anak. Salah satunya kelompok ISIS atau di Indonesia ada kelompok pengusungnya yakni Jamaah Anshorut Daulah (JAD).
“Ketika menyasar pelaku dewasa, kami lebih mudah melakukan deradikalisasinya, nah sekarang mereka (kelompok teror) masuk ke anak-anak, bergeser menyasar anak-anak, strategi mereka seperti itu,” kata Ghofar.
Dia mencontohkan beberapa kejadian di Jateng. Misalnya di Brebes, ada ideolog ISIS yang menyebarkan propagandanya lewat media sosial, kemudian ditangkap. Sekilas, aktivitas offlinenya tidak masalah, namun di media sosial, gencar sekali menyebarkan bahkan merekrut anggota baru.
Pada kasus anak terjadi di salah satu wilayah di Jawa Tengah, di mana anak kelas 2 SMP bergabung kelompok ISIS via media sosial. Dia secara aktif menyebarkan propaganda ISIS.
“Di sekolah, dia jadi korban bullying, kami pelan-pelan menanganinya melibatkan stakeholder yang ada,” lanjut dia.
Tim Densus lainnya yang datang, AKP Yusuf, menjelaskan proses doktrinasi kelompok radikal teror di media sosial dilakukan bertahap. Pertama; penyebaran propaganda, kemudian pemetaan yakni memetakan reaksi atas propaganda yang disebarkan di media sosial. Tahap berikutnya pendekatan dan perekrutan. Di tahap ini kelompok itu mulai melakukan pendekatan personal dan mulai menanamkan doktrin.
Tahap selanjutnya adalah pembinaan dan pengendalian. “Pada tahap ini mereka mulai mengikat dengan baiat dan doktrin-doktrin keras untuk mengarahakn dan mengendalikan melakkan tindakan kekerasan sampai pada tindakan teror,” tambah Yusuf.
Tren perekrutan lewat media sosial ini, sebut Yusuf, terjadi mulai sekira tahun 2014 di mana kelompok ISIS mendeklarasikan diri. Hal itu berlanjut sampai sekarang. Otoritas keamanan berusaha membendung, namun kewalahan, sebab terjadi makin masif.
Dia berharap, kolaborasi dilakukan salah satunya untuk memberikan literasi digital bagi ibu-ibu PKK untuk kemudian bisa lebih tanggap dengan aktivitas media sosial anak-anak mereka. Termasuk berkolaborasi dengan ruangobrol.id untuk menyebarkan konten-konten kontra-narasi untuk selanjutnya dipublikasi masif di media sosial.
“Sebab algoritma media sosial bekerja seperti itu,” kata dia.
Parenting Digital
Ning Nawal menyambut baik rencana kolaborasi ini. Pada konteks PKK Jateng, diakuinya belum ada yang secara khusus membahas materi tentang bahaya radikalisme terorisme.
“Di Jateng itu kan isu teror kental sekali, ini (pencegahan dan edukasi) jadi satu hal yang penting dilakukan. Parenting di era digital,” kata Ning Nawal yang juga alumni Bilad Al Sham University di Damaskus, Suriah.
Dia membuka diri dengan senang hati berkolaborasi untuk sama-sama melakukan pencegahan agar anak-anak tak tergelincir pengaruh buruk media sosial. Tak hanya konteks terorisme, tetapi juga hal lain seperti judi online hingga penyalahgunaan narkoba.
Selain mengajak Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Jateng, dia juga akan menggandeng dinas terkait di antaranya; Dinas Arsip dan Perpustakaan, Dinas Pendidikan hingga Dinas Kominfo. Semuanya akan berkolaborasi termasuk dengan PKK Jateng yang jumlahnya sekira 7000 kelompok untuk bersama-sama melakukan kegiatan pencegahan itu.
“Kami berharap ada cara-cara kreatif untuk mengedukasi, mengkampanyekan, seperti menggunakan media ataupun film dokumenter, supaya mudah dipahami,” jelas Nawal.
Perwakilan Ruangobrol.id/KPP Margi Ernawati mengatakan bersama Densus 88 telah menjalin kerjasama pada konteks pencegahan. Tak terkecuali pula di Kota Semarang, seperti memutar film dokumenter karya KPP untuk edukasi pencegahan radikal teror di kalangan pelajar.
“Kami ingin menghadirkan semangat kolaborasi untuk bersama-sama melakukan pencegahan, sudah waktunya semua ambil bagian, siapa mengambil peran apa, bersama-sama. Termasuk juga menggunakan PKK, karena peran ibu penting sekali untuk mengawasi dan mendampingi tumbuh kembang anak-anaknya,” jelasnya.