Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang (Unpam) menggagas gerakan literasi digital religius lewat pelatihan 'Tata Kelola Media Sosial yang Profesional dan Berdampak Sosial'. (Foto: Prodi Ilmu Komunikasi Unpam)
TANGERANG SELATAN, (ERAKINI) - Di tengah derasnya arus digitalisasi yang mengubah cara masyarakat berinteraksi dan berkomunikasi, kemampuan mengelola media sosial secara bijak dan profesional kini menjadi kebutuhan mendesak, termasuk bagi lembaga keagamaan. Menyadari hal tersebut, tim dosen Program Studi Ilmu KomunikasiUniversitas Pamulang (Unpam) menggelar kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) bertajuk ‘ Media Sosial yang Profesional dan Berdampak Sosial’.
Kegiatan ini merupakan bentuk nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam aspek pengabdian kepada masyarakat. Tujuan utamanya ialah membekali para pengurus masjid dan masyarakat sekitar agar mampu mengoptimalkan media sosial sebagai sarana dakwah digital, komunikasi publik, dan pemberdayaan sosial.
DosenIlmu Komunikasi UNPAM Amalia Azmi Sitoru dalam sambutannya menegaskan pentingnya transformasi digital di lingkungan keagamaan. Ia menilai bahwa masjid di era modern tak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai pusat informasi, edukasi, dan penyebaran nilai sosial melalui media digital.
“Masjid dapat menjadi sumber inspirasi dan edukasi di dunia maya. Dengan pengelolaan media sosial yang profesional, pesan-pesan dakwah dan kegiatan sosial bisa tersebar lebih luas dan memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat,” ujar Azmi.
Sementara itu, DosenIlmu Komunikasi Muhyiddin Fanda Setiawan sebagai pemateri memberikan sosialisasi dan pelatihan langsung tentang pengelolaan media sosial yang efektif dan etis. Adapun materi yang disampaikan mencakup berbagai aspek praktis, seperti strategi branding lembaga keagamaan di media digital, manajemen konten, teknik pembuatan visual menarik, hingga etika komunikasi dalam ruang digital.
Dalam paparannya, Fanda menekankan bahwa pengelolaan media sosial bukan sekadar soal teknologi, tetapi juga soal tanggung jawab moral dan sosial. “Media sosial adalah ruang dakwah modern. Tantangannya bukan hanya bagaimana kita hadir di sana, tetapi bagaimana kita bisa menghadirkan nilai-nilai kebaikan dan kemanusiaan dalam setiap konten yang kita sebarkan,” jelasnya.
Kegiatan berlangsung interaktif dan disambut antusias oleh para peserta. Pengurus Masjid Jami Al-Barokah serta para jamaah aktif berdiskusi dan berbagi pengalaman seputar tantangan yang mereka hadapi dalam mengelola akun media sosial masjid.
Beberapa peserta bahkan langsung mempraktikkan pembuatan konten sederhana menggunakan ponsel dan aplikasi yang diperkenalkan selama sesi pelatihan. Selain meningkatkan keterampilan digital, kegiatan ini juga menumbuhkan kesadaran akan pentingnya etika bermedia sosial di kalangan pengurus masjid.
Dengan pemahaman yang lebih baik, para peserta diharapkan mampu menjaga kredibilitas dan kepercayaan publik melalui penyampaian informasi yang benar, santun, dan menginspirasi. Di akhir kegiatan, tim dosenIlmu Komunikasi berharap pelatihan ini dapat menjadi pemicu lahirnya gerakan literasi digital religius di tingkat komunitas. Masjid diharapkan bisa berperan sebagai pelopor dalam menyebarkan nilai-nilai positif dan memperkuat jaringan sosial di dunia maya, tanpa kehilangan esensi spiritual dan nilai-nilai kemanusiaan.
“Kami berharap Masjid Jami Al-Barokah menjadi contoh bagi masjid-masjid lain dalam mengelola media sosial secara profesional, kreatif, dan berdampak sosial,” katanya.
Kegiatan ini menegaskan peran strategis akademisi, khususnya dari bidang Ilmu Komunikasi, dalam mendukung masyarakat agar mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi komunikasi sekaligus memanfaatkannya untuk kepentingan sosial dan keagamaan. Acara tersebut telah digelar di Masjid Jami Al-Barokah, Tangerang Selatan, pada 15–17 Oktober 2025.