Harga minyak langsung turun di bawah USD100 pada awal perdagangan Asia, Rabu (8/4/2026), setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan kesepakatan gencatan senjata dengan Iran. Foto: Ilustrasi
JAKARTA, (ERAKINI) –Harga minyak langsung turun di bawah USD100 pada awal perdagangan Asia, Rabu (8/4/2026), setelah Presiden ASDonald Trump mengumumkan kesepakatan gencatan senjata bersyarat selama dua pekan dengan Iran.
Dikutip dari situs energi terkemuka, Oil Price, minyak WTI merosot 13,96% menjadi USD97,18, sementara Brent Crude turun ke USD95,05 atau melemah 13,01%.
Aksi jual besar-besaran ini terjadi setelah Trump berkomitmen menghentikan operasi militer terhadap Iran selama dua minggu, dengan syarat Teheran segera memulihkan jalur pelayaran aman melalui Selat Hormuz.
“Ini akan menjadi gencatan senjata dua arah!” kata Trump di media sosialnya, menandai perubahan tajam dari pernyataannya sebelumnya yang memperingatkan bahwa “sebuah peradaban akan mati malam ini” jika Iran tidak memenuhi tuntutan AS.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, mengonfirmasi bahwa Teheran akan menghentikan serangan dengan syarat serangan terhadap Iran juga dihentikan dan lalu lintas di selat tersebut dikoordinasikan oleh pasukan Iran.
Meski ada terobosan, ketegangan di kawasan masih tinggi, dengan sejumlah negara Teluk melaporkan peluncuran rudal, aktivitas drone, atau mengeluarkan peringatan pertahanan sipil.
Walau harga minyak telah turun di bawah USD100, levelnya masih relatif tinggi setelah sempat melonjak tajam pada Maret. Terlepas dari keberhasilan gencatan senjata ini, risiko geopolitik terkait Selat Hormuz diperkirakan tetap tinggi dalam waktu dekat, terutama karena berada di bawah kendali Iran.
Trump juga mengindikasikan bahwa negosiasi menuju kesepakatan yang lebih permanen mungkin sedang berlangsung, dengan menyebut proposal 10 poin dari Iran sebagai “dasar yang dapat dijalankan” untuk perdamaian jangka panjang.
Perdana Menteri Pakistan mengundang kedua pihak ke Islamabad pada Jumat untuk merundingkan kesepakatan final dan menyelesaikan seluruh sengketa.
Untuk saat ini, pasar minyak sedikit bernapas lega, namun volatilitas diperkirakan tetap tinggi karena para pelaku pasar terus memantau perkembangan di kawasan. Faktor paling krusial yang akan diperhatikan adalah jumlah kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz di bawah kesepakatan baru ini.