Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara mendadak membatalkan serangan militer besar-besaran terhadap Iran. Foto: Instagram/@realdonaldtrump
JAKARTA, (ERAKINI) – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara mendadak membatalkan serangan militer besar-besaran terhadap Iran. Serangan ditunda selama dua pekan sambil menunggu kesediaan Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Donald Trump sebelumnya mengancam bahwa seluruh peradaban Iran akan musnah pada Selasa (7/4) malam waktu AS, atau Rabu (8/4) dini hari, jika Teheran tidak memenuhi tuntutannya.
Pada Selasa malam, hanya beberapa jam sebelum serangan dijadwalkan berlangsung, Trump melalui platform Truth Social mengumumkan bahwa ia resmi membatalkan rencana tersebut.
Ia menyebut Pakistan berperan sebagai mediator dalam kesepakatan ini. Namun, Trumps menegaskan bahwa keputusan tersebut disertai syarat, yakni Iran harus membuka kembali Selat Hormuz.
“Berdasarkan percakapan dengan Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan Field Marshal Asim Munir dari Pakistan, yang meminta saya untuk menahan kekuatan destruktif yang akan dikirim malam ini ke Iran, dan dengan syarat Republik Islam Iran menyetujui PEMBUKAAN Selat Hormuz secara LENGKAP, SEGERA, dan AMAN, saya setuju untuk menangguhkan pemboman dan serangan terhadap Iran selama dua minggu,” tulis Trump, dilansir Al Jazeera.
Pesan tersebut diunggah pada pukul 18.32 waktu Timur AS (22.00 GMT), kurang dari satu setengah jam sebelum tenggat serangan yang ditetapkan Trump pada pukul 20.00 (00.00 GMT).
Sepanjang hari, muncul spekulasi bahwa Trump kemungkinan akan memperpanjang tenggat waktu, sebagaimana telah beberapa kali ia lakukan dalam beberapa pekan terakhir.
Namun, ketegangan meningkat tajam pada Selasa seiring mendekatnya batas waktu, terutama setelah Trump mengunggah pesan bernada ancaman pada pagi hari.
“Seluruh peradaban akan mati malam ini, dan tidak akan pernah kembali lagi,” tulis Trump saat itu. “Saya tidak ingin hal itu terjadi, tetapi kemungkinan besar akan terjadi.”
Ia juga menyebut tenggat waktu malam itu sebagai salah satu momen terpenting dalam sejarah panjang dan kompleks dunia.
Meski demikian, masih belum jelas sejauh mana Trump benar-benar akan menahan rencana ofensif militernya secara menyeluruh.
Sebelumnya, Trump sempat mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik, jembatan, dan infrastruktur sipil lainnya, sebuah langkah yang menurut banyak pakar hukum berpotensi dikategorikan sebagai kejahatan perang.
Dalam pernyataannya pada Selasa malam, Trump kembali mengklaim kemenangan atas Iran dan menyebut bahwa Teheran telah mengajukan proposal gencatan senjata yang dinilai layak. “Ini akan menjadi gencatan senjata dua arah,” tulis Trump.
Trump menjelaskan bahwa dua minggu ke depan akan digunakan untuk merampungkan kesepakatan dengan Iran. Ia juga menyampaikan optimisme bahwa perbedaan yang ada sebelumnya telah terselesaikan.
“Hampir semua poin perbedaan di masa lalu telah disepakati antara Amerika Serikat dan Iran,” kata Trump.