JAKARTA, (ERAKINI) — Eskalasi perang di Timur Tengah yang semakin memanas mengguncang pasar keuangan global, termasuk Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup anjlok 2,65 persen pada perdagangan Senin (2/3/2026).
IHSG ditutup turun 218,65 poin (2,65 persen) ke posisi 8.016,83. Indeks LQ45 yang berisi saham-saham unggulan juga terkoreksi 2,62 persen ke level 812,49. Investor memilih melepas aset berisiko dan beralih ke instrumen safe haven, seperti emas dan obligasi pemerintah.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim mengatakan, serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran memicu kekhawatiran perang terbuka yang lebih luas di kawasan, sehingga meningkatkan tekanan jual di pasar saham global.
“Serangan AS dan Israel terhadap Iran memicu perang terbuka dan membuat investor global cenderung menghindari aset-aset berisiko,” ujar Ratna dalam kajiannya di Jakarta.
Selain sentimen geopolitik, lonjakan harga minyak mentah turut membebani pasar. Kenaikan harga energi dinilai berpotensi memicu tekanan inflasi global, yang pada akhirnya bisa mendorong bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Meski demikian, pelemahan IHSG sedikit tertahan oleh penguatan saham-saham sektor energi dan tambang emas yang diuntungkan dari reli harga komoditas.
Dari dalam negeri, inflasi Indonesia tercatat naik 0,68 persen secara bulanan (mtm) pada Februari 2026, berbalik dari deflasi 0,15 persen pada Januari 2026. Secara tahunan, inflasi melonjak menjadi 4,76 persen (yoy), tertinggi sejak Maret 2023.
Sementara itu, surplus neraca perdagangan menyusut menjadi 0,95 miliar dolar AS pada Januari 2026 dari 3,49 miliar dolar AS pada periode yang sama tahun sebelumnya, dipicu lonjakan impor sebesar 18,21 persen (yoy) yang melampaui pertumbuhan ekspor 3,39 persen (yoy).
Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak di zona merah sejak pembukaan hingga penutupan. Dari 11 sektor IDX-IC, hanya sektor energi yang mencatat penguatan 1,70 persen, sementara sektor barang konsumen nonprimer memimpin pelemahan dengan penurunan 7,41 persen.
Total frekuensi perdagangan mencapai 3,65 juta kali transaksi dengan nilai Rp29,83 triliun. Sebanyak 671 saham terkoreksi, jauh lebih banyak dibandingkan 108 saham yang menguat.
Tekanan juga terlihat di bursa Asia, di mana mayoritas indeks utama ditutup melemah di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan kekhawatiran gangguan pasokan energi global.