Search

Selat Hormuz Kembali Dibuka, namun Trump Tetap Berlakukan Blokade Demi Tekuk Iran

WASHINGTON, (ERAKINI) - Ketegangan geopolitik kembali memasuki babak rumit. Meski Iran mengumumkan pembukaan penuh jalur strategis Selat Hormuz, Amerika Serikat justru memilih mempertahankan tekanan dengan tetap memberlakukan blokade terhadap kapal dan pelabuhan Iran.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen distribusi minyak dunia itu kini kembali aman untuk pelayaran komersial. Pembukaan ini terjadi seiring meredanya ketegangan setelah gencatan senjata 10 hari antara Israel dan kelompok Hizbullah yang didukung Teheran.

Namun, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan respons yang berlapis. Awalnya ia menyambut baik kabar tersebut, menyebut selat itu “sepenuhnya terbuka dan siap dilalui.” Tetapi tak lama kemudian, ia menegaskan bahwa blokade militer AS tetap berlaku.

Blokade tersebut, menurut Trump, akan terus dijalankan “SAMPAI TRANSAKSI KITA DENGAN IRAN SELESAI 100%,” mengisyaratkan bahwa tekanan ini merupakan bagian dari strategi negosiasi, khususnya terkait program nuklir Iran.

Langkah ini memperlihatkan bahwa pembukaan Selat Hormuz belum cukup untuk meredakan ketegangan. Sebelumnya, AS memberlakukan blokade sebagai respons atas pembatasan akses selat oleh Iran di tengah konflik Lebanon, yang oleh Teheran disebut sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata yang dimediasi Pakistan.

Di tengah dinamika tersebut, pasar energi mulai merespons. Harga minyak dilaporkan menurun, dipicu harapan akan tercapainya kesepakatan. International Energy Agency sebelumnya juga memperingatkan potensi krisis energi global jika jalur tersebut tetap tertutup.

Meski ada sinyal positif, pembicaraan langsung antara Washington dan Teheran belum menghasilkan keputusan final. Perbedaan tajam masih terjadi, terutama terkait program nuklir Iran dan sejumlah isu strategis lainnya.

Trump juga membantah adanya rencana pertukaran dana besar dalam negosiasi tersebut. Menanggapi laporan yang menyebut kemungkinan kesepakatan senilai miliaran dolar, ia menegaskan:

“AS akan mendapatkan semua ‘Debu’ Nuklir, yang dihasilkan oleh pesawat pembom B2 kita yang hebat - Tidak ada uang yang akan berpindah tangan dalam bentuk apa pun.”

Di sisi lain, upaya diplomasi terus berjalan. Perwakilan militer Pakistan melakukan pertemuan dengan pimpinan parlemen Iran untuk mendorong perpanjangan gencatan senjata yang telah menghentikan konflik selama hampir tujuh minggu.

Sejumlah pejabat regional bahkan menyebut telah ada “kesepakatan prinsip” antara AS dan Iran untuk memperpanjang masa tenang demi membuka ruang negosiasi lebih lanjut. Fokus pembahasan mencakup tiga isu krusial: program nuklir Iran, status Selat Hormuz, serta kompensasi akibat perang.

Trump sendiri memberi sinyal terbuka terkait kemungkinan perpanjangan gencatan senjata. “Jika kita hampir mencapai kesepakatan, akankah saya memperpanjangnya? Ya, saya akan melakukannya,” ujarnya kepada wartawan.