Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa saat mendatangi Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC)i, Jakarta, Senin (13/10). Foto: Dok Kemenkeu
JAKARTA, (ERAKINI) – Menteri Keuangan (Menkeu) kaget mendapat banyak aduan soal kinerja pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Purbawa pun memastikan tidak akan mentolerir prilaku pegawainya itu.
Prilaku pegawai Bea Cukai itu diadukan masyarakat melalui kanal layanan WhatsApp “Lapor Pak Purbaya” yang baru diluncurkan pada Rabu (15/10/2025). Purbaya telah menerima 15.933 aduan masyarakat melalui kanal tersebut. Dari jumlah tersebut, sebagian besar laporan berkaitan dengan kinerja Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.
“Total ada 15.933 pesan WhatsApp yang masuk. Sebanyak 2.459 di antaranya berisi ucapan selamat dan apresiasi. Sisanya, 13.285 laporan sedang diverifikasi, dan ada 10 kasus yang segera kami tindaklanjuti,” kata Purbaya di Jakarta, Jumat (17/10/2025), dikutip dari Antara.
Kata Purbaya, sebagian besar aduan menyoroti perilaku pegawai Bea Cukai yang dinilai tidak mencerminkan integritas aparatur negara. Salah satu laporan yang dibacakan Purbaya datang dari seorang wiraswasta yang merasa risih melihat sekelompok petugas Bea Cukai nongkrong setiap hari di kedai kopi Starbucks saat jam kerja sambil membicarakan urusan bisnis pribadi.
“Yang dibicarakan selalu soal aset, kiriman mobil, dan jual-beli. Saya risih melihat mereka dengan seragam Bea Cukai berkumpul dan ngobrol keras-keras setiap hari,” demikian isi laporan yang dibacakan Purbaya.
Menanggapi laporan itu, Purbaya menegaskan tidak akan menolerir perilaku semacam itu. Ia berjanji memberikan sanksi tegas bagi oknum yang terbukti melanggar.
"Jadi saya baru tahu, walaupun kita sudah menggebrak-gebrak, masih di bawah seperti ini. Artinya, mereka enggak peduli, dianggapnya saya main-main. Hari Senin depan, kalau ada yang ketemu begini lagi, saya akan pecat,” tegasnya.
Selain perilaku pegawai, banyak aduan masyarakat yang menyoroti lemahnya pengawasan terhadap peredaran barang ilegal, seperti rokok tanpa cukai di Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau. Dalam laporan tersebut, warga menilai aparat Bea Cukai setempat lebih sering menindak warung kecil dibanding membasmi distributor besar.
"Mereka (petugas) Bea Cukai seperti tutup mata dan telinga. Padahal, harusnya distributor besar ini yang dibasmi, bukan warung-warung kecil yang mereka sebenarnya hanya sekadar menyambung hidup, walaupun itu salah. Semoga Bapak dapat menindaklanjuti laporan ini karena ini sudah seperti pembiaran oleh Bea Cukai. Cukong-cukong distributor ini masih tetap beroperasi sampai detik ini," kata Purbaya saat membacakan laporan lainnya.
Purbaya memastikan laporan-laporan yang masuk akan segera ditindaklanjuti. Kementerian Keuangan, katanya, telah membentuk tim khusus yang terdiri atas staf ahli Direktorat Jenderal Bea dan Cukai serta Direktorat Jenderal Pajak untuk menelusuri laporan tersebut.
“Mereka tahu siapa saja oknum Bea Cukai dan siapa cukong-cukongnya di tiap daerah. Semua akan kami daftar dan proses bila terbukti terlibat,” tegasnya.
Lebih lanjut, Menkeu menegaskan bahwa pembenahan tidak hanya akan dilakukan pada individu, tetapi juga pada budaya organisasi di seluruh jajaran Kementerian Keuangan.
Menurutnya, kanal “Lapor Pak Purbaya” menjadi sarana penting dalam memperkuat pengawasan publik dan mempercepat reformasi birokrasi.
“Masukan masyarakat ini sangat berharga. Kami akan tindaklanjuti secara serius agar budaya tata kelola di Bea Cukai dan instansi lain benar-benar berubah,” kata Purbaya.
Layanan “Lapor Pak Purbaya” dibuka untuk menampung keluhan publik terkait pelayanan pajak dan bea cukai. Masyarakat dapat menyampaikan laporan melalui WhatsApp ke nomor 082240406600.
Purbaya sebelumnya mendatangi Kantor Pusat Bea dan Cukai, pada Senin (13/10/2025). Pada kesempatan itu Purbaya menekankan penguatan pengawasan, peningkatan kualitas layanan, dan penegakan integritas sebagai prioritas.
Ia juga mendorong evaluasi kebijakan yang dinilai tidak implementatif di lapangan. Pada sesi dialog, pegawai dari berbagai unit menyampaikan masukan terkait tantangan pengawasan, kebutuhan peralatan, dan pengelolaan penugasan di daerah perbatasan dan wilayah terpencil.
Purbaya merespons dengan meminta inventarisasi isu-isu untuk dibahas lebih lanjut sesuai kewenangan. “Pengawasan sangat penting untuk menjaga integritas (Ditjen) Bea Cukai,” katanya.