Ditunjuknya Letjen Djaka Budhi menjadi Dirjen Bea Cukai ternyata bukan orang pertama dari TNI. Sebelumnya juga sudah pernah Jenderal TNI yang menduduki posisi Dirjen Pajak. Foto: Ilustrasi/X@BeaCukai
JAKARTA, (ERAKINI) - Letjen TNI Djaka Budhi Utama segera menduduki jabatan di Direktur Jenderal (Dirjen) Bea Cukai Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Jenderal Kopassus ini hanya tinggal menunggu pelantikan setelah resmi ditunjuk Presiden Prabowo Subianto.
Ditunjuknya Letjen Djaka Budhi Utama menjadi Dirjen Bea Cukai ternyata bukan orang pertama dari TNI. Sebelumnya juga sudah pernah yang menduduki posisi orang nomor 1 di Ditjen Pajak. Siapa saja mereka? Berikut profil singkatnya.
1. Letjen TNI (Purn) Wahono
Dirangkum Erakini dari berbagai sumber, Kamis (22/5/2025), Wahono merupakan Dirjen Pajak periode 1981-1983. Hanya, Wahono menjabat Dirjen Bea Cukai setelah pensiun dari TNI.
Wahono dikenal sebagai tokoh militer sekaligus politikus penting pada era Orde Baru.
Wahono pernah menjabat sebagai Ketua DPR/MPR RI menjadikannya figur penting pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.
Semasa aktif di militer, Wahono pernah mengemban berbagai jabatan strategis, seperti Penjabat Pangkostrad (1969-1970), Pangdam VIII/Brawijaya (1970-1972), Pangkostrad (1972-1973), Pangkostranas (1973-1974), hingga Deputi KSAD (1974-1977).
Setelah pensiun dari TNI, Wahono sempat diangkat menjadi Duta Besar Indonesia untuk Burma (sekarang Myanmar) dan Nepal pada tahun 1977 hingga 1981. Sekembalinya ke tanah air, Wahono diangkat menjadi Dirjen Bea Cukai tahun 1981. Namun, ia harus melepas jabatan itu setelah dipercaya menjadi Gubernur Jawa Timur pada periode 1983-1988.
Saat menjabat Gubernur Jawa Timur, Wahono dikenal sebagai sosok yang sederhana, disiplin, dan konsisten. Ia menolak tinggal di rumah dinas Gubernur, Wisma Grahadi, dan lebih memilih tempat tinggal pribadi. Usai menyelesaikan tugas di Jawa Timur, Wahono melanjutkan tugas di DPR/MPR. Ia terpilih menjadi Ketua DPR/MPR periode 1992-1997.
Letjen (Purn) Wahono meninggal dunia di Rumah Sakit Pusat Pertamina pada 8 November 2004 di usia 79 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.
2. Brigjen Bambang Soejarto
Brigjen Bambang Soejarto menjabat Dirjen Bea Cukai periode 1983-1985. Penunjukan Soejarto untuk mengisi kekosongan jabatan pimpinan Bea Cukai yang ditinggal Wahono setelah terpilih sebagai Gubernur Jawa Timur.
Majalah Kekaryaan ABRI melaporkan, Menteri Keuangan saat itu, Radius Prawiro, melantik Brigjen TNI Bambang Soejarto menjadi Dirjen Bea Cukai Departemen Keuangan pada 29 Agustus 1983.
"la menggantikan Letjen (Pur) Wahono yang terpilih jadi Gubernur Jawa Timur. Brigjen Bambang Soejarto sebelum itu adalah perwira tinggi Departemen Hankam, pernah jadi Wakil Komandan Pusat Artileri Medan, Wakil Komandan Satuan Tugas Skrining Pusat Kopkamtib dan perwira tinggi Intel Hankam,” tulis dalam laporan Majalah Kekaryaan ABRI (1983), yang dikutip kembali oleh mediakeuangan, Kemenkeu.
Kehadiran Jenderal TNI aktif kala itu dimaksudkan untuk memperbaiki kinerja Bea dan Cukai, terutama dari penyelewengan dan penyelundupan. Perubahan di Bea dan Cukai sangat diharapkan dengan hadirnya Brigjen Bambang Soejarto. Dalam pidato pelantikan, Radius Prawiro menekankan para penyelundup harus diperangi sampai ke akar-akarnya.
Penunjuk Soejarto pun saat itu dipuji banyak pihak. Soejarto dianggap dapat mengubah wajah Bea Cukai ke arah lebih baik. Namun, keinginan itu ternyata tidak berhasil, hingga Presiden Soeharto memilih membekukan Bea Cukai pada 1985.