Harga minyak mentah dunia anjlok pada Selasa (24/6/2025) setelah Israel dan Iran setuju gencatan senjata. Harga minyak mentah Brent turun drastis menjadi USD68 per berel. Foto: Ilustrasi/BBG/Getty Images
Angka ini berada di bawah harga minyak saat Israel meluncurkan serangan ke situs nuklir Iran pada 13 Juni lalu. Penurunan harga ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan bahwa gencatan senjata antara kedua negara telah diberlakukan. Pemerintah Israel kemudian mengonfirmasi bahwa mereka menerima proposal gencatan senjata yang dimediasi oleh Trump dan Qatar.
Perang Israel-Iran yang juga melibatkan AS, sempat menyebabkan fluktuasi tajam pada harga minyak dunia. Harga minyak mentahBrent sempat menyentuh level tertinggi dalam lima bulan terakhir di angka USD81,40 per barel setelah Amerika Serikat membombardir situs nuklir Iran. Namun, kabar mengenai gencatan senjata membuat harga kembali turun.
Harga minyak menjadi perhatian dunia karena dampaknya sangat luas terhadap banyak negara, termasuk Inggris. Kenaikan biaya energi dapat memicu kenaikan harga berbagai barang, seperti yang terjadi setelah invasi Rusia ke Ukraina tiga tahun lalu.
"Jika gencatan senjata benar-benar ditegakkan, investor kemungkinan akan berharap stabilitas harga kembali," ujar Priyanka Sachdeva, analis pasar senior di Phillip Nova, dikutip BBC.
Namun ia mengingatkan bahwa ketegangan tetap tinggi dan ketaatan kedua negara terhadap kesepakatan akan sangat menentukan arah pasar ke depan. Meski harga minyak sempat menurun, ketegangan kembali muncul setelah Israel menuduh Iran melanggar gencatan senjata dengan meluncurkan misil ke wilayahnya. Tuduhan ini dibantah keras oleh Teheran yang menyebut tidak ada serangan dilakukan setelah kesepakatan gencatan senjata diumumkan.
Kinerja pasar saham global turut menguat seiring dengan meredanya ketegangan. Indeks FTSE 100 di Inggris naik 0,4%, CAC-40 di Prancis naik 1,4%, DAX Jerman melonjak 2%, sementara indeks Nikkei Jepang dan Hang Seng Hong Kong masing-masing naik 1,1% dan 2,1%.
Dampak positif juga dirasakan di pasar energi lain. Harga gas grosir di Inggris turun 12,5%, setelah sebelumnya melonjak akibat ketegangan di kawasan Timur Tengah. Qatar yang menjadi salah satu pemasok utama gas alam cair (LNG) global diketahui menyalurkan ekspornya melalui Selat Hormuz.
Sebelumnya, Iran sempat menembakkan misil ke pangkalan militer AS di Qatar sebagai bentuk balasan atas serangan terhadap situs nuklirnya. Ketegangan inilah yang sempat memicu lonjakan tajam harga energi dan memunculkan kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi global, termasuk di sektor transportasi dan konsumsi rumah tangga.
Para analis memperingatkan bahwa jika konflik kembali memanas, pasar minyak dan gas global bisa kembali bergejolak, seperti yang terjadi usai invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 lalu yang berdampak luas terhadap ekonomi dunia.
Sebelum gencatan senjata diumumkan, harga minyak dunia sempat melonjak akibat kekhawatiran global bahwa Iran akan memblokade Selat Hormuz, jalur pelayaran vital untuk pengiriman minyak dan gas dunia.
Mengapa Selat Hormuz sangat penting? Selat Hormuz adalah jalur laut sempit yang terletak antara Iran dan ujung utara Oman, menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab. Pada titik tersempitnya, lebarnya hanya 33 km—setara dengan Selat Inggris.
Sekitar 20% dari minyak dan gas dunia melewati jalur sempit ini setiap harinya, dengan nilai sekitar USD600 miliar, yang berasal dari negara-negara Teluk seperti Irak, Kuwait, Arab Saudi, UEA, Qatar, dan Iran.
Mengapa Harga Minyak Belum Bereaksi Lebih Ekstrem?
Analis dari Goldman Sachs memperkirakan bahwa skenario terburuk bisa menyebabkan aliran minyak melalui Selat Hormuz berkurang separuh selama sebulan dan turun 10% selama 11 bulan berikutnya. Hal ini dapat dapat mendorong harga minyak mentahBrent menyentuh USD110 per barel.
Namun sejauh ini, pelaku pasar percaya risiko Iran benar-benar menutup Selat Hormuz masih terbatas. “Sulit bagi Iran untuk benar-benar menutup Selat Hormuz dalam waktu lama mengingat keberadaan Armada Kelima AL AS di Bahrain,” tulis Helima Croft, Kepala Strategi Komoditas Global di RBC Capital Markets.
Kepala Ekonom di Panmure Liberum, Simon French, juga menyebut skenario tersebut sangat tidak mungkin. Iran mungkin mendapat tekanan dari sekutunya, termasuk China, agar tidak menutup Selat Hormuz. Sebab China merupakan pembeli utama minyak Iran.