Sepatu produk AS yang bahannya dibuat di China (Foto: Ist)
BEIJING, (ERAKINI) - Pengguna TikTok di Amerika Serikat kini dibanjiri video dari influencer asal Tiongkok yang mengajak warga Amerika membeli langsung dari pabrik di Tiongkok untuk menghindari tinggi yang diberlakukan selama pemerintahan .
Dilansir dari The Straits Times pada Rabu (16/4/2025), dalam sejumlah video yang viral di TikTok, para influencer Tiongkok menampilkan pabrik-pabrik yang mengklaim sebagai pemasok merek-merek ternama AS seperti Lululemon dan Nike. Mereka menyebut bahwa produk-produk yang dijual dengan harga tinggi di pasar Amerika sebenarnya diproduksi dengan biaya jauh lebih murah di Tiongkok.
“Kenapa tidak langsung beli dari kami? Harga yang kami tawarkan tidak akan kalian percaya,” ujar seorang kreator konten yang menjual tas mewah dalam salah satu video.
Dalam video lain, akun TikTok @LunaSourcingChina berdiri di depan sebuah pabrik yang diklaim memproduksi celana yoga Lululemon dengan harga hanya US$5 hingga US$6, meskipun produk tersebut dijual di pasar Amerika dengan harga lebih dari US$100.
“Bahan dan pengerjaannya pada dasarnya sama,” ungkap Luna.
Beberapa video bertema serupa telah mengumpulkan jutaan penayangan. Video berjudul “China exposed the truth” yang mengungkap sumber produk Lululemon di Tiongkok, telah ditonton 8,3 juta kali dan mendapat hampir 500 ribu tanda suka hingga 14 April 2025. Video lain bertajuk “How we bypass tariffs” juga meraup hampir satu juta penayangan.
Lonjakan video-video semacam ini muncul di tengah ketegangan perdagangan antara AS dan Tiongkok, terutama setelah kebijakan bea masuk sebesar 145 persen terhadap barang asal Tiongkok. Meski belum jelas bagaimana konsumen bisa menghindari tarif dengan membeli langsung, para kreator tetap gencar mempromosikan alternatif pembelian tanpa perantara.
Di sisi lain, muncul kekhawatiran bahwa maraknya promosi ini dapat memicu ketegangan baru, termasuk kemungkinan pelanggaran perjanjian non-disclosure antara pabrik Tiongkok dan klien internasional mereka.
Dr. Tom Harper, dosen hubungan internasional Tiongkok di University of East London, menyebut bahwa tren konten ini menunjukkan perubahan sikap Tiongkok terhadap AS. “Postingan ini lebih konfrontatif dan mengejek AS ketimbang menggambarkan Tiongkok sebagai ancaman,” katanya.
Ia juga mencatat bahwa video-video tersebut merupakan kelanjutan dari tren citra buatan AI yang menggambarkan warga AS bekerja di pabrik—sebuah sindiran terhadap dampak outsourcing ke Tiongkok.
Bahkan beberapa video berisi kritik langsung terhadap kebijakan perdagangan AS. Salah satunya menyebut bahwa pemerintah dan elite bisnis AS telah mengorbankan masa depan rakyat demi keuntungan dengan memindahkan produksi ke luar negeri.
“Amerika tidak butuh tarif, tapi revolusi,” ujar akun @neil778027 dalam videonya.
Pada 11 April lalu, pemerintah AS mengumumkan pengecualian tarif untuk sejumlah produk Tiongkok seperti elektronik, komputer, dan semikonduktor. Namun, kebijakan tersebut tidak berlaku untuk barang-barang konsumsi seperti pakaian dan aksesori yang banyak dipromosikan dalam video TikTok.
Selain itu, muncul pertanyaan mengenai bagaimana pengaruh kampanye ini terhadap hubungan bisnis jangka panjang antara merek internasional dan pabrik pemasok mereka di Tiongkok.
Cameron Johnson, mitra senior di perusahaan konsultan Tidalwave Solutions, menyebut fenomena ini sebagai bagian dari perubahan mendasar dalam sistem pengadaan barang.
“Kalau dulu orang mengandalkan perantara atau agen, sekarang semua bisa langsung dari pabrik. Ini adalah demokratisasi penuh dalam pengadaan produk,” kata Johnson kepada Bloomberg TV.
TikTok dan perusahaan induknya, ByteDance, belum memberikan pernyataan resmi atas fenomena ini. Sementara itu, aplikasi sosial media Tiongkok lainnya seperti Xiaohongshu juga mulai menarik perhatian pengguna muda Amerika sebagai alternatif di tengah ketidakpastian seputar masa depan TikTok di AS.