JAKARTA, (ERAKINI) – Legenda bulu tangkis sekaligus Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga Taufik Hidayat dikabarkan ditunjuk menjadi komisarisPT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI). Menurut informasi, pengangkatan Taufik Hidayat sudah dilakukan pada Juni lalu.
Dilansir dari berbagai sumber pada Rabu (9/7/2025), Taufik Hidayat dikenal sebagai salah satu atlet tunggal putra terbaik yang pernah dimiliki Tanah Air. Lahir pada 10 Agustus 1981, Taufik menorehkan prestasi gemilang dengan meraih medali emas Olimpiade Athena 2004 dan gelar juara dunia 2005, menjadikannya satu-satunya tunggal putra Indonesia yang sukses menyandingkan dua gelar paling prestisius itu secara berurutan.
Perjalanan Taufik dimulai dari klub SGS Bandung di bawah bimbingan pelatih legendaris Iie Sumirat. Sejak usia 17 tahun, ia sudah menunjukkan bakat luar biasa dengan menjuarai Brunei Terbuka dan menembus semifinal Kejuaraan Asia dan Indonesia Terbuka 1998.
Setahun berselang, ia meraih gelar Indonesia Terbuka pertamanya dan tampil di final All England dan Singapura Terbuka, meski harus kalah dari Peter Gade dan Hariyanto Arbi.
Karier Taufik mencapai puncaknya di tahun 2000 ketika ia menduduki peringkat satu dunia pada usia 19 tahun, usai menjuarai Malaysia Terbuka, Kejuaraan Asia, dan kembali menjadi juara Indonesia Terbuka. Ia juga kembali menjadi finalis All England.
Di panggung Olimpiade, Taufik tampil empat kali. Debutnya di Sydney 2000 berakhir di perempat final. Namun, empat tahun kemudian, ia menebus kegagalan itu dengan merebut emas Olimpiade Athena 2004, menyingkirkan lawan-lawan tangguh seperti Peter Gade, Boonsak Ponsana, hingga mengalahkan Shon Seung-mo di partai puncak. Di tahun yang sama, ia menjuarai Indonesia Terbuka dan Kejuaraan Asia.
Pada Kejuaraan Dunia 2005, Taufik memperlihatkan dominasi dengan mengalahkan Lin Dan dari Tiongkok di final. Kemenangan tersebut mempertegas posisinya sebagai pemain tunggal putra terbaik dunia saat itu.
Prestasi Taufik berlanjut dengan medali emas di Pesta Olahraga Asia 2006 di Doha dan Kejuaraan Asia 2007. Ia juga menyabet emas di SEA Games 2007 di Nakhon Ratchasima. Meski kembali gagal di Olimpiade Beijing 2008 dan London 2012, namanya tetap melegenda, termasuk karena rivalitasnya dengan Lin Dan yang menjadi sorotan media internasional.
Taufik resmi gantung raket pada 12 Juni 2013 usai berlaga di Indonesia Terbuka, turnamen yang enam kali ia juarai: 1999, 2000, 2002, 2003, 2004, dan 2006. Ia dikenang sebagai pemain dengan pukulan smash tercepat, mencapai 305 km/jam di Kejuaraan Dunia 2006, serta backhand smash yang legendaris hingga 206 km/jam.
Pasca pensiun, Taufik aktif di dunia pembinaan atlet muda. Ia mendirikan Taufik Hidayat Arena (THA) pada 2012 di Ciracas, Jakarta Timur, sebagai pusat pelatihan bulu tangkis. Ia juga vokal mengkritik dan memberi masukan bagi perbaikan sektor tunggal putra Indonesia.
Kini, sebagai Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga, Taufik ingin meneruskan kontribusinya untuk kemajuan dunia olahraga Indonesia, baik di dalam maupun luar lapangan.