Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini saat konferensi pers perkembangan inflasi, Senin (5/1/2026). Foto: Tangkapan Layar
JAKARTA, (ERAKINI) – Seluruh provinsi di Indonesia mengalami inflasi atau kenaikan harga pada Desember 2025. Inflasi tertinggi secara nasional terjadi di Aceh dengan kenaikan 3,60 persen secara month to month. Sementara inflasi terendah terjadi di Maluku Utara sebesar 0,05 persen.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa, Badan Pusat Statistik (BPS), Pudji Ismartini, mengatakan lonjakan inflasi pada Desember 2025 dipengaruhi oleh gangguan pasokan serta kenaikan harga pangan.
“Sejumlah provinsi yang terdampak bencana hidrometeorologi, seperti Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, mengalami inflasi setelah sebelumnya mencatat deflasi pada November 2025,” ujar Pudji dalam konferensi pers yang dipantau secara daring, Senin (5/1/2026).
Secara tahunan (year on year), BPS mencatat Indonesia mengalami inflasi sebesar 2,92 persen sepanjang 2025, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 109,92.
“Pada akhir tahun, inflasi year on year dan inflasi tahun kalender akan sama, karena yang dibandingkan adalah dua titik yang sama, yakni IHK Desember 2025 dan IHK Desember 2024,” jelas Pudji.
Secara provinsi, inflasi tahunan tertinggi juga terjadi di Aceh sebesar 6,71 persen dengan IHK 114,40. Sedangkan terendah terjadi di Sulawesi Utara sebesar 1,23 persen dengan IHK 108,60.
Sementara di tingkat kabupaten/kota, inflasi year on year tertinggi terjadi di Kota Gunungsitoli sebesar 10,84 persen dengan IHK 119,24, dan inflasi terendah tercatat di Maumere dan Kabupaten Minahasa Utara, masing-masing sebesar 0,38 persen.
Perkembangan harga berbagai komoditas pada Desember 2025 secara umum menunjukkan kenaikan. Berdasarkan pemantauan BPS di 150 kabupaten/kota, inflasi tahunan (year on year/y-on-y) pada Desember 2025 tercatat sebesar 2,92 persen. Angka tersebut ditunjukkan oleh kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 106,80 pada Desember 2024 menjadi 109,92 pada Desember 2025.
Sementara itu, inflasi bulanan (month to month/m-to-m) pada Desember 2025 sebesar 0,64 persen. Sedangkan inflasi tahun kalender (year to date/y-to-d) tercatat sebesar 2,92 persen.
Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi y-on-y pada Desember 2025 antara lain cabai merah, cabai rawit, beras, ikan segar, daging ayam ras, telur ayam ras, bawang merah, kelapa, kopi bubuk, wortel, minyak goreng, sigaret kretek tangan (SKT), sigaret kretek mesin (SKM), sewa rumah, tarif air minum PAM, bahan bakar rumah tangga, bensin, mobil, biaya akademi/perguruan tinggi, serta emas perhiasan.
Adapun komoditas yang memberikan andil deflasi y-on-y meliputi tomat, bawang putih, jengkol, daging babi, sabun cair atau cuci piring, pengharum dan pelembut cucian, detergen bubuk, tarif kereta api, telepon seluler, serta biaya Sekolah Menengah Atas.
Sementara itu, komoditas utama penyumbang inflasi bulanan (m-to-m) pada Desember 2025 antara lain cabai rawit, daging ayam ras, bawang merah, ikan segar, telur ayam ras, beras, minyak goreng, bawang putih, cabai hijau, sawi putih atau petsai, kangkung, bayam, kelapa, bensin, angkutan udara, angkutan antarkota, serta emas perhiasan. Di sisi lain, cabai merah menjadi komoditas utama penyumbang deflasi m-to-m.
Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi y-on-y Desember 2025 terutama disumbang oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 1,33 persen. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menyusul dengan andil sebesar 0,87 persen.
Kelompok lain yang turut menyumbang inflasi antara lain perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,26 persen; transportasi sebesar 0,15 persen; penyediaan makanan dan minuman atau restoran sebesar 0,15 persen; pendidikan sebesar 0,07 persen; kesehatan sebesar 0,05 persen; pakaian dan alas kaki sebesar 0,03 persen; serta rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,02 persen.
Sementara itu, satu-satunya kelompok pengeluaran yang memberikan andil deflasi y-on-y adalah kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,02 persen.